5.

1442 Kata
Pagi itu, setelah sarapan, Ethan langsung berangkat ke kantor. Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, langkahnya terasa lebih ringan--atau setidaknya, tidak seberat biasanya. Begitu tiba di ruang kerjanya, Ethan melepaskan jas dan menyampirkannya di sandaran kursi. Ia duduk, membuka laptop, lalu menekan tombol interkom di mejanya. "Samuel," panggilnya singkat. Tak lama, pintu terbuka. Samuel masuk sambil membawa tablet, sikapnya sigap seperti biasa. "Ya, Tuan." Ethan menatap layar di depannya sejenak sebelum berkata, "Aku ingin kamu mengurus administrasi kuliah Kylla." Samuel mengangkat wajahnya, jelas terkejut. "Administrasi, Tuan?" "Pendaftarannya sempat terhenti karena biaya," lanjut Ethan dengan nada datar. "Selesaikan semuanya. Daftarkan dia ke universitas dengan jurusan seni. Pilih kampus yang bagus, fasilitas lengkap. Aku tidak mau ada kendala apa pun." Samuel terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya hari ini juga." "Laporkan semua detailnya nanti," tambah Ethan singkat. Samuel membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan, masih dengan raut penasaran yang belum sepenuhnya tersembunyi. Ethan kembali menatap layar laptopnya. Namun kali ini, fokusnya tidak sepenuhnya pada pekerjaan. Pikirannya melayang pada wajah Kylla saat berbicara tentang melukis—tatapan mata yang berbinar, suara yang pelan namun penuh keyakinan. Tenang. Jujur. Hidup. Dan tanpa ia sadari, senyum tipis muncul di sudut bibirnya sebelum kembali menghilang, tertelan keseriusan yang selama ini menjadi tamengnya. *** Di apartemen, Kylla mondar-mandir di kamar utama seperti anak kecil yang menunggu hari pertama sekolah. Ia duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Sesekali ia membuka ponsel, membayangkan kelas, kanvas, cat warna-warni, dan dunia baru yang sebentar lagi mungkin benar-benar bisa ia masuki. "Aku akan kuliah lagi..." gumamnya tak percaya, senyum kecil tak lepas dari bibirnya. Menjelang siang, Kylla bersiap seperti biasa, berniat makan bersama Mira. Namun ketika suara pintu terbuka terdengar, ia terhenti. Ethan pulang. Kylla terkejut. "Kau... pulang?" Ethan mengganti sepatunya dengan tenang. "Aku menjemputmu." "Menjemput?" ulang Kylla bingung. "Kita makan siang di luar," jawabnya singkat. "Ganti baju." Kylla terpaku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk cepat. Jantungnya berdebar--bukan karena takut, melainkan karena tidak menyangka. Mereka makan siang di sebuah restoran yang tidak terlalu formal, nyaman, dan hangat. Kylla lebih banyak tersenyum hari itu, sementara Ethan beberapa kali memperhatikannya tanpa sadar. Setelah makan, Ethan melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu," katanya. "Kau butuh baju." Kylla mengerjap. "Baju?" "Sebentar lagi kau akan kuliah lagi," lanjut Ethan. "Kau akan lebih sering keluar. Kau butuh pakaian yang cukup." Kylla terdiam, lalu tersenyum lebar. "Iya... aku memang tidak punya banyak baju." Ethan mengangguk. "Mari." Mereka menuju pusat perbelanjaan. Di sana, Kylla berjalan di antara rak pakaian dengan mata berbinar--gaun sederhana, kemeja santai, jaket, sepatu. Sesuatu yang selama ini terasa jauh, kini ada di hadapannya. "Yang ini bagus," kata Ethan sambil menunjuk sebuah kemeja. Kylla tertawa kecil. "Kau serius memperhatikan?" "Kau akan memakainya," jawab Ethan tenang. "Aku harus memastikan nyaman." Kylla menunduk, pipinya menghangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dipersiapkan untuk hidup--bukan sekadar ditempatkan. Di tengah langkah-langkah kecil itu, Kylla menyadari sesuatu, pernikahan yang ia kira hanya perjanjian dingin, perlahan berubah menjadi ruang yang memberinya napas. Dan mungkin--hanya mungkin--ia tidak sendirian menjalani semuanya. "Belikan aku ice cream, ayo," ujar Kylla tiba-tiba sambil menarik lengan kekar Ethan ke arah stan es krim dengan penuh semangat. Gerakannya spontan, nyaris kekanak-kanakan. Dan tanpa protes, Ethan menurut saja. Pria berbadan besar itu berjalan di sampingnya dengan beberapa paper bag belanjaan di tangan, langkahnya ringan meski wajahnya tetap tenang. Ia membiarkan Kylla menyeretnya, seolah tak keberatan sama sekali. "Aku mau yang cokelat satu, ya," pinta Kylla ceria pada penjual es krim. Penjual itu mengangguk sambil mulai menyendokkan es krim ke dalam cup. Kylla menoleh ke arah Ethan. "Kamu mau?" tawarnya tulus. Ethan menggeleng pelan. "Tidak." "Kenapa?" Kylla mengernyit kecil. "Aku sudah tidak makan es krim hampir lima belas tahun," jawabnya datar, seolah itu hal biasa. Kylla terdiam sesaat, lalu menatapnya heran. "Lima belas tahun?" Ia tidak bertanya lebih lanjut, tapi ada rasa aneh yang singgah di dadanya. Terlalu lama untuk sekadar tidak suka. Setelah membayar, Kylla menggenggam cup es krim cokelat itu erat-erat, senyumnya merekah. Mereka pun berjalan keluar dari pusat perbelanjaan menuju mobil. Di dalam mobil, Kylla tampak sangat fokus pada es krim di tangannya. Sendok kecil itu bergerak berulang kali, wajahnya terlihat begitu menikmati setiap suapan. Sudah lama sekali ia tidak makan es krim--padahal dulu, hampir setiap hari. Seolah kebiasaan kecil itu sempat hilang bersama hidup lamanya. "Enak banget..." gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ethan yang duduk di kursi pengemudi melirik sekilas. Ia memperhatikan Kylla dari sudut matanya--cara gadis itu tersenyum kecil, matanya menyipit puas, dan ekspresi bahagia yang begitu sederhana. Hatinya terasa aneh. Bukan bahagia yang meledak-ledak. Bukan perasaan besar yang sulit dijelaskan. Hanya kesadaran sunyi bahwa... Kylla terlihat begitu hidup saat menikmati hal-hal kecil. Dan tanpa ia sadari, sudut bibir Ethan terangkat sangat tipis--nyaris tak terlihat--saat ia kembali memfokuskan pandangannya ke jalan, membiarkan istrinya menikmati es krim cokelat itu seolah dunia di luar sana sedang baik-baik saja. *** Mobil berhenti di depan apartemen saat langit mulai condong ke sore. Ethan mematikan mesin dan menoleh ke kursi penumpang. Kylla tertidur pulas, kepalanya sedikit miring ke arah jendela, cup es krim yang tadi kosong masih tergenggam di tangannya. Ia tertidur begitu saja selama perjalanan pulang. Ethan terdiam beberapa detik, memandangi wajah istrinya. Damai. Tenang. Seperti bayi yang lelap tanpa beban apa pun. Hatinya terasa melunak--perasaan yang jarang, hampir tak pernah ia biarkan muncul. Ia membuka pintu dan turun lebih dulu, lalu memanggil pelan, "Mira." Pelayan itu segera datang. "Ya, Tuan." "Baju-baju Kylla yang tadi dibeli, tolong langsung ditata di lemari pakaianya," perintah Ethan singkat. "Baik, Tuan." Tanpa banyak bicara, Ethan kembali ke mobil. Ia membuka pintu di sisi Kylla, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Gerakannya mantap, namun lembut--seolah takut membangunkannya. Kylla hanya bergumam pelan, lalu kembali terlelap, kepalanya bersandar di d**a Ethan. Ethan melangkah masuk ke apartemen dan langsung menuju kamar utama. Ia menurunkan Kylla perlahan ke atas ranjang, membenarkan posisi kepalanya, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dengan rapi. Awalnya, Ethan hanya berniat sampai di situ. Ia melirik jam tangannya. Ia seharusnya kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan menunggu. Banyak. Namun saat ia hendak berbalik, pandangannya kembali tertuju pada Kylla. Wajah gadis itu benar-benar damai. Bibirnya sedikit mengerut, napasnya teratur. Tidak ada jejak ketakutan. Tidak ada kecemasan. Hanya ketenangan yang jarang ia lihat--dan entah mengapa, ketenangan itu menahannya. Ethan duduk di tepi ranjang. Lalu, tanpa rencana, ia berbaring di samping Kylla. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu menoleh ke arah istrinya. Tangannya bergerak sendiri, menarik selimut sedikit lebih rapat, memastikan Kylla nyaman. "Sebentar saja," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ethan membiarkan dirinya berhenti sejenak--berbaring di samping seseorang, bukan karena kewajiban, melainkan karena ia ingin. Di kamar yang sunyi itu, dua orang yang terikat oleh perjanjian akhirnya berbagi keheningan yang hangat. Dan tanpa disadari Ethan, keputusan kecil itu menandai perubahan besar yang perlahan merayap ke dalam hidupnya. Jam menunjukkan 18.00 ketika cahaya jingga senja menyusup lembut ke dalam kamar melalui celah tirai. Kylla bergerak lebih dulu. Alisnya mengernyit pelan, lalu matanya terbuka perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit, mencoba menyusun kesadaran. Tubuhnya terasa hangat... terlalu hangat untuk sekadar selimut. Ia menarik napas--dan terdiam. Ada lengan yang melingkari pinggangnya. Ada d**a yang naik-turun tepat di belakang punggungnya. Kylla menelan ludah. Ethan. Jantungnya langsung berdebar. Perlahan, sangat pelan, ia menoleh sedikit. Ethan masih tertidur, wajahnya menghadap ke arahnya. Ekspresinya jauh lebih lembut dibanding saat terjaga. Tidak ada ketegasan. Tidak ada jarak. Hanya ketenangan yang membuat Kylla tercekat tanpa alasan jelas. Tanpa sadar, Kylla mencoba bergeser. Namun tepat saat itu, Ethan terbangun. Matanya terbuka perlahan, refleks lengannya mengendur sedikit sebelum akhirnya ia benar-benar sadar akan posisi mereka. Pandangannya jatuh pada Kylla yang sudah terjaga lebih dulu. "Jam berapa?" suara Ethan serak karena baru bangun. Kylla melirik jam digital di meja samping ranjang. "Enam... jam enam sore." Ethan menghela napas pelan. "Aku tertidur." Kylla mengangguk kecil. "Aku juga." Hening kembali tercipta. Namun kali ini tidak canggung--lebih seperti dua orang yang sama-sama belum ingin bergerak. Ethan melepaskan pelukannya perlahan dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu berdiri. "Aku seharusnya ke kantor," katanya, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. Kylla ikut duduk, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Maaf... aku ketiduran." Ethan menoleh. "Tidak perlu minta maaf." Nada suaranya tenang. Bahkan lembut--sesuatu yang baru Kylla sadari. Ia melirik Kylla sekilas sebelum melangkah menuju kamar mandi. "Bersiaplah. Kita makan malam." Kylla terkejut kecil. "Kita?" Ethan berhenti sejenak di depan pintu, lalu menoleh. "Iya," jawabnya singkat. "Bersama." Pintu kamar mandi tertutup. Kylla duduk diam di ranjang, tangannya mengepal kecil di atas selimut. Hatinya terasa hangat dengan cara yang aneh--pelan, tidak meledak-ledak, namun nyata. Untuk pertama kalinya, ia merasa... pernikahan ini tidak sepenuhnya terasa seperti penjara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN