30

1546 Kata
Edgar masih memikirkan ingatan yang muncul dalam mimpinya. Fakta jika ia pernah berada di Rhodonka adalah suatu hal yang mengejutkan. Tidak masalah jika hal tersebut hanyalah mimpi tak berarti. Tapi bagaimana jika ternyata itu merupakan ingatan yang terlupakan? Ia ingat tentang kelompok Pelatihan istimewa yang dibentuk. Tapi ia tidak ingat pernah berlatih di Rhodonka. Sementara wanita berpenampilan eksentrik yang muncul dalam ingatan Edgar itu adalah pewaris resmi SQF, bernama Valeska Angel. Seorang wanita muda yang telah menjadi icon dalam iklan organisasi. Wajah Valeska selalu muncul di mana-mana beserta kata-kata promosi yang menghasut para orangtua agar mau mendaftarkan putra-putri mereka ke dalam organisasi. "Kau tidur nyenyak?" Edgar bangkit duduk ketika mendengar teguran itu. Si petugas berbadan besar baru saja masuk ke dalam ruangan, membawa nampan. Wah, Edgar sudah melewatkan kesempatan ketika si petugas pergi. Ia rupanya tidur terlalu nyenyak. Sial. Si Petugas menyodorkan nampan itu melalui celah jeruji untuk tempat makanan. Edgar menerimanya dengan senang hati karena ia memang sangat kelaparan. Tapi ia tidak bisa menahan raut wajah kecewa ketika melihat apa yang ada di atas nampan. Hanya sebuah wortel dan mangkuk berisi air. "Kebetulan kebun Lapas sedang panen wortel," si petugas terkekeh senang melihat kekecewaan yang tercetak jelas di wajah Edgar. Si petugas pun duduk di tempat jaganya, lalu menutup diri dengan lembaran Koran. Edgar yang merasa kesal hanya bisa menghela napas. Ia mengambil wortel, membersihkan kotoran yang tersisa di permukaan buah itu sebelum menggigitnya. Ia mengunyah pelan, membiarkan bunyi berisik gemeretuk giginya mengusik keheningan ruangan. Edgar memutuskan untuk menghemat air minumnya yang hanya semangkok. Jika ia minum secara rakus, bukan rasa haus yang menghilang, malahan ia hanya akan menyia-nyiakan jatahnya itu. Edgar mengunyah wortelnya sambil mengamati koran si petugas. Rupanya ada banyak koran yang bertumpuk di atas meja tempat berjaga. Semua koran itu pastinya berasal dari kota-kota yang berbeda. Ia menyipitkan mata untuk membaca tulisan-tulisan yang terlihat dari lembar depan koran yang sedang dibaca oleh Si petugas. Koran itu berasal dari Vanadis, sebuah kota industri di mana SQF dibangun. Bagian depan koran menampilkan wajah walikota Vanadis yang sedang berjanji memberantas ketidakmerataan perekenomian yang ada di kota itu. "Omong kosong!" Seru si petugas penjaga, persis yang dipikirkan oleh Edgar saat itu juga. Ya. Omong kosong. Dengan geram si petugas melipat kembali korannya. Ia tumpuk koran tersebut ke bawah kakinya yang rupanya di sana juga ada setumpuk koran yang sudah selesai ia baca. Si petugas kembali mengambil koran berikutnya. "Sudah berapa lama aku berada di sini?" Tanya Edgar. "Menurutmu?" "Aku tidak tahu." "Kau tidur nyenyak sekali. Seolah kau sedang liburan saja." "Aku kan memang bukan tahanan." Kata Edgar. "Usiaku enam belas tahun. Kalian seharusnya tidak memenjarakan anak di bawah umur." "Tentu saja bisa. Dengan alasan khusus." Dengus si petugas. "Aku dengar ada peraturan Siprus jika : semua anak-anak di bawah usia 19 tahun adalah milik Tenebris." Edgar menyebutkan kata-kata yang pernah ia dengar dari Mithya, seketika si petugas terperanjat kaget mendengarnya. "Jangan berbicara sembarangan!" Bentak si petugas. "Kau berada di dalam sini atas perintah Mithya!" Edgar menelan susah payah wortel yang sudah ia kunyah cukup lama. Ah, mengunyah saja membuatnya lelah. Ia butuh makanan yang sebenarnya. Bukan sayuran seperti ini. Ia menaruh kembali sisa wortel ke nampan. "Menurutmu Mithya itu waras?" Tanya Edgar iseng. "Hei!" Bentak si petugas. Namun Edgar mengabaikan pelototan si petugas berwajah galak itu. Meski Edgar adalah orang asing di Siprus, peraturan itu tentu telah melekat pada setiap orang di kota ini. Mereka pasti tidak akan bisa menyakiti anak-anak karena Aturan Tenebris. "Kurasa dia tidak cukup waras," Edgar berkata lagi. "Jika aku jadi Mithya, aku akan segera mengembalikan anak-anak yang kudapatkan ke Rhodonka. Tapi Mithya malah menyibukkan diri dengan berpatokan pada kata-kata seorang anak kecil yang belum tentu benar adanya." "Tutup mulut!" "Tapi Mithya memang tidak stabil." Edgar tetap melanjutkan. "Dia sudah gila karena ingin memiliki kekuasaan lebih. Maaf. Tapi coba lihat dirimu, berapa tahun kau sudah bekerja di sini? Apakah kau sudah menikah? Kau sudah setua itu tapi hanya bekerja seperti ini terus-menerus? Dari koran-koran yang kau baca itu, tentu kau menemukan ada banyak lowongan pekerjaan yang lebih menarik dari pada menjadi sipir penjara." Kata-kata Edgar seolah telak mengenai si petugas. "Pernah kah kau mampir ke dalam kantor Mithya? Di dalam sana ada banyak camilan enak. Ada banyak keranjang yang diberi pita, dalam setiap keranjang itu berisi penuh camilan. Ada cokelat, roti, pastry kering dan lainnya. Mithya terus saja maju untuk mendapatkan simpati dari atasan kalian, mungkin dia bersiap-siap naik jabatan. Sementara kalian..." Edgar bisa melihat si petugas semakin geram namun tetap mendengarkan kata-katanya. "Kalian akan tetap seperti ini saja meski kalian lah yang berjasa karena menuruti perintahnya. Hei. Aku jadi ingin tahu. Apakah kalian juga akan mendapatkan bonus atau hadiah setelah Mithya sukses? Tapi kok aku meragukan hal itu? Sebab, Mithya itu tidak waras. Dia pernah mengatakan sesuatu kepadaku, seolah dia ingin mengajariku. Dan kurasa kata-katanya ada benarnya juga sih. Kau mau dengar apa katanya?" "Apa?" Tanya si petugas berbadan besar dengan nada membentak. "Katanya : Hukum untuk hidup di dunia ini adalah menjadi yang terkuat." Si petugas mengeluarkan rentetan u*****n. "Kau tahu," Edgar merendahkan suaranya. "Aku tahu mengapa Mithya mengurungku di sini. Kemari lah." Si petugas terlihat keberatan, namun akhirnya ia bangkit lalu bergerak mendekati Edgar. "Jangan coba-coba membual," peringat si petugas dengan telunjuk teracung pada Edgar. "Jika kau menipuku, aku akan mematahkan tulangmu. Kau bukan berasal dari Siprus, pastinya aku tidak akan dihukum jika mematahkan tulang seorang anak dari luar kota." Edgar menyengir saja. Ia tahu si petugas hanya menggertaknya. Bahkan Mithya sendiri tidak tahu batasan dari aturan Tenebris. Dan entah apakah itu Tenebris? Ia semakin penasaran saja. Menyebutkan kata Tenebris begitu ampuh. "Mithya menginginkan kekuasaan yang lebih tinggi. Pencarian anak-anak hilang hanya sebagai dalih agar petinggi kalian merasa tersentuh dengan usahanya. Dan jika pun dia tidak berhasil menemukan anak-anak hilang, dia masih punya senjata ampuh untuk kekuasaannya. Yaitu aku." "Kau?" Ulang si petugas, mendengus tidak percaya. Edgar mengangguk. "Ya. Aku adalah mesin uang Mithya." "Aku tidak percaya!" Kata si petugas, tampak berang karena menganggap Edgar sedang mempermainkannya. "Tidak! Aku serius!" Seru Edgar sebelum si petugas menjauhinya. "Kau tidak bertanya bagaimana aku bisa masuk ke kota kalian? Aku sendiri yang membayar Mithya. Mithya telah korup untuk kepentingannya pribadi!" Si petugas membelalakan mata mendengar tuduhan Edgar terhadap kepala pengawas Lapas. "Sebenarnya kami adalah kolega. Aku dan teman-temanku menyelundupkan sesuatu untuk Mithya. Kami bekerja sama selama ini. Dan aku hanya orang baru dalam kelompok mereka. Tapi Mithya mengkhianati kami. Setelah dia mendapatkan semua uang itu, karena petinggi Siprus mulai curiga kepada kami, bukannya menolong dia malah membiarkan kami ditangkap." "Apa? Apa ini benar?" Tanya si petugas tidak percaya. "Jadi selama ini...? Dia banyak mendulang uang?!" "Kau terlihat kecewa ya? Sama. Aku juga. Aku merasa dikhianati. Dia telah membiarkan teman-temanku ditangkap. Padahal kami sudah berusaha payah masuk ke tempat ini untuk mengantarkan pesanannya. Aku ingin sekali dia hancur." "Dasar bocah, kau terlalu kecil untuk memikirkan cara untuk menghancurkan orang dewasa!" Seru si petugas. "Tapi aku benar-benar kecewa. Gara-gara dia, aku tidak bisa kembali ke kotaku, semua teman-temanku pun ditangkap." "Apa yang kalian bawa untuknya?" Tanya Si petugas penasaran. Edgar membuka suara untuk menjawab, namun mendadak ia urung, menutup kembali mulutnya sambil menyorotkan tatapan waspada. "Ada apa?" Tanya si petugas tidak sabaran. "Maaf," kata Edgar. "Sepertinya aku terlalu polos dan putus asa. Bagaimana bisa aku menjelaskan semua hal ini kepada orang asing? Kau pasti bawahan Mithya. Kau pasti akan melaporkan hal ini kepada Mithya agar hukumanku ditambah lebih berat karena banyak mengoceh." "Apa maksudmu? Untuk apa aku melapor kepadanya? Aku bukan kaki tangannya! Aku bekerja sesuai dengan prosedur! Jika dia telah melanggar aturan, maka seharusnya dia yang ditangkap dan dituntut!" Edgar mengangguk setuju. "Benar. Dia seharusnya menanggung semua kesalahannya." "Beritahu aku, apa yang kalian bawa untuk Mithya?" "Kau akan tahu jika menggeledah isi tas kami yang disimpan itu." Jawab Edgar. "Tas kalian?" Edgar mengangguk. "Apa kau tahu? Beberapa hari yang lalu mobil kami terbalik sebelum gerbang perbatasan?" Tanyanya. "Mithya kejam sekali, ia nyaris membunuh kami. Demi menyenangkan atasan bahkan ia bisa menangkap temannya sendiri. Ck. Jika kau ingin tahu, lihatlah isi barang-barang kami. Mithya pasti sudah menyitanya. Meski tidak banyak, tapi kami membawa sedikit sisa barang yang kami antarkan kepada Mithya. Kau bisa menemukannya sendiri di sana." Si petugas terlihat sedang berpikir. "Kau tidak percaya kepadaku?" Tanya Edgar. "Kesempatan tidak akan selalu datang. Jika kau tidak percaya, maka aku akan menawarkan hal ini kepada petugas yang lainnya. Jadi kita lihat siapa yang menyesal karena tidak mendengarkanku." Si petugas menggeram. "Hanya aku yang ditugaskan oleh Mithya di sini. Kau tidak akan bisa bertemu dengan petugas yang lain." "Yah, jika begitu.... hanya kau yang mengetahui hal ini." "Kau bilang barang itu ada di dalam tas yang disita?" Edgar mengangguk. Sebentar lagi tangkapannya akan masuk perangkap. "Jika kau ingin memeriksanya, periksalah sendiri. Jangan sampai menarik perhatian." Edgar memberi saran. "Oh ya, kau benar-benar harus mengeceknya sendiri. Aku khawatir kau akan dikhianati oleh petugas yang lain jika kau menyuruh mereka melihat isi tas yang disita. Kau harus melihatnya sendiri untuk menentukan langkah apa yang bisa kau lakukan setelah mengetahui keburukan Mithya." "Sial... aku sedang berjaga di sini. Bagaimana aku bisa pergi?" Edgar mendengus. "Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku kan dikurung?" Si petugas tampak berpikir keras untuk beberapa saat. Ketika si petugas membuka mulut, Edgar tahu ia sudah menang. "Hmm, baiklah." Ujar si petugas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN