31

1560 Kata
Edgar nyaris akan berhasil menghasut si petugas bertubuh besar yang sepertinya memang memiliki dendam pribadi terhadap Mithya itu. "Kalau begitu kau tetap di sini," perintah si petugas. "Sepertinya aku tahu di mana tempat barang yang disita disimpan. Aku akan mengecek apakah kau berkata benar atau tidak. Jika kau membohongiku, aku benar-benar akan mematahkan kakimu, tidak peduli peraturan apa pun yang ada di sini." Edgar tersenyum saja kemudian mengangguk. "Cepatlah, sebelum Mithya menyingkirkanku, maka kau tidak punya saksi yang dapat menjatuhkan wanita penyihir itu." Desakan Edgar berhasil membuat si petugas bergegas pergi, meninggalkan tumpukan korannya di atas meja yang belum dibaca begitu saja. "Yah, larilah... lebih cepat!" Desis Edgar tidak dapat menahan rasa riangnya karena berhasil menyingkirkan si petugas penjaga sel. Ia pun melepaskan borgol dari tangannya dengan mudah, kemudian beralih pada gembok sel. Beruntung ia tidak dimasukkan ke dalam sel di mana Gail ditahan. Sepertinya Mithya terlalu bersemangat untuk menangkap anak-anak yang hilang sehingga ia asal saja menaruh Edgar ke dalam sel. Edgar terbebas dari sel. Ia mendekati pintu ruangan, mengintip sebentar ke lorong untuk memastikan jika benar-benar tidak ada petugas lainnya di luar ruangan. Sudah cukup merasa aman, ia segera berjalan memasuki lorong. Beruntung ia masih mengenakan seragam petugas, untuk kesekian kalinya ia menyamar. Namun wajahnya tidak tertutupi, ia tidak punya topi maupun masker. Maka ia berjalan dengan menundukkan kepala. Jika begini, ia bisa segera ketahuan. Edgar terus mencoba peruntungannya. Ia berjalan menyusuri lorong yang lengang. Hanya terlihat satu-dua petugas yang lewat dengan bergegas sehingga tidak menaruh perhatian kepadanya. Kesibukan ini sepertinya menandakan jika Mithya sedang mempersiapkan diri dalam menangkap anak-anak terowongan. Setelah berkeliaran cukup lama, akhirnya Edgar menemukan pintu kantor Mithya. Ia pun segera menyelinap masuk. Seperti yang ia duga Mithya tidak berada di dalam kantor itu. Entah mengapa ruangan itu menjadi pilihan pertamanya untuk bersembunyi sementara. Kadang tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Peluang ditangkap dan selamat hanya berbeda tipis. Dengan kesempatan itu, Edgar mulai menggeledah kantor Mithya. Tanpa Gail, Edgar tidak memiliki arah untuk mencari di mana pintu yang terhubung dengan terowongan di bawah tanah. Mungkin Mithya memiliki denah asli Lapas. Ia harus menemukannya segera. Sudah lebih dari lima belas menit Edgar memeriksa setiap sudut ruang kantor Mithya. Ia belum juga menemukan denah yang ia cari. Ia mulai berputus asa. Tidak mungkin jika ia harus mendatangi Gail yang sedang disekap. Itu sama saja bunuh diri. Dan lagi-lagi ia akan dijebloskan ke dalam sel. Edgar berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memandang ke sekitarnya dengan sorot putus asa. Namun Tuhan sepertinya sedang membantunya dengan cara-cara yang tidak terduga. Pasang matanya berhenti pada figura yang terpajang di dinding di antara lukisan-lukisan bunga dan pantai. Gambar dalam figura itu sama sekali bukan gambar pemandangan atau pun hiasan, melainkan sebuah garis-garis tidak menarik. Sebuah denah. Edgar segera mengambil figura itu, ia tidak menyangka Mithya menggantung denah Lapas di dinding bagaikan sebuah lukisan. Tentu saja Mithya perlu menghapal setiap sudut Lapas Siprus yang luas dan besar ini, makanya denah itu dipajang di dinding agar mudah dihapal. Edgar menelusuri setiap denah dengan telunjuknya, mencoba mencari pintu terowongan bawah tanah. Tok tok. Edgar terdiam dengan tubuh menegang. Ia menoleh pada pintu. Dan kenop pintu berputar. -- Edgar menahan napas. Dalam gerakan kilat ia berhasil memasuki salah satu lemari terdekat. Beruntung ia masuk dan menutup pintu tepat ketika pintu masuk terbuka. Seseorang melangkah memasuki ruangan kantor. Edgar mencoba bernapas pelan tanpa suara. Ia menajamkan pendengarannya. Ia menduga jika orang yang masuk ini bukan Mithya. Suara sepatu melangkah di atas karpet terdengar pelan dan berirama. Menunjukkan jika sang tamu bukan orang yang terburu-buru. Itu artinya orang ini bukan petugas atau bawahan yang ingin melapor. Orang seperti siapa yang bertamu ke kantor Mithya di tengah hiruk pikuk ini? Tidak terdengar suara langkah kaki lagi, orang itu tidak menimbulkan suara sama sekali. Rasa-rasanya setelah semenit berlalu, orang itu masih berada di dalam kantor dan tidak menimbulkan suara. Edgar mulai gelisah di dalam tempat persembunyiannya. Apa yang dilakukan orang itu di dalam kantor ini? Bunyi ponsel dengan lagu klasik pelan memecah keheningan ruangan. "Halo?" Suara seorang pria. Suaranya terdengar lembut dan tegas secara bersamaan. Sama seperti suara langkah kakinya yang lambat dan berhati-hati. "Rupanya kau sedang sibuk?" Tanya pria itu setelah mendengarkan si penelepon beberapa saat. "Ya, aku ada urusan di Vanadis tadi pagi. Dan sekarang aku akan kembali ke Rhodonka." Edgar mengerutkan dahi mendengar nama Rhodonka disebut. "Aku tidak peduli apa yang sedang kau lakukan." Ujar pria itu. "Sebentar lagi aku akan menyeberang, biarkan aku membawa anak yang kau temukan itu untuk menyeberang bersamaku." "Hm? Yang satunya. Yang kau bilang bersama dengan para mahasiswa? Usianya pasti sudah enam belas." Jantung Edgar seperti mencelos ke dasar perut. Apakah orang ini juga sedang mencarinya? "Ya, aku juga ingin membawanya. Hm? Tidak... Aku sendiri yang akan bertanggung jawab. Tugasmu adalah mengurus para mahasiswa itu. Dan pemberontak. Bonus jika kau membawa sisa anak Siprus yang lain." Cara bicara pria itu menunjukkan betapa penting posisinya. "Ya." Kata pria itu lagi. "Aku akan menunggu di dermaga." Langkah kaki mulai terdengar lagi, kemudian suara pintu terbuka. "Oh ya, satu lagi." Pria itu kembali berhenti melangkah. "Rapikan kantormu." Setelahnya pintu menutup. Edgar menghela napas lega. Tanpa ia sadari, ia telah menahan napas karena tidak ingin membuat sedikit pun suara. Pelan-pelan, ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ia segera menuju ke pintu, lalu mengintip keluar. Di ujung lorong, ia melihat sosok pria itu. Seorang pria bertubuh tinggi kurus dan mengenakan setelan berwarna jingga terang. Setelan yang norak. Lalu orang itu menghilang dari pandangan ketika berbelok. Sesungguhnya Edgar merasa penasaran untuk melihat wajah pria itu dengan jelas. Namun ia mengurungkan niatnya selama di dalam lemari. Hal itu terlalu beresiko. Siapa pun yang berurusan dengan Mithya pasti adalah orang yang berbahaya. Edgar kembali memandang denah dalam figura. Baiklah, ia akan mencoba memeriksa segala kemungkinan. Namun sebelumnya ia mengambil beberapa barang milik Mithya, sebuah topi dan masker. Ia butuh alat yang dapat menutupi wajahnya agar tidak terlalu menarik perhatian. -- Lorong lengang dan tidak ada alarm berdering artinya Edgar belum ketahuan kabur dari sel. Jika ia tertangkap lagi, kali ketiga ini pastinya ia akan dimasukkan ke dalam penjara yang berpengaman dengan tingkat tinggi. Dan jika itu terjadi ia tidak akan bisa melarikan diri lagi. Edgar tidak memiliki kemampuan untuk bermain dengan sistem otomatis. Mengikuti denah dalam kain kanvas, membuatnya sampai di kantin Lapas. Ia mengendap-endap masuk. Melihat dari jam dinding, saat ini belum waktunya makan malam, tapi tentu para tukang masak sedang bersiap-siap untuk memasak makan malam. Edgar tentu tidak mungkin masuk ke dalam dapur dan menarik perhatian para tukang masak itu. Belum sempat Edgar berpikir panjang, mendadak tubuhnya ditarik ke belakang, tahu-tahu tubuhnya sudah terbang ke udara beberapa lalu punggungnya menghantam dinding dengan keras. Ia merosot jatuh sambil meringis kesakitan, tulang-tulangnya seperti berkeretak ketika mengenai dinding. Ia mengangkat wajah dan mendesis menahan makian. Si petugas yang sudah ia tipu tadi telah menemukannya kembali, dan wajah si petugas terlihat tidak cukup ramah. Wajah pria itu merah padam menahan amarah. Ia bagaikan banteng lepas yang siap menanduk. "Kau tahu siapa namaku?" desis si petugas penuh ancaman. "Namaku Rus, dan aku adalah petugas paling senior yang ditakuti di dalam Lapas ini! Tidak pernah...." geramnya dengan telunjuk teracung pada Edgar. "Ya! tidak pernah sekali pun ada yang berani menipuku seperti yang kau lakukan! Bocah tengik!" bentaknya. Keributan itu tentu menarik perhatian. Para tukang masak dan pelayan mulai berdatangan ke pintu dapur. "Oh astaga!" para tukang masak itu ternganga dan terkaget-kaget. "Bukankah dia terlihat sangat muda?" "Anak muda di Lapas?" "Ya, aku dengar Mithya memiliki tamu dari luar! Anak-anak muda!" "Apa yang dilakukan kepadanya?!" "Anak itu dipukul! Oh astaga! Kejam sekali!" "Bubar!" seru Rus sambil mengibaskan tangannya yang besar. "Bubar kalian! Asal kalian tahu! Bocah ini adalah penipu!" Melihat Rus sibuk mengusir para tukang masak, Edgar memanfaatkan kesempatan itu segera. Ia bangkit berdiri lalu segera berlari kencang. "Hei! Kau!" panggil Rus di belakang, dan tentu Edgar tidak akan mau berhenti. "Kembali, bocah tengik!" Pria itu segera mengejarnya. Edgar terus saja berlari tanpa tahu arah. Sial... sial... kemana ia harus pergi? Beberapa kali ia harus berbelok karena melihat para petugas yang lain berada di lorong. Dalam kepanikan dan situasi yang genting dikejar oleh banteng marah yang siap menghantamnya, tiba-tiba saja ia ditarik ke dalam kegelapan, dan sebelum ia sempat berteriak, sebuah tangan menutup mulutnya. Pasang mata amber bersinar seperti bola lampu di dalam kegelapan itu. Korie?! "Ssst," bisik Korie, mendelik waspada pada celah pintu di samping mereka berdua. Terlihat sosok besar Rus berlalu tanpa curiga sedikitpun dengan lemari sapu di sebelahnya. Edgar baru menyadari jika saat ini mereka berada di dalam sebuah lemari sapu. Ketika ia sudah terbiasa dengan kegelapan di sekitarnya, matanya sudah dapat menangkap sosok Korie dan peralatan bersih-bersih yang menumpuk di sekitar mereka. "Kau sedang apa?" bisik Korie setelah Rus tak terlihat dari celah pintu, ia menarik tangannya dari Edgar. "Apakah kau punya waktu untuk bermain kejar-kejaran, hah?" nadanya terdengar membentak. Wajah Edgar terasa memanas. "Kau pikir aku punya waktu untuk bermain?" balasnya sewot. "Kau tidak tahu jika tulang-tulangku nyaris patah gara-gara orang itu?" "Dia memang menyeramkan," desis Korie. "Bukankah kau sudah pernah membuatnya pingsan?" Seketika Edgar membelalakan mata. Ya, benar! Ia baru saja mengingatnya! Rupanya Rus adalah petugas berbadan besar yang ia pukul sampai pingsan ketika menyelamatkan Korie pada malam penyusupan itu. "Nah, sekarang kita impas," ujar Korie yang rupanya mengingat baik perbuatan Edgar karena telah menolongnya dari serangan Rus. "Jadi jangan pernah menagih apa pun lagi dariku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN