Tim peneliti sudah bersiap pagi-pagi sekali untuk kepulangan. Edgar yang masih mengantuk menguap karena ia baru tidur beberapa jam saja. Dengan enggan dan berat, Edgar menyeret kopernya mengikuti ketiga mahasiswa yang tampak segar bugar di depannya.
"Astaga, kalian sudah bersiap-siap berangkat?!"
Mereka semua menoleh ketika mendengar teguran itu, Mithya yang masih mengenakan gaun tidurnya berjalan cepat untuk mendatangi Tim peneliti yang sudah berada di hall Gedung Inti.
"Kau tidak ingat, Sepupu?" tanya Daniel dengan tampang heran. "Kami akan berangkat pukul dua dini hari ini."
"Oh ya ampun," desah Mithya. "Sepertinya aku terlalu banyak pikiran. Aku lupa soal ini. Tunggu sebentar, aku harus bersiap-siap..."
"Tidak perlu, Sepupu," kata Daniel dan membuat Mithya tidak jadi berbalik. "Kau tidak perlu mengantar kami, aku tahu kau punya banyak pekerjaan."
Mithya terlihat tidak setuju, namun begitu melihat penampilannya yang tidak siap, ia akhirnya menyerah. "Kau benar. Aku akan membutuhkan cukup waktu untuk bersiap. Sementara kalian harus kembali ke Koraki sebelum pagi."
"Kau sudah sangat baik meluangkan waktu untuk kami. Kami sangat berterima kasih," ucap Sia.
"Yah, aku hanya berusaha membantu para mahasiswa." Mithya mengedikkan bahu. "Kalau begitu kita berpamitan di sini. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkan kalian sampai pada batas. Aku akan meminta petugasku untuk mengantarkan."
"Sampai jumpa, Sepupu." Ucap Daniel dan ia berpelukan dengan Mithya.
"Ya, berhati-hatilah..." Mithya tersenyum. "Sungguh disayangkan kita akan berpisah."
Edgar baru saja menguap lebar, ia menyeka air matanya. Memastikan jika ia tidak salah lihat. Tapi ada yang aneh dengan ekspresi Mithya.
"Ayo, teman-teman. Kita berangkat," Daniel masuk ke mobil di depan kemudi. Edgar menyusul masuk ke bangku di sampingnya. Sementara Sia dan Leo masuk di bagian belakang, menutup pintu mobil nyaris bersamaan.
Daniel mengemudikan mobil melewati gerbang Lapas dan sebuah mobil mengikuti mereka dari belakang. Edgar mengamati mobil yang mengikuti mereka di belakang, lalu menguap kembali.
"Kau masih mengantuk, Egie?" tanya Daniel.
Edgar mengangguk. "Kenapa kita harus berangkat sedini ini?"
"Sebab kita tidak ingin membuat Koraki cemas dengan kedatangan kita." Sia membantu untuk menjawab.
"Kita berangkat pada malam hari, maka kita kembali Ke Koraki sebelum matahari terbit." Leo menjabarkan.
"Kau bisa tidur, Egie." kata Daniel. "Kupastikan kau akan terbangun setelah kita sampai di penginapan Koraki."
Edgar menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Ia sudah tidak tahan lagi untuk terlelap kembali.
--
Edgar merasa seperti sedang bermimpi. Ia mendengarkan samar-samar perbincangan orang-orang di dekatnya.
"Mereka sudah tertinggal jauh di belakang."
"Sudah waktunya."
Mobil berhenti. Suara pintu mobil dibuka. Gerakan orang-orang turun.
"Pastikan kau dan Edgar sampai di Koraki dengan selamat."
"Akan kuusahakan. Kalian berdua, semoga tidak tertangkap."
Lalu Edgar terlelap nyenyak kembali ketika mobil kembali berjalan.
--
BRAK! DAR!
Edgar merasakan tubuhnya jungkir balik membentur setiap sisi mobil. Setelah guncangan itu berhenti, ia membuka mata dengan perlahan. Sesaat ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kepalanya menggantung ke bawah. Akhirnya kesadarannya terkumpul.
Mobil telah terbalik dan ia tergantung di kursi karena sabuk pengaman. Ia mencium bau bensin pekat menguar.
"Teman-teman...?" Edgar memanggil dengan suara parau. Ia menoleh ke sebelahnya. Daniel juga dalam posisi yang sama dengannya. Namun ia bisa melihat kepala Daniel meneteskan banyak darah ke atas permukaan kaca mobil di bawah mereka.
"Sia...?" Edgar mencoba memanggil, namun ia tidak mendapat sahutan.
Edgar pun berusaha membuka sabuk pengaman di tubuhnya. Ia terjatuh dengan keras ke atas permukaan jendela mobil di bawahnya ketika sabuk pengaman berhasil dibuka.
"Daniel..." panggil Edgar pada Daniel yang masih menggantung. Ia berusaha melepaskan sabuk pengaman Daniel, namun ia kesulitan, sabuk pengaman di tubuh Daniel macet.
"Tunggu di sini..." kata Edgar. Ia mendorong pintu mobil di sebelahnya hingga terbuka. Namun ia tidak dapat bergerak keluar karena tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Ia menoleh ke belakang. Pasang matanya berserobok dengan mata biru pucat Daniel, tangan pria itu mencengkram kerah bajunya.
"Daniel!" Edgar kembali berbalik pada Daniel. "Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan bodoh. Daniel tidak sedang baik-baik saja. Kepala Daniel terus mengeluarkan darah.
"Tunggulah di sini, aku akan mencari bantuan!"
Namun Daniel malah tersenyum menyeringai, membuat Edgar semakin kebingungan.
"Tidak ada..." kata Daniel perlahan. "Yang... akan... membantu... kita..."
"Apa maksudmu? Di mana Sia dan Leo? Kenapa mereka tidak berada di belakang? Oh astaga, Aku akan segera memanggil Mithya!" Edgar tidak menemukan ponsel di sakunya, namun ia melihat ponsel Daniel yang tercecer. Ia segera mengambilnya.
"Jangan..." kata Daniel. "Mithya... dia... sudah menjual kita..."
Edgar membelalakan mata pada Daniel. "Mak... maksudmu...?"
"Maaf, Egie... kami tidak... memberitahumu..."
"Aku tidak mengerti, cepat jelaskan!"
"Orang-orang seperti kita... telah membuat mereka... marah..."
"Orang-orang? Siapa?"
"Tene..." Daniel tak berhasil melanjutkan kata-katnya.
"Apakah maksudmu... SQF?"
Daniel menggerakkan kepalanya. Menggeleng.
Lalu terdengar suara deru mesin mobil dari kejauhan.
"Egie..." panggil Daniel, berhasil mengeluarkan suara lagi. "Pergilah..."
"Apa maksudmu?" protes Edgar.
"Bawa ponselku... di sana... ada banyak data penting kita..."
"Daniel!"
"Pergilah... sebelum perjalanan kita... sia-sia..."
"Tapi..."
Suara mobil semakin dekat.
"Runtuhan rumah sakit..." kata Daniel. "Cepat...."
"Daniel..." panggil Edgar namun Daniel telah memejamkan mata. Pria itu telah kehilangan kesadaran.
"Sial..." desah Edgar yang kebingungan. Namun suara mobil yang mendekat itu meresahkannya. "Baiklah, pastikan kau tidak mati!" Serunya meski pria itu sudah tidak sadarkan diri.
Edgar segera keluar dari dalam mobil. Ia berjalan tertatih-tatih menjauhi mobil yang terbalik. Di ujung jalan terlihat beberapa mobil sudah semakin dekat. Ia mengamati sekitarnya yang di kanan dan kiri jalan adalah hutan. Dengan menggenggam ponsel Daniel, ia segera berlari masuk ke dalam hutan.
--
Edgar terus berlari menyusuri hutan. Ia menentukan arahnya dengan menggunakan ponsel Daniel. Daniel telah meletakkan alat pelacak di rumah sakit Timur sehingga ponsel Daniel dapat mendeteksi keberadaan reruntuhan rumah sakit itu.
Edgar kewalahan namun ia harus terus berlari. Bisa jadi ia sudah dikejar oleh bawahan Mithya. Sial, ia telah tertipu dengan Mithya. Sepertinya Daniel, Sia dan Leo sudah tahu jika mereka akan dikhianati.
Tapi mengapa?
Apakah karena Tim Peneliti menemukan sesuatu yang membahayakan Siprus? Oleh sebab itu Mithya memutuskan untuk menangkap mereka?
Edgar berharap Daniel akan baik-baik saja meski tertangkap. Tapi bagaimana dengan Sia dan Leo? Pergi kemana mereka berdua? Ia yakin tidak melihat ransel keduanya di kursi belakang.
Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Tim peneliti hingga tidak melibatkan Edgar?
Ujung-ujung atap reruntuhan Rumah Sakit Timur Siprus mulai terlihat. Jarak Edgar dengan Rumah sakit terbengkalai itu sudah sangat dekat. Ia berhasil sampai diiringi matahari yang sudah meninggi. Ia terus berlari melintasi halaman rumah sakit itu. Ia tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Ia segera menuju ke reruntuhan bangunan yang terbakar.
Edgar masih mengingat letak jalan menuju ke ruang bawah tanah yang mereka temukan tadi pagi. Ia menemukannya dengan mudah. Sebelum ia menuruni tangga, ia menoleh sebentar ke belakangnya. Dari kejauhan ia bisa melihat sebuah helikopter terbang ke arah Rumah sakit. Ia memang benar-benar sedang dikejar.
Edgar pun menuruni tangga menuju ke bawah. Ia sampai di laboratorium bawah tanah. Sesaat ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, kemudian ia teringat dengan pintu yang menuju ke dalam terowongan. Ia pun mendekati pintu yang sudah terbuka karena Leo telah mendobrak paksa.
Ia masuk ke dalam terowongan, dengan berpenerangan pada cahaya ponsel, ia menelusuri terowongan yang gelap dan lembap itu.
Edgar terus berjalan dengan napas berembus keras karena kelelahan.
Sekarang apa? Kemana ia akan pergi? Apakah ia yakin terowongan ini aman untuknya?
Edgar berhenti, ia membungkuk dan menyanggakan salah satu tangannya pada lutut. Ia kelelahan dan napasnya terasa semakin sesak.
Udara. Ya, semakin ke dalam terowongan, udara terasa semakin menipis.
Edgar pun jatuh ambruk. Ia tidak sanggup lagi berlari, bahkan sekadar untuk berdiri pun ia tidak mampu. kakinya nyeri dan gemetar. Pasang matanya bergetar lelah ingin menutup. Ia bernapas lewat mulut dengan suara berisik.
Matanya sudah terpejam.
Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Dia telah tertangkap.
"Siapa dia?"
"Hei, aku pernah melihatnya!"
"Korie, kau jangan bercanda!"
"Ya, aku serius! Dia yang membantuku kabur!"
Suara-suara itu berdiskusi di atas Edgar. Lalu kesadaran Edgar menguap, seperti terjatuh ke dalam jurang gelap tak berujung.