4.

1117 Kata
Malam turun dengan sunyi yang terasa lebih berat dari biasanya. Kylla melangkah pelan menyusuri lorong apartemen, berniat kembali ke kamar yang selama ini ia tempati. Namun langkahnya terhenti ketika Mira muncul di hadapannya dengan ekspresi ragu. "Nyonya... kamar Anda sudah dipindahkan," ucap pelayan itu pelan. "Dipindahkan?" Kylla mengernyit. Mira menunjuk ke arah kamar utama. Jantung Kylla langsung berdegup kencang. ia menggigit bbir bagian dalamnya karena gugup. Tidur satu kamar dengan suami yang masih belum ia kenal dan mereka bahkan tidak akrab. *** Kamar itu jauh lebih besar. Lebih hangat. Lebih... intim. Begitu pintu terbuka, Kylla langsung terpaku. Ethan ada di sana. Pria itu duduk di atas ranjang besar, laptop bertengger di pangkuannya. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan--Kylla menelan ludah--dadanya terbuka tanpa penutup apa pun. Otot-ototnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu temaram. Wajahnya serius, fokus pada layar, seolah kehadiran Kylla belum sepenuhnya ia sadari. Kylla gugup. Sangat. Langkahnya nyaris tak bersuara ketika ia masuk dan menutup pintu perlahan. Udara di kamar itu terasa berbeda--lebih hangat, lebih padat, membuat napasnya sedikit berat. Dengan ragu, Kylla berjalan mendekat ke ranjang. Ia duduk di sisi kiri yang masih kosong, menjaga jarak. Tangannya bertumpu di atas sprei, jemarinya saling bertaut, menahan gelisah. Ethan tidak berkata apa pun. Jarinya masih bergerak di atas keyboard. Hening. Beberapa menit berlalu, dan rasa kantuk mulai menyerang Kylla. Hari yang panjang, emosi yang menguras tenaga, semuanya menumpuk. Tanpa sadar, tubuhnya condong ke samping. Pelan-pelan, ia membaringkan diri di atas ranjang, memunggungi Ethan. Ia menarik selimut hingga sebatas bahu, berusaha menutup matanya dan memaksa diri untuk tidur--sendirian, meski tidak benar-benar sendiri. Namun belum sempat ia terlelap, sesuatu menyentuh pinggangnya. Sebuah tangan besar dan hangat menarik tubuh mungilnya dengan sangat lembut. Kylla tersentak kecil, napasnya tertahan ketika punggungnya bersandar pada d**a Ethan. Pria itu memeluknya dari belakang, lengannya melingkar mantap namun tidak menekan. Hangat. Aman. Tak terduga. Ethan menunduk sedikit, suaranya rendah dan pelan ketika berbisik di dekat telinganya, "Tidurlah dengan nyaman di pelukanku." Kylla membeku sejenak. Ia seharusnya menolak. Ia seharusnya menjauh. Namun alih-alih melakukan itu, tubuhnya justru mengendur perlahan. Detak jantungnya masih cepat, tetapi untuk pertama kalinya sejak berada di apartemen ini, ia tidak merasa sendirian. Kylla memejamkan mata. Dan dalam pelukan pria yang seharusnya hanya menjadi bagian dari perjanjian itu, ia akhirnya tertidur. Ethan belum juga terlelap. Lengannya masih melingkar di tubuh Kylla yang kini tertidur pulas dalam pelukannya. Napas gadis itu teratur, hangat, menyentuh kulit dadanya. Perlahan, Ethan menurunkan pandangannya. Ia memandangi wajah Kylla dari jarak sedekat ini untuk pertama kalinya. Gadis muda itu terlihat begitu berbeda saat tidur. Tidak ada ketegangan di dahi, tidak ada ketakutan di matanya. Wajahnya tampak manis dan tenang, bulu matanya lentik meneduh, bibirnya sedikit terbuka seolah sedang bermimpi tentang sesuatu yang lembut. Hatinya--yang selama bertahun-tahun terasa beku--bergerak samar. "Kenapa kau bisa setenang ini..." gumam Ethan lirih, hampir tak terdengar. Ia tahu, Kylla bukan bagian dari rencana hidupnya. Gadis ini masuk ke dalam dunianya karena kesepakatan, hutang, dan tuntutan keluarga. Namun entah sejak kapan, kehadiran Kylla terasa... nyata. Bukan sekadar kewajiban. Ethan mengangkat tangannya perlahan, nyaris ragu, lalu menyibakkan helaian rambut Kylla yang jatuh ke wajahnya. Sentuhannya ringan, seolah takut gadis itu terbangun. Ia menatapnya lama. Terlalu lama untuk seorang pria yang mengaku tidak melibatkan perasaan. Akhirnya, Ethan menunduk dan mengecup kening Kylla dengan sangat pelan. Sebuah kecupan singkat, nyaris tak bermakna--namun cukup untuk membuat dadanya terasa hangat. "Tidurlah," bisiknya. "Setidaknya... malam ini." Barulah setelah itu, Ethan memejamkan mata dan ikut terlelap, dengan Kylla yang masih berada dalam pelukannya. *** Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai kamar utama. Kylla mengerjap pelan saat kesadarannya perlahan kembali. Tubuhnya terasa hangat--terlalu hangat untuk sekadar selimut. Ia mengernyit kecil, lalu menyadari sesuatu yang asing. Ada lengan kuat yang melingkari pinggangnya. Ada d**a kokoh yang menjadi sandarannya. Matanya membesar seketika. Ethan. Kylla menahan napas. Jantungnya berdetak kencang saat ia menyadari mereka masih berada dalam posisi semalam--terlalu dekat, terlalu intim. Ia bisa mendengar napas Ethan yang masih teratur, wajah pria itu tepat di belakangnya. Pelan-pelan, Kylla mencoba bergerak, takut membangunkannya. Namun sebelum ia berhasil menjauh, suara rendah Ethan terdengar, masih serak karena baru bangun. "Pagi." Kylla membeku. Ia menelan ludah. "Pa--pagi." Ethan membuka mata. Untuk sesaat, ia hanya menatap Kylla dari jarak dekat. Tidak dingin. Tidak tajam. Hanya... tenang. "Semalam kau tidur nyenyak," katanya pelan. Kylla tidak tahu harus menjawab apa. Pipinya terasa panas. Ia segera melepaskan diri dengan canggung dan duduk di tepi ranjang. "Aku... aku akan mandi," ucapnya cepat. Ethan tidak menahannya. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, menatap punggung Kylla yang menjauh. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, pagi terasa... tidak sepenuhnya hampa. Dan tanpa mereka sadari, batas antara perjanjian dan perasaan mulai mengabur, setipis cahaya pagi yang menyelinap ke dalam kamar. Pagi itu terasa sedikit berbeda. Kylla duduk di meja makan dengan sikap lebih kaku dari biasanya, tangannya memegang sendok tanpa benar-benar menggunakannya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Ethan yang duduk berseberangan, mengenakan kemeja santai berwarna gelap. Pria itu terlihat lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya, meski aura seriusnya masih melekat kuat. Suara cangkir kopi yang diletakkan perlahan memecah keheningan. "Kau tidak suka sarapannya?" tanya Ethan tiba-tiba. Kylla tersentak kecil. "Eh--bukan. Aku suka," jawabnya cepat, lalu mulai makan meski gugup. Ethan memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata, "Tadi kau bilang ingin kembali kuliah." Kylla mengangguk pelan. "Iya." "Jurusan apa yang kau ambil?" lanjut Ethan, nadanya datar, tapi kali ini terdengar... berusaha. Pertanyaan itu membuat Kylla berhenti mengunyah. Ia menunduk sejenak, seolah menimbang apakah mimpinya pantas diucapkan di hadapan pria seperti Ethan. "Aku masuk jurusan seni," katanya akhirnya, lirih tapi mantap. Ethan mengangkat alisnya sedikit. "Seni?" Kylla mengangguk lagi. Matanya berbinar samar, sesuatu yang jarang terlihat sejak pernikahan itu. "Aku suka melukis. Dari kecil," ujarnya pelan. "Kalau aku sedang melukis, aku bisa lupa waktu. Rasanya... tenang." Ethan terdiam. Ia menatap wajah Kylla yang kini tampak lebih hidup, berbeda dari gadis pendiam yang sering ia lihat beberapa hari terakhir. "Jenis lukisan apa?" tanyanya. Kylla terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan lanjutan itu. "Pemandangan... dan wajah," jawabnya jujur. "Aku suka menangkap ekspresi orang. Kadang aku melukis perasaan, bukan bentuk." Ada jeda singkat. "Menarik," ucap Ethan akhirnya. Satu kata itu sederhana, tapi cukup membuat Kylla menatapnya. "Kau... tidak keberatan?" tanyanya ragu. "Jurusan seni tidak menjanjikan seperti bisnis atau hukum." Ethan menyesap kopinya sebelum menjawab. "Aku tidak menikahimu untuk menentukan hidupmu," katanya tenang. "Selama itu yang kau inginkan, aku tidak akan menghalangimu." Kylla tercekat. Untuk pertama kalinya sejak berada di apartemen itu, dadanya terasa hangat. Bukan karena janji besar, bukan karena cinta--melainkan karena ia akhirnya merasa didengar. "Terima kasih," ucapnya pelan. Ethan hanya mengangguk kecil. Sarapan kembali sunyi, namun tidak lagi canggung. Di antara denting sendok dan aroma kopi, dua orang asing itu perlahan belajar berbagi ruang--dan mungkin, suatu hari nanti, berbagi lebih dari sekadar meja makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN