3.

1132 Kata
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui celah tirai. Kylla membuka mata dengan perasaan campur aduk--lelah, kosong, dan sedikit cemas. Percakapan semalam masih terngiang jelas di kepalanya. Nada datar Ethan. Kata izin. Kata posisi. Ia menghela napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian sederhana, Kylla memberanikan diri keluar dari kamar. Perutnya terasa kosong, namun langkahnya ragu. Entah mengapa, ada perasaan aneh di dadanya--seperti takut, tapi juga penasaran. Begitu ia menuruni tangga, langkahnya melambat. Ethan ada di sana. Pria itu duduk di meja makan, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi. Sebuah cangkir kopi hitam berada di tangannya, sementara ponsel tergeletak di samping. Wajahnya terlihat lebih santai dibandingkan semalam, meski ekspresinya tetap serius. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia belum sepenuhnya siap menghadapi hari. Kylla terdiam. Ia tidak menyangka Ethan masih ada di apartemen itu. Selama ini, pria itu seperti bayangan--datang hanya sebagai suara dan aturan. Ethan mengangkat cangkir kopinya, lalu baru menyadari keberadaan Kylla ketika gadis itu berdiri canggung di ujung ruang makan. Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. "Kau sudah bangun," ucap Ethan akhirnya, suaranya rendah dan tenang. Kylla mengangguk pelan. "Iya." Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di kursi yang berseberangan. Jarak mereka tidak jauh, tapi terasa seperti dua dunia yang berbeda. Mira datang membawa sarapan dan meletakkannya di depan Kylla. Aroma roti panggang dan telur hangat menguar, membuat perut Kylla kembali berbunyi pelan. Ethan menyesap kopinya. "Aku ada rapat siang nanti," katanya, seolah berbicara tentang hal yang biasa. "Aku akan pulang malam." Kylla menunduk, mengaduk makanannya tanpa segera menyentuhnya. "Baik," jawabnya singkat. Hening kembali jatuh. Namun kali ini, tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang menggantung--belum terucap, belum dipahami. Kylla mencuri pandang ke arah Ethan. Di bawah cahaya pagi, pria itu tampak berbeda. Lebih manusiawi. Tidak sekeras semalam. Tapi tetap... jauh. Ia menarik napas kecil. Mungkin ini awal dari kebiasaan baru. Sarapan bersama orang asing yang kini menjadi suaminya. Dan entah mengapa, Kylla merasa hari ini akan menjadi hari yang berbeda. "Setelah sarapan, datang ke ruang kerjaku. Ada di samping kamar utama," kata Ethan singkat. Belum sempat Kylla merespons, pria itu sudah berdiri, meraih ponselnya, lalu melangkah pergi meninggalkan meja makan. Suara langkahnya terdengar tenang, seolah percakapan barusan hanyalah urusan biasa. Kylla menatap punggung Ethan hingga menghilang dari pandangan. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Dadanya kembali terasa tidak nyaman. Ruang kerja. Perjanjian. Ia punya firasat buruk. *** Beberapa menit kemudian, Kylla berdiri di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk. "Masuk," suara Ethan terdengar dari dalam. Ruang kerja itu luas, didominasi warna hitam dan abu-abu. Rak buku tinggi memenuhi satu sisi dinding, sementara meja kerja besar berada tepat di tengah ruangan. Ethan duduk di balik meja itu, rapi dan dingin seperti biasa. Sebuah map cokelat tebal tergeletak di depannya. "Duduk," ucapnya sambil mendorong kursi di seberang meja. Kylla menuruti, meski jemarinya terasa dingin. Ethan membuka map itu perlahan, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dan meletakkannya di hadapan Kylla. "Ini perjanjian kita," katanya datar. "Bacalah." Kylla menunduk. Matanya menyusuri baris demi baris tulisan hitam yang tersusun rapi. Semakin ia membaca, semakin wajahnya memucat. Perjanjian pernikahan. Durasi waktu tiga tahun. Napasnya tercekat saat membaca poin berikutnya. Ethan menginginkan seorang keturunan. Kylla mengangkat wajahnya perlahan. "Ini... apa maksudnya?" tanyanya pelan, nyaris berbisik. Ethan bersandar di kursinya. "Aku membutuhkan ahli waris," jawabnya tanpa ragu. "Dan ini bagian dari kesepakatan." Kylla kembali menatap kertas itu, tangannya bergetar. Di sana tertulis jelas bahwa Ethan akan menjamin seluruh biaya hidupnya--tempat tinggal, pendidikan, kebutuhan pribadi--bahkan setelah masa perjanjian mereka berakhir di tahun ketiga. Namun matanya berhenti pada satu kalimat terakhir. Hak asuh anak sepenuhnya berada di pihak Ethan Maver Wilson. "Jadi..." suara Kylla pecah. "Setelah semuanya selesai... anak itu bukan milikku?" Ethan menatapnya lurus. Tidak kejam, tapi juga tidak lembut. "Anak itu akan tumbuh dalam keluargaku. Kau tetap akan hidup dengan layak. Itu jaminanku." Kylla menggenggam ujung kertas itu erat-erat, seakan lembaran tersebut bisa hancur di tangannya. Dadanya terasa nyeri, jauh lebih sakit dibanding saat dipaksa menikah. "Aku bukan hanya jaminan hutang," katanya lirih. "Sekarang aku juga... alat untuk memberimu penerus?" Hening mengisi ruangan. Ethan berdiri, melangkah mendekat, lalu berhenti di sisi meja. "Aku tidak memaksamu menandatangani hari ini," ujarnya tenang. "Pikirkan baik-baik. Tapi ini syaratku." Kylla menunduk, air mata menggantung di pelupuk matanya. Mimpinya. Tubuhnya. Masa depannya. Semua terasa bukan miliknya lagi. Ia tahu satu hal dengan pasti--perjanjian ini jauh lebih mengerikan daripada pernikahan itu sendiri. "Haah... baiklah." Kylla menghembuskan napas panjang, seolah seluruh beban di dadanya ikut keluar bersamaan dengan keputusan itu. Ia menegakkan punggungnya, meski jemarinya masih gemetar di atas kertas perjanjian. "Tapi selama masa perjanjian berlaku," lanjutnya, suaranya kini lebih tegas meski matanya masih berkabut, "aku ingin melakukan banyak hal. Aku ingin tetap kuliah. Aku ingin keluar rumah tanpa merasa seperti tahanan. Aku ingin punya hidup." Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu mengangkat wajahnya menatap Ethan--tatapan pertama yang benar-benar berani sejak mereka menikah. "Dan aku juga ingin kamu bersikap layaknya suami," ucap Kylla pelan namun menusuk. "Karena aku menganggap pernikahan ini serius... meskipun pada kenyataannya, pernikahan ini hanya main-main bagimu." Kata-kata itu jatuh tepat sasaran. Ethan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di ruang kerja itu, wajahnya tidak sepenuhnya datar. Ada sesuatu yang bergerak di balik matanya--sebuah kilatan yang cepat menghilang, namun cukup untuk menandakan bahwa ucapan Kylla tidak berlalu begitu saja. "Main-main?" ulang Ethan rendah. "Ya," jawab Kylla jujur. "Kamu menikah karena tuntutan. Aku menikah karena dipaksa. Tapi setidaknya... aku tidak ingin menjalani ini sendirian." Ruangan kembali sunyi. Jam dinding berdetak pelan, terdengar begitu jelas di antara dua orang yang terikat oleh kesepakatan dingin namun perasaan yang mulai retak. Ethan menghela napas perlahan. Ia berjalan kembali ke kursinya, lalu duduk, menautkan jari-jari tangannya di atas meja. "Aku tidak pernah bermaksud meremehkan pernikahan ini," katanya akhirnya. Suaranya masih tenang, namun tidak sedingin sebelumnya. "Aku hanya... tidak pandai menunjukkan apa pun." Kylla tersenyum pahit. "Aku tidak meminta cinta." Ia mendorong surat perjanjian itu kembali ke arah Ethan. "Aku hanya meminta kehadiran." Ethan menatap Kylla lama. Terlalu lama untuk sekadar kesepakatan bisnis. Lalu ia mengangguk pelan. "Baik," ucapnya singkat. "Selama tiga tahun ini... aku akan menjalankan peranku." Bukan janji manis. Bukan kata romantis. Namun bagi Kylla, itu cukup--untuk saat ini. Ia meraih pulpen di atas meja, menandatangani perjanjian itu dengan tangan yang masih bergetar. Saat tinta menyentuh kertas, Kylla tahu satu hal, hidupnya resmi memasuki babak yang sama sekali tidak ia rencanakan. Dan entah mengapa, di balik rasa takut itu... ada secercah harapan kecil yang diam-diam mulai tumbuh. "Kenapa kamu begitu ingin melakukan banyak hal? Bukankah kuliah sangat memelahkan?" tanya Ethan, basa basi. "Usiaku baru mau genap 21 tahun, akan sangat disayangkan jika aku hidup seperti pengangguran yang tidak berguna." jawab Kylla, santai. Ethan hanya mengangguk, tanpa berkomentar papun lagi, meskipun sebenarnya ia ingin bertanya beberapa hal pada Kylla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN