29

1214 Kata
Mithya meninggalkan ruang interogasi. Ia sengaja membiarkan pintu ruangan terbuka sedikit sehingga Edgar dan Gail dapat mendengar suara Mithya yang sedang menelepon di balik pintu. Mithya menyebut kelompok anak hilang yang setiap tahun pada saat pengiriman. Ia menjelaskan telah menangkap Gail, dan agar Gail mau bekerja sama, ia ingin memberikan perlakuan khusus pada Gail dengan mempertemukan Gail dengan ibunya. Mendengar Mithya berterima kasih dengan suara riang, sepertinya permintaan itu disetujui. Selanjutnya Mithya menghubungi orang lain, kali ini suaranya terdengar memerintah. "Nah," ujar Mithya setelah kembali ke dalam ruang interogasi. "Sudah beres. Sekarang kita tinggal menunggu hingga Mamamu dibawa kemari." Gail mengangguk antusias. Bocah berambut abu-abu ikal itu seperti lupa jika saat ini mereka berurusan dengan Wanita yang berbahaya. Edgar masih meragukan permintaan Gail yang disetujui. Bisa jadi ini hanyalah jebakan. "Kalau boleh tahu..." Gail tampak ragu untuk bertanya. Mithya duduk di pinggiran meja di depan mereka berdua, mengangguk ramah. "Silakan bertanya," ujarnya. "Setelah ini... kami akan dibawa kemana?" Tanya Gail. "Sebelumnya, berapa usiamu?" Mithya balik bertanya. "Empat belas," jawab Gail. Mithya mengangguk-angguk, sorot matanya tampak berbinar memandang Gail. "Kalian akan dikirim ke Rhodonka." Jawabnya. Seketika Gail membelalakan mata. "Tidak, jangan takut," kata Mithya segera. "Kalian pasti mendengar hal buruk tentang Rhodonka. Tapi itu tidak benar. Rumor itu hanya agenda dari Pemberontak untuk mengacaukan kehidupan generasi Siprus. Nah, Coba lihat ini," Mithya mendekati Gail, layar ponselnya. "Ini adalah foto anak-anak yang tinggal di Rhodonka. Segalanya terlihat baik-baik saja kan? Lihat pemandangan di belakang mereka. Pepohonan hijau dan rumah asrama yang bersih. Menarik bukan? Dan apakah kau mengenali mereka? Kalian pernah tinggal bersama di Rumah Area Perawatan." Mithya tidak menunjukkan foto itu pada Edgar. Pada saat itu Edgar benar-benar diabaikan. Mithya membiarkan Gail memandang foto di layar ponsel hingga puas. Reaksi Gail tampak jelas menunjukkan rasa penasaran dan juga kebingungan. "Tapi... Kata Paman Kas... Korie dan Del..." Mithya memutar bola matanya, menarik ponsel dari depan wajah Gail. "Jangan percaya kata-kata mereka." "Mereka bilang... ada mayat monster yang terdampar di tepi pantai. Mayat itu berasal dari Rhodonka." Kata Gail lagi. "Siapa yang melihat mayat itu?" Mithya bertanya kepada Gail. Gail ternganga. "Itu..." Ia tergagap. "Pasti ada orang yang sengaja menyebarkan rumor. Apakah dia punya bukti? Misalkan sebuah foto?" Gail terpaku, lalu ia menggelengkan kepalanya. Mithya tersenyum. "Nah, tidak ada bukti kan? Sementara aku punya bukti." Ia menunjukkan ponselnya. "Kehidupan anak-anak di Rhodonka sangat menyenangkan. Sangat disayangkan kau dan teman-temanmu melewatkannya." "Tapi untuk apa Paman Kas dan yang lainnya berbohong kepada kami?" "Karena mereka orang-orang tidak waras." Tandas Mithya. "Orang-orang tidak waras membuat orang lain menderita." Gail tampak memikirkan kata-kata Mithya. Edgar menarik napas kesal. Ia menggelengkan kepala, mencoba menarik perhatian Gail. Gail tidak boleh mempercayai kata-kata Mithya. "Bagaimana dengan Mamaku?" Gail bertanya lagi. "Kau dengar kan percakapanku dengan atasan tadi? Ini adalah kasus spesial. Tapi kami memang harus memberikan hadiah pada orang yang sudah berjasa. Jika kau mau bekerja sama dengan kami, tentu kami akan memberikanmu perlakuan khusus. Kau dan Mamamu bisa pergi bersama-sama ke Rhodonka. Kalian berdua akan hidup bahagia di sana." "Lalu... bagaimana dengan Edgar?" Gail menoleh pada Edgar. "Dia tidak berasal dari Siprus. Apakah kau akan memulangkannya?" Beberapa saat Mithya terdiam karena terkejut dengan pertanyaan Gail yang polos dan sarat ingin tahu. Edgar tersenyum di balik plester yang menutup mulutnya. Ia tahu Mithya sedang menahan kesabaran. Anak-anak bukan lah lawan yang mudah bagi Mithya untuk menjaga kesabaran. Jika Mithya salah langkah, tentu Gail akan menarik ucapannya lagi. Entah apa yang akan terjadi jika Mithya tidak mendapatkan informasi dari Edgar atau pun Gail. Jelas sekali Mithya sangat ingin menemukan 49 anak hilang agar dapat menguntungkan posisinya. "Tentu saja Edgar akan dipulangkan. Dia berasal dari Chroma," kata Mithya setelah hening beberapa saat. "Tapi sebelumnya dia harus mengikuti beberapa proses." Gail mengerjap bingung. "Proses?" Ulangnya. "Ya. Proses pemulangan," jawab Mithya. "Kau tidak perlu mencemaskan Edgar. Untuk saat ini sepertinya Edgar juga sudah terpengaruh dengan agenda pemberontakan. Sebelumnya maaf karena kami harus mengikat kalian. Tapi ini adalah cara agar kalian mau mendengarkan kami. Sungguh, kami tidak bermaksud menyulitkan kalian." Gail menoleh pada Edgar. Edgar segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Jangan percaya pada Mithya! Edgar berharap Gail memahami kodenya. Tapi melihat betapa polosnya Gail, Edgar menyadari jika Mithya telah berhasil memengaruhi bocah polos itu. "Tidak apa-apa," Mithya menepuk bahu Gail. "Edgar masih dalam keadaan syok." "Edgar bilang dia mencari seseorang di Siprus." Kata Gail. "Apakah kau akan mencari orang itu untuknya?" "Tentang saudaranya itu kan? Ya, Edgar sudah memberitahuku. Tenang saja. Aku pasti akan membantunya. Nah. Aku akan memindahkan Edgar untuk proses pemulangannya. Dengan begitu kau bisa dengan leluasa memberitahuku tentang informasi yang kau punya." Edgar membelalakan mata. Ia menggelengkan kepala lagi. Ia memberontak ketika dua orang petugas menyeretnya keluar dari ruang interogasi, memisahkannya dengan Gail. -- Edgar dimasukkan ke dalam sel untuk kedua kalinya dalam satu hari ini. Petugas yang menjaganya adalah orang dewasa yang tubuhnya bak raksasa dan wajah bercodet. Ia tahu jika ia tidak akan bisa mencekik pria itu seperti yang ia lakukan pada penjaga sebelumnya. Si petugas mendengus ketika Edgar mengamatinya, seolah membaca pikiran Edgar tentang mencekik itu. "Jangan samakan aku dengan petugas yang kau bikin pingsan sebelumnya." ia lalu duduk di pos jaganya, membaca koran. Edgar menghela napas. Ia meninggalkan jeruji besi, lalu duduk di atas karpet. Ia memutuskan diri untuk merebahkan diri di atas karpet keras dan gatal itu. Sambil memandang langit-langit hitam di atasnya, ia memikirkan anak-anak terowongan. Dia dan Gail telah tertangkap. Semoga saja tim yang lain tidak. -- SQ1003 baru saja turun dari sebuah kapal yang merapat di dermaga. Ia mengenakan seragam SQF yang berwarna putih bersih, bersama dengan lima pelatihan lainnya. Penanggung Jawab mereka dipanggil Bu Aisle. Bu Aisle adalah wanita ramah dan lembut, ia memanggil pelatihan untuk berbaris. Satu kali perintah, SQ1003 bersama kelima pelatihan segera berbaris rapi di depan sang Penanggung Jawab. "Selamat datang di Rhodonka," kata Bu Aisle sambil melebarkan tangannya. "Kalian akan berlatih menembak di sini. Kita tidak bisa berlatih di Gedung SQF karena pengawasan ketat dari Komite Perlindungan Hak Anak di bawah umur." "Oh, halo!" Seorang gadis segera menghampiri Bu Aisle. Gadis itu mengenakan rambut palsu berwarna jingga, melambai riang pada mereka yang berbaris. "Jadi mereka semua adalah pelatihan istimewa yang dibentuk itu?" tanya Gadis berambut palsu jingga itu sambil melebarkan pasang matanya yang mengenakan kontak lensa berwarna senada dengan rambutnya. Pandangan gadis itu berakhir pada SQ1003. "Ya," jawab Bu Aisle, tampak kikuk. Ekspresi terkejut masih tercetak di wajahnya. "Saya tidak mengira Anda berada di sini." "Oh, saya sedang berjalan-jalan di pesisir Rhodonka. Bosan dengan rutinitas kantor. Kebetulan sekali saya datang pada saat jam pelajaran khusus ini." "Eum, ya." Bu Aisle mengangguk, masih kikuk. "Nah, siapa yang ingin belajar menembak?" Si Gadis berambut palsu bertanya ceria pada para pelatihan. "Asal tahu saja, aku adalah penembak jitu!" Ia tersenyum lebar. "Aku bisa menembak pada titik yang sama lima kali dari jarak jauh. Bahkan ketika mangsaku bergerak ke sana kemari, titik tembakku tidak akan berubah." Para pelatihan istimewa bertepuk tangan. Entah kagum atau pun merasa ngeri, Si gadis berambut palsu itu tersenyum senang mendapatkan tepuk tangan itu. -- Edgar terbangun. Ketika ia membuka mata, ia kembali memandangi langit-langit hitam di atasnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Merasa kebingungan untuk beberapa saat. Mimpi itu... Apakah itu hanya sebuah mimpi tak berarti atau kah ingatan yang selama ini hilang di dalam kepalanya? Apakah dia benar-benar pernah menyeberang ke Rhodonka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN