Pagi itu, Kylla terbangun lebih cepat dari biasanya. Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menyentuh wajahnya dengan hangat yang menenangkan. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, meresapi perasaan asing yang mengalir pelan di dadanya. Hari ini berbeda. Hari ini, ia akan kembali kuliah—sesuatu yang sempat ia pikir tak akan pernah terjadi lagi. Kylla membuka matanya sepenuhnya. Dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Ethan. Pria itu sudah terjaga, berbaring miring menghadapnya. Rambutnya sedikit berantakan, namun justru membuat wajah tampannya terlihat lebih lembut dari biasanya. Sorot matanya tenang, tidak sedingin yang sering Kylla lihat selama ini. Mereka saling menatap tanpa kata. Ada detik hening yang terasa hangat, bukan canggung. Kylla bisa mendengar d

