Edgar tahu jika waktunya tidak banyak. Ketika Mithya pergi dengan tergesa-gesa bersama ketiga petugas setianya, Edgar keluar dari tempat persembunyian. Alarm itu pasti merupakan sebuah tanda peringatan jika ia telah kabur dari dalam sel. Dan tentu tidak akan lama lagi sampai kedua penjaga gedung sayap kiri menyadari ada satu petugas yang tidak keluar bersama Mithya.
Edgar menghancurkan pintu sel dengan alat pemadam kebakaran. Ia sudah menilai jika penjara di Gedung sayap kiri adalah penjara rusak, tidak ada alarm bahaya, kamera pengawas atau pun peralatan mutakhir yang berarti. Di sini segalanya hanya kunci dan besi berkarat serta para tawanan yang dilemahkan. Gagasan yang cukup bagus untuk menyembunyikan segala rahasia besar tentang pemberontak.
Pria yang berada di atas kursi listrik mengerjapkan mata ketika melihat Edgar masuk ke dalam sel. Edgar merusak peralatan kursi listrik itu terlebih dahulu dengan memukulkan APAR.
"Siapa... kau?" Pria yang bernama Hovak itu bertanya, sementara Edgar cukup sibuk untuk melepaskan ikatan-ikatan di tubuh pria itu yang tersambung pada kursi listrik.
"Waktu kita tidak cukup banyak," bisik Edgar. "Ayo!"
Namun Hovak tidak bergerak ketika Edgar menarik lengan pria tua itu untuk berdiri.
"Berapa usiamu?" tanya Hovak, pasang matanya yang berair menatap Edgar, membuat hati Edgar luluh seketika. Tentu pria itu sudah menahan banyak rasa sakit selama ini.
"Ma... maafkan aku," Edgar reflek berkata. Ia teringat pada pria sebelumnya yang sudah tidak bernyawa. Ia ingin menjelaskan jika ia tidak mengira rencana yang ia gunakan akan membuat Mithya membunuh seseorang.
"Apakah anak-anakku aman?" Hovak bertanya.
"Untuk saat ini... ya," jawab Edgar, mengerti maksud Hovak dengan baik.
"Siapa yang memimpin?" tanya Hovak.
Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk sesi tanya-jawab. Apakah Hovak tidak tahu bahaya besar sedang menunggu mereka saat ini? Mereka harus bergerak cepat!
"Del," Edgar terpaksa menjawab karena Hovak tetap tidak mau bergerak. "Dan juga Korie."
Seketika senyum tersungging di wajah kuyu pria tua itu. "Ah, anak-anakku..." ucapnya bangga. "Aku tahu... aku tahu..."
"Ayo," kata Edgar. "Mereka akan segera tahu jika aku berada di dalam sini."
Hovak akhirnya berdiri, namun ia tidak mengikuti Edgar. "Apakah kau punya rencana, Nak?"
Edgar mengerutkan kening. Apalagi ini? Ia tidak punya waktu untuk menjelaskan rencananya.
"Kita harus pergi," desak Edgar. "Mithya akan segera kembali begitu menyadari aku berada di dalam sini."
"Jika aku keluar dari tempat ini..." kata Hovak. "Kita berdua akan tertangkap."
"Tapi... mungkin saja..." Edgar tahu kelemahan rencananya sendiri. Mereka masih belum menemukan pintu terowongan. Tentu mereka tidak akan bisa kabur dari tempat ini. Ini pun suatu kebetulan tak disengaja ia dapat menyusup masuk ke dalam gedung uang memenjarakan para pemberontak.
"Aku juga punya rencana sendiri." Kata Hovak tanpa diduga-duga.
Edgar mengerjapkan mata, kebingungan. Pria tua ini... Serius?
"Tapi..."
"Pergilah. Lanjutkan rencanamu. Aku akan menyusul."
Edgar nyaris berkata 'tapi' untuk kesekian kalinya namun Hovak menatap tajam ke arahnya, membuatnya bungkam seketika. Tanpa mengucapkan apa pun lagi, dan dengan waktu yang terbatas, Edgar mundur pergi meninggalkan pria tua itu.
Jika pria tua ini tertangkap, maka bukan salahnya.
--
Edgar berhasil keluar dari Gedung Sayap Kiri sebelum Mithya menyadari keberadaannya. Hanya saja kedua petugas itu mencegatnya dan mulai mencurigai Edgar.
Mereka berdua memaksa Edgar untuk melepasan masker, namun sebelum mereka berdua dapat menyentuh Edgar, Edgar sudah melancarkan serangan telak. Satu petugas mendapatkan tendangan di ulu hati, satu lagi di rahang. Karena keduanya masih sadarkan diri, Edgar segera mengambil pistol salah satu su penjaga. Ia memukulkan badan pistol yang keras itu ke kepala masing-masing petugas penjaga. Keduanya pun sukses pingsan.
Edgar melempar pistol untuk mengembalikannya kepada petugas. Setidaknya dia sadar diri untuk tidak menggunakan senjata api karena usianya yang belum masuk hitungan dewasa. Sebenarnya dia pernah belajar menembak ketika masih menjadi pelatihan SQF. Ya. Pelatihan menembak senjata api.
Edgar ingat jika dulu dia pernah masuk dalam kelompok pelatihan istimewa. Kelompok itu diberikan materi lanjutan yang berbeda dari materi biasa. Kebanyakan secara praktik. Dan sebenarnya beberapa kegiatan mereka bisa dikatakan melanggar hukum karena ada beberapa pelatihan yang masih belum cukup umur. Entah mengapa SQF begitu berniat dalam membentuk kelompok istimewa itu.
Keributan yang ia buat tentu telah menarik perhatian. Ia bergegas menuju ke gedung inti untuk menemukan Gail. Halaman pun mulai ramai, semua petugas dikerahkan dan sedang berlari menuju Gedung Sayap Kiri, Edgar melihat Mithya yang juga bergegas. Eskpresi wanita itu tampak keras menahan amarah.
Edgar yang berlawanan arus dengan para petugas itu, berhasil masuk ke dalam Gedung Inti. Kehadiran Edgar di Gedung Inti menarik perhatian sisa petugas yang masih berjaga di dalam sana.
Edgar mencoba bersikap tenang ketika ia terus berjalan. Ia ingat para petugas menyeret Gail masuk ke dalam lorong di sekitar area ini. Namun Edgar tidak melihat ada lorong satu pun, kecuali sebuah pintu lift.
Seketika Edgar mendapatkan pemahaman di dalam kepalanya. Ia segera menuju ke arah lift, namun seorang petugas segera mencegatnya
"Apa yang kau lakukan?" tegur petugas itu. Dari pantulan pintu aluminium lift, Edgar bisa melihat ada tiga orang petugas yang bergerak mendekat di belakangnya.
"Ini lift khusus. Petugas tidak berkepentingan dilarang masuk."
"Aku Petugas berkepentingan," kata Edgar.
"Kalau begitu di mana kartu pass-mu?"
"Aku..."
Terdengar suara letusan senjata dari luar.
"Apa yang..."
Momen itu sangat singkat. Para petugas yang terkejut lengah untuk beberapa detik oleh suara letusan senjata di luar gedung. Edgar pun segera merampas pistol dari ikat pinggang petugas yang mencegatnya. Dengan luwes ia sudah berdiri di belakang si petugas dengan mengaitkan lengannya ke leher si petugas. Ia menempelkan mulut pistol ke kepala petugas, lalu menarik tawanannya itu mundur ke dalam lift yang sudah terbuka.
Empat orang petugas lainnya yang terkejut segera mengambil senjata masing-masing, kemudian mengarahkannya kepada Edgar.
"Mundur!" seru Edgar. "Atau dia mati!"
Dengan bodohnya Edgar mengancam. Keempat petugas itu segera menarik pelatuk masing-masing, tepat ketika lift menutup.
Edgar nyaris melakukan kesalahan. Tentu ancamannya tidak berguna karena para petugas itu tidak peduli siapa yang akan duluan ditembak.
Edgar mendorong tawanannya, juga masih menodongkan senjata. "Bawa aku ke lorong di mana anak-anak ditahan."
Si petugas terlihat tidak ingin menurut.
"Lakukan atau kau kutembak!" Ancam Edgar. "Atau kubiarkan keempat temanmu menembak kepalamu ketika pintu lift ini terbuka!"
Si Petugas mulai terlihat takut, sepertinya ia percaya jika Edgar berani menarik pelatuk senjata. Maka ia cepat-cepat menekan tombol lift. Ia menekan nomor satu dan sembilan secara bersamaan, menyebabkan pintu di belakang Edgar terbuka, memperlihatkan lorong yang pernah ia lalui.