Di kantor, suasana pagi terasa jauh dari kata tenang bagi Ethan. Ia duduk di balik meja kerjanya dengan bahu sedikit bersandar ke kursi, tatapannya datar namun jelas menyimpan kejengkelan. Di hadapannya, sang ibu duduk dengan postur tegak dan raut wajah penuh tuntutan, seolah kehadirannya di sana adalah hal yang sepenuhnya wajar. Wanita paruh baya itu datang tanpa pemberitahuan sejak pagi, langsung memasuki ruang kerja Ethan dengan satu topik yang sama--cucu. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dengan nada halus namun menekan, seakan dua minggu pernikahan adalah waktu yang cukup untuk menuntut kehadiran penerus keluarga. Ethan hanya mendengarkan dengan rahang mengeras, jemarinya saling bertaut di atas meja. Baginya, desakan itu terasa tidak masuk akal. Pernikahannya dengan Kylla bahka

