2.

1547 Kata
Apartemen itu terlalu besar untuk seorang gadis berusia sembilan belas tahun. Begitu besar hingga langkah Kylla menggema pelan di lantai marmer ketika pelayan wanita bernama Mira membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. "Ini rumah... Tuan Ethan," ucap Mira hati-hati, seakan Kylla akan terkejut pada fakta yang sudah ia ketahui. Rumah? Tidak. Ini bukan rumah. Ini hanyalah tempat singgah paksa. Kylla berdiri diam, matanya menyapu interior apartemen yang mewah--dengan jendela besar menghadap langit malam kota, lampu gantung kristal, dan sofa yang terlihat terlalu mahal untuk diduduki. Ia merasa seperti sedang menginjak ruang yang bukan untuknya. "Silakan, Nyonya... kamar Anda di lantai dua," lanjut Mira canggung. Nyonya. Kylla nyaris tersedak pada sebutan itu. Tapi ia tetap mengikuti pelayan itu menaiki tangga spiral berbahan kaca. Kamarnya luas, berwarna krem lembut, lengkap dengan lemari besar dan balkon pribadi. Tapi rasanya kosong. Terlalu sunyi. Terlalu asing. "Jika butuh apa pun, panggil saya saja," kata Mira sebelum menutup pintu. Kylla berdiri di tengah kamar, memeluk dirinya sendiri. Hari pertama sebagai istri orang asing. Dan Ethan Maver Wilson tidak muncul sama sekali. Dua hari berlalu seperti kabut tebal yang menelan waktu. Kylla tidak pernah keluar dari apartemen. Ia hanya bangun, mandi, makan, lalu duduk di sofa besar menonton TV tanpa benar-benar menonton. Sesekali ia memainkan ponselnya, men-scroll tanpa tujuan. Tidak ada suara ketukan pintu. Tidak ada suara langkah pria. Tidak ada sosok Ethan. Seolah apartemen mewah itu bukan rumah suaminya. Seolah Kylla hanya dititipkan di tempat sunyi yang ia sendiri tidak tahu namanya. Hanya Mira--satu-satunya manusia yang ia lihat setiap hari. Pelayan itu baik, sopan, dan terlalu menghormati Kylla hingga membuat gadis itu semakin merasa seperti tamu asing. "Apakah Tuan Ethan sering pulang malam?" tanya Kylla suatu pagi. Mira terkejut mendengar pertanyaan itu. "Ehm... Tuan Ethan memang jarang pulang, Nyonya. Beliau... sibuk." Sibuk. Kata yang terdengar seperti alasan untuk menghindari istri baru. Kylla menatap keluar jendela. Dua hari terkurung di apartemen asing membuatnya sesak. Ia merasa seperti burung kecil yang dilempar ke sangkar emas. Cantik dilihat, tetapi tetap saja... sangkar. Ia menarik napas panjang. Tidak. Ia tidak bisa terus begini. Dia masih punya hidup. Walau kecil, ia butuh udara. "Mira," panggil Kylla sambil mengambil tas kecil. "Aku mau keluar sebentar." Mira tampak panik. "Ke... keluar? Tapi--" "Aku hanya ingin jalan sebentar. Aku bosan di sini." Suara Kylla pelan, tapi tegas. "Aku tidak akan lari." Mira menggigit bibir, jelas khawatir. "Apakah... Nyonya tidak perlu izin dari Tuan Ethan?" Nama itu membuat d**a Kylla menegang sesaat. Tuan Ethan. Pria yang bahkan tidak muncul dua hari setelah pernikahan. Apakah ia harus meminta izin pada seseorang yang bahkan tidak berusaha menemuinya? "Tidak apa-apa," jawab Kylla lembut. "Aku hanya ingin menghirup udara segar." Mira menunduk. "Baiklah, Nyonya. Hati-hati." Kylla tersenyum tipis--senyum pertama dalam beberapa hari. Ia melangkah keluar apartemen, menuju lift. Saat pintu menutup, Kylla menatap pantulan dirinya. Gaun sederhana, wajah pucat, mata yang lelah. Ia ingin merasa hidup kembali. Meski hanya sebentar. Sebab ia tahu... Begitu ia kembali ke apartemen itu, ia kembali menjadi istri tak terlihat dari laki-laki yang tidak pernah datang. Langkah Kylla terasa ringan ketika kakinya menapak trotoar. Angin sore menyapu wajahnya, membawa aroma kota yang selama ini tak ia hirup sejak berada di apartemen itu. Untuk pertama kalinya setelah pernikahan, ia merasa... bebas. Bukan kebebasan besar yang bisa mengubah nasibnya, tetapi cukup untuk membuat dadanya tidak lagi sesak. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti ke mana kakinya ingin melangkah. Suara kendaraan, tawa orang-orang, dan percakapan kecil yang berseliweran di udara terasa menenangkan. Tak ada gaun mahal. Tak ada pelayan. Tak ada sebutan Nyonya. Hanya Kylla--dirinya sendiri. Tak lama, ia tiba di sebuah taman kecil yang ramai. Pepohonan rindang menaungi jalan setapak, sementara di pinggir taman berjajar pedagang kaki lima. Bau gorengan, jajanan rebus, dan saus kacang bercampur menjadi satu, membuat perut Kylla yang sejak pagi hanya diisi makanan mahal tapi hambar, tiba-tiba berbunyi pelan. Matanya berbinar ketika melihat gerobak cilok. Ia melangkah cepat mendekat, senyum kecil terukir di bibirnya. "Bang, ciloknya sepuluh ribu, ya," ucapnya ringan. Pedagang itu tersenyum ramah. "Siap, Dek." Kylla menunggu dengan sabar, memperhatikan tangan cekatan sang abang mengambil cilok, menyiramnya dengan saus kacang dan sambal, lalu memasukkannya ke plastik kecil. Ketika plastik itu berpindah ke tangannya, ada rasa hangat yang merambat--bukan hanya dari ciloknya, tapi dari kenangan sederhana yang tiba-tiba terasa begitu berharga. Ia membawa cilok itu ke sebuah bangku taman yang kosong, lalu duduk santai. Plastik kecil itu ia buka perlahan. Saat gigitan pertama masuk ke mulutnya, Kylla tersenyum lebar. Enak. Sederhana. Nyata. Ia mengunyah pelan sambil menatap anak-anak yang berlarian, pasangan yang duduk berdampingan, dan orang-orang biasa dengan kehidupan biasa. Dunia yang terasa jauh dari apartemen mewah dan pernikahan tanpa cinta. Di bangku taman itu, dengan cilok di tangan dan angin sore yang menyentuh rambutnya, Kylla merasa hidupnya belum sepenuhnya hilang. Setidaknya, masih ada momen kecil seperti ini--momen di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, meski hanya sebentar. Kylla menghabiskan cukup lama di taman itu, hingga langit perlahan berubah jingga dan lampu-lampu taman mulai menyala. Perutnya sudah terisi, pikirannya sedikit lebih ringan. Namun ketika angin sore mulai terasa dingin, ia tahu sudah waktunya kembali. Sebelum pulang ke apartemen, Kylla singgah ke sebuah minimarket di sudut jalan. Begitu pintu kaca terbuka, pendingin ruangan menyambutnya. Ia mendorong keranjang kecil dan mulai berkeliling tanpa rencana--sampai matanya tertuju pada rak camilan. Tangan Kylla bergerak cepat. Keripik pedas. Makaroni pedas level tinggi. Basreng pedas. Semua yang bertuliskan extra hot masuk ke dalam keranjang. Sebagai anak muda yang sangat suka dengan makanan pedas, dia tidak akan melewatkan satupun camilah pedas di depannya. "Harus pedas," gumamnya, seolah sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Ia lalu menuju lorong mie instan. Berbagai rasa ia ambil, namun tangannya selalu berhenti lebih lama di kemasan berwarna merah. Mie goreng pedas. Kuah pedas. Bahkan varian yang membuat tenggorokan panas. Semua masuk keranjang. Terakhir, ia berhenti di depan lemari pendingin minuman. Kylla menatap botol-botol bersoda itu beberapa detik sebelum mengambil minuman favoritnya--yang selalu ia minum setiap kali stres. Ia menatap botol itu sesaat, lalu tersenyum pahit. "Kebiasaan lama," bisiknya. Setelah membayar, Kylla keluar minimarket dengan dua kantong belanja yang cukup berat. Meski lengannya sedikit pegal, hatinya terasa lebih ringan. Setidaknya malam ini ia punya teman--camilan pedas dan mie instan. Ketika pintu apartemen terbuka, suasana terasa berbeda. Seperti ada bau parfum asing saat dia memasuki apartemen. Baunya segar namun cukup maskulin. Lampu ruang tamu sudah menyala. Dan seseorang ada di sana. Kylla berhenti melangkah. Di sofa ruang tamu, Ethan Maver Wilson duduk dengan laptop di pangkuannya. Kemeja hitamnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan yang berotot. Rahangnya mengeras, matanya fokus menatap layar. Wajahnya terlihat sangat serius, seperti dunia di sekelilingnya tidak ada artinya. Ia akhirnya pulang. Kylla menelan ludah. Tanpa suara, ia menutup pintu dan melepas sepatunya. Ia berniat langsung melewati ruang tamu itu, membawa belanjaannya ke kamar tanpa menyapa. Tidak ingin ribut. Tidak ingin bicara. Namun baru beberapa langkah ia melangkah, suara Ethan terdengar. "Darimana?" Nada suaranya datar. Tenang. Dan sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Langkah Kylla terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut--melainkan karena ia akhirnya harus berhadapan dengan pria yang selama ini hanya hadir sebagai bayangan. Ia menggenggam kantong belanja di tangannya erat-erat, lalu mengangkat wajahnya perlahan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Bibirnya terkatup rapat, seakan suaranya tertelan begitu saja. Ia hanya berdiri di sana, menatap sosok pria yang bahkan belum benar-benar menatapnya. Ethan akhirnya menutup laptopnya dengan satu gerakan singkat. Namun tetap, ia tidak berdiri. "Jangan keluar dari apartemen tanpa seizin ku!" ujarnya dingin. Nada itu bukan marah, melainkan perintah--tegas dan tak membuka ruang untuk dibantah. "Kau sudah menjadi istriku," lanjut Ethan tanpa perubahan ekspresi, "dan aku tidak mau ada orang luar yang tahu soal pernikahan ini. Jadi kamu harus meminta izin dulu saat akan keluar." Kata-kata itu menghantam Kylla tanpa ampun. Istri. Izin. Tidak boleh keluar. Kylla menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debar di dadanya. Perlahan, ia mengumpulkan keberanian yang sejak tadi tercecer. "Aku hanya... keluar sebentar," ucapnya akhirnya. Suaranya pelan, tapi jelas. "Aku bosan di apartemen. Aku tidak melakukan hal yang aneh." Ethan baru menoleh. Tatapan gelapnya jatuh tepat ke wajah Kylla. Datar. Menilai. Seolah sedang memastikan apakah gadis di hadapannya akan menjadi masalah atau tidak. "Itu bukan intinya," jawabnya singkat. "Kau sekarang membawa namaku. Sekalipun pernikahan ini hanya kesepakatan, publik tidak boleh mencium apa pun." Kylla mengepalkan jemari di balik kantong plastik. "Lalu aku harus apa?" tanyanya lirih. "Diam di rumah sepanjang hari? Menunggu tanpa tahu kapan kau pulang?" Hening sejenak. Ethan berdiri. Tingginya langsung membuat Kylla mendongak. Jarak di antara mereka menyempit, cukup dekat untuk membuat Kylla menyadari betapa besar dan asing pria ini. "Kau akan tinggal di sini," ucap Ethan tenang, "dengan semua yang kau butuhkan. Jika ingin keluar, bilang pada Mira. Atau padaku." Nada suaranya tetap datar, tapi ada garis batas yang jelas. Bukan permintaan. Peraturan. Kylla menelan ludah. "Aku bukan tahanan," katanya pelan, nyaris berbisik. Ethan menatapnya lama. Terlalu lama. "Dan aku tidak memperlakukanmu seperti itu," jawabnya akhirnya. "Tapi kau harus tahu posisimu." Posisi. Kata itu membuat d**a Kylla terasa perih. Tanpa berkata apa pun lagi, Kylla melangkah melewati Ethan menuju kamarnya. Kantong belanja itu bergesek pelan, bunyinya memecah keheningan yang tegang. Di ambang pintu kamar, ia berhenti sejenak. Tanpa menoleh, Kylla berkata lirih, "Aku hanya ingin hidup seperti manusia biasa." Pintu kamar tertutup perlahan. Di ruang tamu, Ethan berdiri diam. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, dadanya terasa tidak sepenuhnya tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN