Ketika Edgar membuka mata, silau lampu di atasnya membuat matanya terpejam kembali. Ia bangkit duduk dengan susah payah. Tubuhnya sakit sekali. Ia ingat jika ia telah berlari berkilo-kilometer jauhnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali agar terbiasa dengan sekitarnya. Rupanya sinar lampu tidak seterang yang ia kira.
Ruangan di sekitarnya tampak seperti sel penjara berpenerangan redup.
Apakah Mithya berhasil menangkapnya?!
"Sudah bangun?"
Edgar merasa mengenali suara itu, ia menoleh dan seorang anak perempuan berdiri di depan jeruji selnya. Ia segera bangkit berdiri, lalu bergerak mendekati jeruji.
Edgar dapat melihat dengan jelas wajah si anak perempuan.
Si anak perempuan memiliki mata amber terang, rambutnya hitam tidak panjang namun diikat ke belakang, ia juga mengenakan pakaian berlapis yang warnanya sudah usang.
"Siapa kau?" Tanya Edgar.
"Seharusnya aku yang bertanya," kata si anak perempuan. "Kau bukan berasal dari Siprus kan?"
Edgar memikirkan kemungkinan jika ia lahir di Siprus. Tapi hal itu belum tentu benar.
"Aku dari Chroma," akhirnya Edgar menjawab.
"Aku pernah dengar nama kota itu. Kota yang besar. Iya kan?" Si anak perempuan tampak tertarik.
Edgar mengangguk. "Namaku Edgar."
"Namaku Korie. Ko-rie." balas si anak perempuan, mengeja namanya. "Apa yang sedang kau lakukan di Siprus?"
"Aku sedang mencari saudaraku," jawab Edgar. "Dia seorang ilmuwan."
"Ilmuwan tidak berada di Siprus," kata Korie.
"Ya, Mithya juga berkata begitu."
"Mithya?" Ulang Korie, semakin tertarik. "Kau mengenal wanita penyihir itu?"
Edgar mengangguk. "Mithya adalah Kepala Pengawas Lapas. Kami memasuki Siprus atas izinnya."
"Wah, kalian mempercayai orang yang salah," komentar Korie.
"Kupikir juga begitu." Edgar mengangguk setuju.
"Tadi kau bilang 'kami'?" Tanya Korie lagi.
Edgar mengangguk lagi. "Mungkin salah satu temanku sudah ditahan oleh Mithya." Ia teringat pada Daniel. Semoga saja Daniel baik-baik saja. Tapi Sia dan Leo tidak diketahui jejaknya.
"Malang sekali," komentar Korie.
"Apakah kau warga asli Siprus?" Giliran Edgar bertanya. "Kalian... anak-anak yang menyusup ke dalam Lapas malam itu bukan?"
"Apakah kau melaporkan kami?" Korie malah balik bertanya.
Edgar menggelengkan kepala.
"Bagus." Korie mengangguk-angguk. "Dari mana kau tahu terowongan di bawah rumah sakit Timur?" Ia mengajukan pertanyaan lagi.
"Aku dan teman-temanku sedang melakukan penelitian."
"Penelitian? Terhadap apa?"
Edgar mengangkat bahu. "Segala hal yang pernah disebutkan di Siprus. Radiasi. Penurunan kualitas lingkungan..."
"Ah, omong kosong..."
"Jadi semua itu bohong ya?" Tanya Edgar.
Bukannya menjawab, Korie malah mengajukan pertanyaan berikutnya. "Apakah di luar sana ada banyak orang tertarik dengan keadaan Siprus?"
Edgar terdiam sebentar. Siprus memang disebut-sebutkan dalam beberapa artikel sebagai kota aneh.
"Tidak terlalu menarik ya?" Korie mendengus, seolah membaca jawaban yang ia tunggu dari ekspresi wajah Edgar. "Semua orang sudah cukup disibukkan dengan kemudian masing-masing. Buat apa mereka peduli pada kota yang tidak mereka kenal?"
"Apa yang mereka lakukan kepada kalian?" Tanya Edgar.
Korie mengangkat bahu.
"Apakah mereka menjual anak-anak untuk dijadikan pelatihan SQF? Ataukah..."
"Mereka yang kau sebut itu siapa?"
Edgar terdiam. "Aku tidak tahu."
Korie mendengus geli. "Anak aneh," katanya. "Hanya menduga-duga tidak akan mengantarkanmu kemana-mana. Yah, nikmati kamar barumu beberapa hari ini ya? Kami harus memeriksa keadaan terlebih dahulu. Mithya pasti sedang mencarimu. Pertama-tama, kami harus mengkhawatirkan keselamatan kami. Kami sudah menutup terowongan, semoga saja Mithya tidak berhasil mengendus sampai ke sini."
Edgar ingin mengatakan sesuatu lagi namun Korie telah berbalik pergi meninggalkan sel. Ia menghela napas. Ia mengamati sekitarnya sebentar. Lalu mendadak mendengus geli ketika melihat gembok sel yang sudah karatan.
"Ah, tikus penyusup yang lucu..." Komentar Edgar pada gembok yang karatan itu. "Seniorku akan menertawankanku jika mendengar seorang pelatihan SQF terkurung dalam sel dengan gembok karatan."
Dengan kesederhanaan ini, Edgar benar-benar ingin tahu bagaimana tikus-tikus ini bisa lolos dari tangkapan Mithya.
--
Membobol kunci pintu atau pun gembok adalah hal standar yang remeh bagi Edgar. Dengan mudah ia sudah keluar dari sel penjara. Ia berjalan menelusuri terowongan gelap, menuju ke sumber suara yang ia dengar samar-samar. Semakin dekat dengan sumber suara, tahulah ia di mana tempat perkumpulan para tikus penyusup.
Edgar melewati tirai plastik berdebu, memasuki sebuah ruangan besar dengan penerangan lampu-lampu redup. Ada banyak anak-anak di dalam ruangan itu. Anak-anak kecil berlarian dan bermain. Hanya beberapa yang menaruh perhatian ketika Edgar melewati mereka.
Edgar cukup terkejut melihat anak-anak kecil di tempat yang bagaikan ruang bawah tanah ini. Menurut dugaannya, usia anak-anak itu berada di kisaran tujuh hingga sepuluh tahun.
Edgar melanjutkan langkahnya, menyibak tirai kedua untuk memasuki ruang berikutnya, kali ini ruangan terasa lebih ramai oleh anak-anak yang lebih tua dari kelompok anak-anak di ruang pertama. Edgar menebak kisaran usia mereka, mungkin di atas sepuluh hingga dua puluh? Entahlah. Ia melihat beberapa tampak lebih dewasa darinya. Dan mereka semua tak terlihat sehat dengan tubuh kurus dan pakaian kusam.
Seorang bocah berdiri paling depan, wajahnya sedikit berjambang karena belum dicukur. Bocah itu berbicara gugup sambil menunjuk-nunjuk ke papan tulis putih dengan coretan-coretan dan gambar-gambar. Sesekali si bocah memperbaiki letak kacamatanya karena hidungnya yang licin berminyak.
"...Kuyakinkan jika Mithya tidak akan mendeteksi kita." Kata anak laki-laki yang melakukan presentasi. "Jadi untuk sementara kita tidak bisa keluar dari sini."
"Berapa lama?" Salah satu anak mengangkat tangan. "Persediaan makanan kita sudah menipis. Sesuai jadwal, akhir pekan ini kita harus keluar untuk mengambil ke kota."
"Resikonya buruk. Jika Mithya sudah tahu ada terowongan di bawah rumah sakit, dia akan mencari denah lama Siprus. Dia akan mempelajari adanya sisa terowongan warisan jaman perang di bawah Siprus. Jika kita terlihat di kota, dia bisa menangkap warga kota yang sudah membantu kita selama ini."
"Aku tidak ingin Mama ditangkap," Isak salah satu bocah.
"Apakah mereka akan menangkap orangtua kita?" Bocah yang lain terisak.
"Hei, tenang... Jangan menangis..." Kata si presentator. "Bukankah kalian berdua sudah cukup tua untuk menangis? Berapa usia kalian? Empat belas? Tiga belas? Ayolah... Orangtua kita menyembunyikan kita di sini agar kita selamat. Bukannya menderita seperti ini."
"Ya, Lim benar." Korie tiba-tiba saja melangkah maju, ia berdiri di samping bocah presentator. Korie tampak percaya diri, kontras dengan si presentator yang gugup. "Untuk sementara beberapa dari kita berpuasa untuk mengirit makanan. Biarkan anak-anak usia di bawah tiga belas tetap makan tiga kali sehari agar tidak terkena asam lambung. Meski kita terpaksa mengurangi porsinya."
"Kira-kira berapa lama kita akan seperti ini?" Tanya salah satu bocah lagi.
"Se...sepekan?" Bocah presentator mencoba menebak, ia melirik ke arah Korie dengan ekspresi takut-takut.
"Sepekan." Korie mengangguk. Kemudian pasang mata amber Korie menangkap keberadaan Edgar yang berdiri paling belakang, menonton.
Bocah presentator di sebelahnya juga ternganga ketika melihat Edgar.
"Rapat bubar. Kalian boleh keluar dan lakukan apa pun yang kalian suka. Tapi yang kusebutkan namanya tetap di sini. Lim, Gail, Anya, Hany, dan Del." Titah Korie.
Kelompok anak-anak itu pun bubar. Sementara beberapa bergabung ke depan, anak-anak yang dipanggil Korie pastinya.
Tidak ada satu pun yang mengenal Edgar selain enam anak yang berdiri di samping papan tulis. Setelah ruangan itu kosong dari yang lain, Edgar berjalan mendekati anak-anak yang berdiri di depan, menunggunya.
"Bagaimana kau bisa keluar dari sana?" Tanya salah satu dari mereka, laki-laki bertubuh paling jangkung, dan terlihat paling dewasa.
Edgar tersenyum kecil. Ia tidak ingin menyombongkan diri. Namun fakta jika ia sudah mendapatkan pelatihan sejak usia tujuh tahun tak terelakkan melihat adanya perbedaan yang jelas di antara dirinya dengan keenam bocah ini.
"Sepertinya kau bukan sembarang orang kota?" Tanya Korie pada Edgar dengan ekspresi curiga. "Kenalkan. Ini teman-temanku. Kami tim operasi yang bertugas keluar dari markas."
Korie mulai menunjuk satu-satu pada temannya sambil menyebutkan nama dan usia mereka.
Yang paling dewasa adalah Del, pemuda berambut pirang dan berusia nyaris 19 tahun dua bulan lagi. Berikutnya Anya dan Hany, si kembar berkulit gelap yang berusia 17 tahun. Lim adalah bocah presentator, laki-laki berkacamata berusia 17 tahun. Korie menyebutkan dirinya berusia 16 tahun, dan Gail berambut keriting kelabu yang paling mungil dan tampak lincah berusia 14 tahun.
"Korie berkata kami tidak perlu khawatir dengan keberadaanmu," ujar Del. "Walau penyebab kekacauan ini adalah karenamu."
"Kau beruntung, sobat. Saat itu kami masih berada di terowongan." Anya adalah si kembar yang berambut pendek, terlihat lebih tomboy daripada saudara kembarnya Hany yang berambut panjang dengan dijepit pita kuning. Anya meninju bahu Edgar. "Kami nyaris berpikir untuk meninggalkanmu saja."
"Kata Korie... Kau berhasil melumpuhkan penjaga raksasa itu dengan sekali pukulan? Wah!" Hany bertepuk tangan memuji Edgar. "Keren sekali! Berapa usiamu?"
"Enam belas," jawab Edgar.
"Wah, kau seusia dengan Korie?" Del manggut-manggut. "Kurasa kalian berdua akan akur." Tunjuknya pada Edgar dan Korie.
Korie mendengus tidak yakin.
"Kalian bilang persediaan makanan kalian terbatas?" Tanya Edgar.
Keenam anak-anak itu saling bertukar pandang.
"Sudah berapa lama kalian di sini?" Edgar kembali bertanya. Rasa ingin tahunya sepertinya membuat mereka heran.
"Dia tidak terlihat seperti bocah nyaris mati," komentar Anya.
"Apakah kau benar-benar berasal dari Chroma?" Del tampaknya sudah mendapatkan informasi itu dari Edgar. Edgar hanya menganggukkan kepalanya.
"Anak orang kota kelihatan beda ya?" Tegur Gail riang, menarik-narik pakaian Edgar yang sudah tidak bersih.
"Kenapa kau bisa sampai di sini?" Tanya Anya.
"Dia mencari saudaranya. Katanya seorang ilmuwan." Korie yang menjawab.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan mampir ke Siprus. Mending jauh-jauh deh," bisik Lim.
"Terus kenapa Mithya ingin menangkapnya?" Tanya Hany heran. "Dia kan diperbolehkan masuk ke dalam Siprus pada awalnya?"
"Aku juga mempertanyakan hal itu," kata Edgar.
"Ya sudahlah. Kita bahas nanti saja," kata Del akhirnya. "Yuk, kita perlu istirahat."
Pertemuan itu pun bubar. Mereka semua pergi begitu saja meninggalkan Edgar yang kebingungan. Tampaknya tidak ada yang memperdulikan keberadaannya yang asing dan tampak tidak pas di dalam terowongan yang temaram dan dinding yang berlumut.