Di kamar rumah sakit yang sunyi, Kylla terbaring dengan tubuh menghadap jendela. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin dari luar. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh dari ruangan putih itu. Tangannya terletak di atas perutnya, bergerak pelan mengikuti napas. Tidak ada air mata, tidak juga senyum. Hanya diam… dan melamun. Pintu kamar terbuka perlahan. “Kylla…” Suara itu membuat matanya berkedip. Ia menoleh pelan. Ethan berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat lelah, rahangnya mengeras menahan banyak hal. Jasnya belum dilepas, dasinya sudah longgar. Ia melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang. “Kamu belum makan?” tanyanya lirih. Kylla menggeleng kecil. “Tidak lapar.” Ethan menatapnya lama. Senyum yang biasa Kylla tunjukkan tidak ada kali ini. “Kamu mikir a
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


