14

1219 Kata
Kebiasaan itu masih melekat pada Edgar. Ketika ia membuka mata, terbangun akibat siraman sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari kaca jendela, ia bergerak bangkit duduk lalu mengambil ponselnya. Dengan reflek, ia membuka folder rekaman suara hariannya. Namun tidak ada rekaman suara yang ia simpan semenjak ingatannya kembali. Benar saja. Dia tidak perlu lagi mendengar rekaman suara hariannya karena daya ingatnya sudah pulih setelah meminum obat sihir yang ia temukan di ruang rahasia Ben. Walau untuk sementara. Ia mengantongi ponselnya kembali, lalu beranjak berdiri dari sofa. Ia mengecek pintu, dan pintu sudah tidak terkunci. Edgar keluar dari kantor Mithya. Beberapa petugas lalu lalang di lorong namun tidak ada satu pun yang menaruh perhatian kepadanya. Ia pun melangkah menyusuri lorong, mengambil jalan sesuai dengan ingatannya. Dan di tengah lorong ia melihat Sia, Daniel dan Leo berada tak jauh lagi dari posisinya. Ia segera menghampiri mereka. "Oh, Egie!" Sia tampak kaget melihat kedatangan Edgar. "Kau baik-baik saja?" Edgar mengangguk, agak senang mendengar Sia mengkhawatirkannya. "Cobalah untuk bersikap lebih baik pada sepupumu, Daniel." peringat Leo pada Daniel yang tampak cemberut. "Mithya adalah Kepala Pengawas Penjara ini." Edgar memberitahu. "Informasi yang mengejutkan," Leo mengedikkan bahu. "Kau tidak pernah memberitahu kami." Tuntutnya pada Daniel. "Aku juga tidak tahu." Daniel membela diri. "Dan sekarang kalian sudah tahu." Edgar dan ketiga mahasiswa berbalik. Mithya berjalan mendekati mereka dengan gaya angkuh yang masih sama seperti malam tadi. "Kau sudah mengerti kesalahanmu, Sepupu?" tanya Mithya, ia bersedekap sambil melemparkan tatapan tajam pada Daniel. "Ya, ya... aku salah!" Seru Daniel. "Maafkan aku!" Ujarnya namun tidak terdengar tulus. Mithya mengibaskan tangannya. "Anggap saja kita sama-sama impas," ujarnya. "Karena aku tidak memberitahu pekerjaanku kepadamu." "Syukurlah kau mengerti," dengus Daniel. "Kami benar-benar terkejut ketika mengetahui kau adalah Kepala Pengawas di Lapas ini." Ujar Sia. "Ya, kami bahkan tidak tahu jika ada tempat semacam ini di Siprus," tambah Leo. "Aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian. Maaf jika terlambat." Ujar Mithya, mengabaikan kebingungan para tamunya. "Mari, kuantar kalian ke sana sambil menjelaskan tata tertib di sini." Para mahasiswa mengucapkan terima kasih lalu mulai berjalan bersama dengan Mithya. Edgar menyusul di belakang, ikut mendengarkan penuturan Mithya yang panjang lebar, mengingatkan Edgar pada suara wanita dari corong suara elektronik yang membacakan aturan tata tertib di SQF setiap pagi. -- "Siapa yang mengira dia adalah Kepala Pengawas Lapas?" dengus Daniel setelah mereka ditinggal di kamar yang disiapkan untuk kelompok laki-laki. Terlihat jelas Daniel masih belum dapat mempercayainya. "Setidaknya kau beruntung dia memiliki peran cukup penting di Siprus. Dia punya sedikit kekuasaan." komentar Leo. "Karena itu dia dapat mengkondisikan kedatangan kita." "Tetap saja. Kita sudah bayar mahal untuk masuk ke sini," kata Daniel tidak senang. "Aku sudah bertanya kepada Mithya tentang Ben," Edgar ikut nimbrung. "Katanya ilmuwan tidak berada di sini." "Begitu?" Daniel manggut-manggut. "Kita lihat saja nanti apakah omongannya dapat dipercaya." -- Setelah makan siang ala kadarnya di Lapas, Edgar dan para mahasiswa berangkat menuju lokasi pertama dalam penelitian mereka. Mithya sendiri yang mengantarkan mereka dengan mobil. "Apakah tidak merepotkanmu? Kau sampai turun tangan untuk mengantarkan kami." tanya Sia karena Mithya sendiri lah yang mengemudikan mobil. "Kami tidak ingin mengganggu kesibukanmu." Mithya tertawa kecil. "Aku adalah orang yang memberikan kalian akses untuk masuk ke dalam kota. Tentu aku punya kewajiban besar dalam memandu kalian ke lokasi tujuan." ujarnya. "Aku harus memastikan para tamuku aman dan juga tidak terlibat masalah." "Apakah kau mengenal seorang jurnalis bernama Diego?" tanya Leo. "Jurnalis? Diego?" Ulang Mithya. "Hanya ada beberapa jurnalis di kota kami. Dan yang kutahu tidak ada yang bernama Diego." "Kau yakin? Dia pernah tinggal sekitar satu tahun di Siprus," Leo melanjutkan. "Begitu?" Mithya mengetukkan satu jarinya di kemudi. "Coba aku cek nanti. Apakah dia teman kalian?" "Hanya kenalan." Jawab Leo segera, saling bertukar pandang dengan Daniel. -- Area tercemar itu akhirnya benar-benar nyata adanya. Pepohonan tumbuh dengan bentuk yang janggal. Batang pohonnya berwarna putih dan daun-daunnya berwarna cokelat. Warna yang tidak pernah dilihat oleh mereka pada tumbuhan selain di tempat itu. Daniel memotret area yang mereka singgahi. Area itu dipenuhi semak belukar berwarna cokelat dan rupanya berduri. Daniel nyaris saja menginjak semak-semak itu namun Leo yang bermata jeli segera menarik Daniel untuk mundur. "Oh, aku harusnya memberitahu kalian lebih dulu," kata Mithya, tersenyum kecil. "Jangan dekati pohon dan tumbuhan yang ada di sekitar sini. Bunga dan buahnya beracun. Batang dan daunnya berduri." "Mereka bermutasi?" Sia menebak. "Ya, begitu menurut para peneliti yang pernah datang." Mithya segera melangkahkan kaki memasuki area yang dibatasi dengan tali kuning tanda peringatan. Mereka berempat mengikuti di belakang, berjalan dengan waspada agar tidak menginjak atau menyentuh sesuatu yang berbahaya. "Dulu Taman kota adalah area wisata yang sering didatangi oleh para pengunjung dari luar kota." Kata Mithya, bergaya seperti pemandu, mulai menjelaskan secara singkat segala hal yang sudah mereka ketahui dari artikel online. "Namun insiden mengerikan terjadi di tempat ini. Entah bagaimana hal itu dapat terjadi, ada unsur yang memancarkan radiasi dan membuat sekelompok turis terpapar. Radiasi dari unsur itu cukup besar, menyebabkan pemerintah pusat turun tangan dalam menyelesaikan kasus tersebut. Setelahnya taman kota ditutup, para turis dan orang-orang lokal yang terpapar dibawa pergi untuk penyembuhan lebih lanjut. Namun mereka semua meninggal setelah beberapa bulan kemudian." "Karena pada saat itu terjadi di masa lalu, orang-orang menganggap kejadian itu adalah sesuatu yang mengerikan sebagai suatu kematian massal. Sumber penghasilan kami dari tempat wisata pun lenyap karena taman ini harus ditutup. Kabar mengenai kematian di Siprus menyebar cepat sehingga orang-orang mulai menjaga jarak dari kota kami. Belum lagi kami harus bertarung dalam memperbaiki kota akibat radiasi dan pencemaran." Mithya berhenti di depan pita berwarna merah yang menghalangi jalan. "Aku hanya akan sampai di sini," Mithya berbalik kepada para tamunya. "Kalian akan memasuki area paling berbahaya. Bekas radiasi sudah dibersihkan sejak kejadian hingga sekarang, namun akan lebih baik jika kalian berhati-hati. Jangan sentuh apa pun dengan tangan kosong. Di ujung sana kalian akan menemukan sungai yang tercemar merkuri akibat penambangan merkuri yang bocor. Pakai selalu masker dan sarung tangan kalian." Peringatnya. "Baik, kami mengerti," ucap Sia. "Bagus. Baiklah. Sampai nanti," kata Mithya. "Hubungi aku jika kalian sudah selesai." Mithya pun melangkah ke arah berlawanan, meninggalkan Edgar dan para mahasiswa yang terpaku menghadap area di balik pita merah tanda bahaya. -- Mereka berempat melanjutkan perjalanan setelah melewati pita merah pembatas area. "Aku tidak begitu mempercayainya," kata Daniel menggerutu. "Siapa? Mithya?" Tanya Sia. "Setidaknya dia mau membantu kita. Lagi pula dia adalah sepupumu." "Dari mana kau tahu jika dia adalah sepupumu?" Tanya Edgar ingin tahu. "Aku terus merecoki orang tuaku." Jawab Daniel. "Sampai akhirnya mereka memberitahuku jika aku punya sepupu bernama Mithya. Aku minta kontaknya. Namun tidak digubris. Prof yang kasih kontaknya." "Ben?" Tanya Edgar. "Enak banget panggil nama Prof," komentar Leo sinis pada Edgar. Namun Edgar mengabaikannya saja. "Dari mana Ben mendapatkan kontak Mithya?" Tanya Edgar lagi. "Tidak tahu." Jawab Daniel risih. "Prof selalu bekerja seperti pesulap. Tiba-tiba saja dia membawa petunjuk mengejutkan. Kadaver jurnalis itu, dan juga kontak Mithya. Prof memang hebat." "Mungkin itulah mengapa Prof menghilang," ujar Sia, terlihat resah mengingat Ben yang belum juga kembali. "Dia telah melakukan banyak hal yang berbahaya." "Wah," Daniel berdecak. Mereka berempat sampai di depan sungai wisata yang dulunya terkenal itu. Pemandangan pohon dengan batang berwarna putih rupanya belum dapat menghentikan kekaguman sekaligus kengerian mereka. Sungai itu berwarna putih keperakan bagaikan permukaan cermin, dan mengalir tenang tanpa gangguan. "Sungai Bening," kata Daniel. "Ini tidak sebening seperti dalam bayanganku. Ini jelas sungai merkuri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN