28

1345 Kata
Edgar menendang si Petugas hingga tersungkur di dalam lift. Ia mundur ke dalam lorong masih dengan menodongkan pistol untuk menakuti si petugas, hingga akhirnya pintu lift tertutup. Bersamaan dengan tarikan napas lega, Edgar segera berlari menyusuri lorong dan juga melempar pistol itu ke sembarang tempat. Edgar akhirnya menemukan deretan sel, ia mengecek pada setiap Sel sampai akhirnya ia menemukan Gail di dalamnya. Selebihnya semua sel kosong. Namun sialnya kunci pintu sel itu berupa sistem kartu pengenal. "Jangan khawatir," kata Gail. Bocah itu menyodorkan sebuah kartu. Edgar menerima kartu itu dengan ekspresi terkejut. "Dari mana kau menemukan ini?" Kartu itu ia tempelkan pada alat deteksi, kemudian pintu mengeluarkan bunyi klik tanda terbuka. "Kami mencuri kartu para petugas. Aku menyimpannya di tempat yang tidak akan bisa mereka geledah, kecuali mereka menelanjangiku." jawab Gail, terkikik geli. "Del dan Korie mendidikku dengan baik kan?" ucapnya bangga. Edgar mendengus geli. "Jika begini mereka akan menerapkan penggeledahan menyeluruh." "Ya, jika mereka punya waktu. Dari mana saja kau? Apa yang terjadi?" "Aku berbicara dengan Mithya. Dia sudah percaya tentang kelompok pemberontak yang kukarang." Edgar menjawab. "Mithya sedang mencoba mencari tahu siapa saja pemberontak itu dengan menanyai para tahanan pemberontak di Gedung Sayap Kiri. Dia sepertinya yakin para pemberontak itu tahu tentang semua agenda dan daftar nama pemberontak. Aku bertemu dengan Hovak..." Gail melongo mendengar Edgar yang terus berbicara tanpa jeda. "Apa kau bilang?" Selanya. "Tahanan pemberontak? Kau tahu di mana mereka dikurung?" Edgar menganggukkan kepala. "Ya. Mereka ditahan di dalam gedung sayap kiri." "Kurasa aku tahu gedung itu. Gedung yang paling tua kan?" "Yeah, kelihatannya memang paling tua." Edgar mengangguk membenarkan. "Wah, aku tidak menyangka gedung itu masih digunakan. Pantas saja kami kesulitan menemukan tempat para pemberontak dikurung. Rupanya di sana!" Gail tampak antusias. "Tunggu Korie tahu deh!" "Sayangnya kita belum bisa membebaskan para tahanan. Gedung itu dikepung. Aku ketahuan menyusup ke dalam sana." Jelas Edgar. "Yah, setidaknya kita sudah tahu tempatnya. Oh, tadi kau juga menyebutkan nama Paman Hovak." Lanjut Gail. "Kau kenal orang itu?" "Yep. Paman Hovak adalah pemimpin tim operasi terakhir yang ditangkap." Jawab Gail. "Untunglah dia masih hidup. Kami khawatir jika mereka sudah dihukum mati." Edgar menelan ludah ketika Gail menyebutkan kata 'mati'. Bayangan mengerikan tubuh seseorang yang sudah tidak bernyawa diseret di lantai serta suara rintihan penuh rasa sakit masih segar di dalam ingatan Edgar. "Ayo, kita harus bergegas." Kata Gail. "Kita harus segera membuka pintu terowongan." "Mau pergi kemana kalian, anak-anak?" Edgar dan Gail terperanjat mendengar suara itu, dan para petugas telah muncul mengepung di pada setiap jalan lorong. Mithya menyeruak di antara petugas. Wanita itu tersenyum menyeringai dengan wajahnya yang berpeluh dan berminyak. Pastinya keributan yang dibuat Edgar membuat Mithya sibuk hingga dandanannya menjadi berantakan. -- Edgar tahu ia akan tertangkap kapan saja, tapi mereka belum menyelesaikan misi apa pun dan Mithya sudah menangkap mereka untuk kesekian kalinya. Apakah mereka sudah gagal? Kali ini Edgar dan Gail diborgol dan tubuh mereka dililit tali ke kursi besi. Bukan sel mau pun ruangan Mithya, kali ini mereka berdua berada di dalam ruang interogasi. Mithya berada di depan mereka berdua, sejak tadi berjalan mondar-mandir dengan tangan bersedekap. "Jadi... Itu semua hanya karanganmu saja, hah?" Mithya akhirnya berhenti di depan Edgar, menatap galak. "Aku sudah mengecek tidak ada lagi nama-nama orang yang bisa menjadi pemberontak. Para pemberontak sudah mati kutu." Edgar tersenyum kecut. "Oh, astaga... Aku tidak menyangka... Bagaimana bisa aku ditipu dengan mudahnya oleh bocah-bocah seperti kalian?" Mithya mendengus tak percaya. "Rupanya kau punya banyak urusan," kata Mithya lagi pada Edgar, menyipitkan sebelah matanya. Lalu ia menoleh pada Gail yang ketakutan. "Kau bilang ingin bertemu dengan Mamamu kan?" Pertanyaan Mithya yang tidak terduga menarik perhatian Gail. Gail mengerjap kebingungan memandang Mithya yang kini sudah tidak menunjukkan ekspresi menakutkan lagi. Edgar mengerutkan dahi melihat perubahan ekspresi Mithya yang begitu drastis. Ia lupa jika ia juga pernah sempat menyukai Mithya pada saat awal pertemuan mereka. Wanita menyeramkan itu tentu mampu bersandiwara dengan mudah. "Bentuk wajahmu mirip dengan seseorang," kata Mithya sambil menyentuh dagu Gail, membuat Gail tampak seperti terhipnotis. "Maya. Benar kan?" Gail terperangah. "Mama... masih hidup?" Tanyanya terbata-bata. "Oh, sayang... Tentu saja..." Kata Mithya lembut. "Aku tidak menyangka akan bertemu dengan putra Maya!" "Di mana kau mengurungnya?" Tanya Edgar segera. "Apa? Mengurung? Aku tidak mengurungnya!" Seru Mithya, mengelak. "Jangan bohong! Kau mengurung para pemberontak di gedung sayap kiri kan?" Tuduh Edgar. "Kau pasti mengurungnya di sana!" "Tidak... Aku tidak mengurung wanita jika bukan karena kondisi khusus." Mithya menoleh pada Edgar, memberikan sorotan dingin. "Di gedung itu, aku mengurung para tahanan berbahaya." "Kau memb...!" "Tentu saja, tidak, Edgar." Sela Mithya segera sebelum Edgar menyelesaikan kata-katanya. "Tahanan di dalam gedung itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka memiliki agenda besar dan berupaya untuk menghancurkan Siprus. Kau tidak tahu apa-apa. Kau sudah dicuci otak. Sama seperti dengan bocah-bocah hilang ini. Dua belas tahun mereka terus berusaha mengambil anak-anak dari kami. Mereka telah melakukan kesalahan besar!" "Aku tidak mempercayaimu!" Seru Edgar. "Astaga," Mithya menoleh pada Gail. "Apakah semua anak yang hilang tinggal bersama denganmu?" Tanya Mithya pada Gail. "Gail. Jangan dijawab." Perintah Edgar. "Tidak, jangan takut. Namamu Gail ya? Nah, Gail... Kau pasti kesulitan selama ini. Kami terus berusaha mencari kalian. Kami khawatir dengan kalian. Jadi kalian tinggal di mana selama ini? Kami mencatat ada 49 anak yang hilang selama dua belas tahun terakhir ini. Kami sungguh frustasi dengan pemberontakan yang tidak bertanggung jawab itu." Gail melebarkan pasang matanya, tampak kebingungan mendengar kata-kata Mithya. "Kalian... mencari kami?" Ulang Gail. "Ya! Tentu saja!" Kata Mithya. "Kenapa?" Tanya Gail polos. "Kalian ingin membunuh kami kan?" dengan takut-takut ia bertanya. "Astaga... siapa yang mengatakan hal semacam itu kepadamu? Apakah begitu cara Pemberontak mencuci otak kalian?" Tanya Mithya dengan eskpresi tak percaya. "Tidak. Tidak. Kami mana mungkin melukai kalian. Pernahkah kalian mendengar Aturan Tenebris. Aturan itu bahkan terpatri di tengah-tengah kota! Aturan itu berbunyi : Semua anak-anak berusia dibawah 19 tahun yang lahir di Siprus adalah milik Tenebris. Anak-anak milik Tenebris harus dijaga dan dibesarkan dengan baik. Hukuman berat akan dijatuhkan kepada pelanggar yang melukai anak-anak." Edgar mengerjapkan mata. Aturan Tenebris? Apa itu? "Jadi mana mungkin kami melukaimu?" Mithya menghela napas. "Kami berusaha menyelamatkan kalian dari para pemberontak itu. Percayalah padaku. Bukankah kau pernah tinggal di Area Perawatan? Apakah kau masih ingat bagaimana rasanya tinggal di sana? Pernahkah mereka menyakitimu?" "Eh," Gail tampak bingung. "Mereka tidak pernah menyakitiku." "Nah, apakah kau pernah melihat seseorang dari kami menyakiti anak-anak?" "Kalian mencoba menangkap kami dengan petugas berbadan besar," tuduh Gail. "Para petugas mencoba menangkap kalian karena kalian berbuat onar di dalam Lapas. Tapi mereka tidak bermaksud buruk. Mereka hanya ingin menghentikan kalian!" Gail mengerjapkan mata. "Tidak, Gail." Kata Edgar. "Dia berbohong." Mithya menghela napas ketika menoleh pada Edgar. "Sebentar ya?" Ia berjalan mendekati Edgar kemudian menempelkan plester pada mulut Edgar. Seketika Edgar tidak mampu mengeluarkan suaranya. "Apa yang kau lakukan?!" Seru Gail. "Edgar terus saja mengusikmu, Gail." Kata Mithya ringan. "Bukankah anak nakal boleh dihukum?" "Tapi..." "Aku tidak memukul dia kok. Aku hanya menutup mulutnya. Aku harap dengan begitu dia bisa menyadari kesalahannya." Gail memandang Edgar yang menggelengkan kepala, isyarat agar tidak mempercayai Mithya. Namun Gail sudah mulai bimbang. "Nah, Gail..." Mithya menaruh sebelah tangannya di bahu Gail. "Kau bilang kau ingin bertemu dengan Mamamu." Gail mengerjapkan mata. "Tentu aku bisa mewujudkannya." Mithya berbicara lambat-lambat agar bocah di depannya dapat mendengarnya dengan baik. "Asalkan kau mau kembali kepada kami." "Mamaku... benar-benar berada di sini?" "Ya. Maya bekerja di kantin Lapas," jawab Mithya. "Kau pasti mengira dia dimasukkan ke penjara kan? Astaga, para pemberontak begitu mengerikan. Mereka membohongi kalian pada banyak hal." "Kau tidak membohongiku kan?" Tanya Gail lagi. "Membohongimu? Astaga. Untuk apa, sayang? Aturan Tenebris jelas-jelas melarang kami melukai anak-anak. Orang-orang yang kami kurung itu adalah orang-orang yang melukai kalian." "Tapi..." Edgar menyentakkan tubuhnya, mencoba memberi isyarat agar Gail tidak mendengarkan Mithya. Gail memandang ragu pada Edgar lalu pada Mithya. "Begini saja," kata Mithya dengan nada membujuk yang lembut. "Aku akan mempertemukanmu dengan Mamamu. Setelahnya kau bisa memberitahu kami di mana keberadaan teman-temanmu. Bagaimana?" Gail melirik sesaat pada Edgar dan Edgar menggelengkan kepala. Ia beralih pada Mithya yang menunggu jawabannya. "Ya. Aku ingin bertemu dengan Mama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN