13

1207 Kata
Mereka berempat tidak pernah sekali pun menduga akan berakhir di balik jeruji besi seperti ini. "Hei, sudah kubilang. Panggil Mithya! Kami datang kemari atas izinnya!" Daniel masih terus mengajukan protes. Sia dan Leo juga sudah mencoba mengajak bicara baik-baik para petugas berwajah kaku yang berdiri mengawasi mereka. Namun hal itu sia-sia saja. Kedua petugas itu bagaikan patung, sedikit pun tidak merespon. "Astaga, apa mereka berdua patung?!" Daniel akhirnya menyerah."Sial, Mithya sudah membohongi kita! Dasar, pengkhianat!" desisnya jengkel, lalu mengambil tempat untuk berbaring. Edgar, Sia dan Leo mengamati gerak-gerik Daniel yang tak terduga. "Hei, kenapa kalian melihatku begitu?"protes Daniel ketika menyadari ia menjadi objek tontonan dari ketiga anggota timnya. "Kau lucu sekali," komentar Leo. "Baru saja kau berteriak-teriak meminta dilepaskan tapi sekarang kau malah berbaring nyaman." Sindirnya. "Hei, aku lelah, tahu! Lagi pula kalian bertiga sejak tadi diam saja kan? Cobalah membantuku! Aku tidak ingin mati begitu saja sebelum melihat Siprus dengan mata kepalaku sendiri!" "Aku juga tidak berniat mati dengan mudah," kata Sia. "Kami sudah mengajak mereka bicara baik-baik." "Sial... aku benar-benar tidak mengerti mengapa Mithya mengkhianatiku?" gerutu Daniel dengan geram. "Dia mungkin tidak mengkhianatimu," kata Edgar. "Apa maksudmu? Kau kan belum bertemu dengannya, kenapa membelanya? Coba lihat keadaan kita sekarang, bukannya menyambut kedatangan sepupu yang tidak pernah saling bertemu ini, dia malah memenjarakan kita!" omel Daniel panjang lebar. "Kita mungkin perlu menunggu," kata Edgar yakin. "Apa-apaan..." Terdengar suara seorang wanita. Seketika Daniel meloncat bangun. Edgar bersama Sia dan Leo berbarengan menolehkan wajah. Seseorang melangkah mendekati sel dengan bunyi sepatu yang berkelotak nyaring. Seorang wanita tersenyum menyeringai, sinar lemah lampu dalam ruangan itu menyinari wajah wanita itu, dengan bedak tebal hingga membuat wajahnya seperti licin tak berpori, bibirnya merah sekali, serta rambutnya yang ikal digelung. Tak terlihat sedikitpun kemiripan antara Mithya dan Daniel sebagai sepupu. "Mithya!" Seru Daniel, kembali menempelkan dirinya pada jeruji besi. "Kau Mithya bukan? Dari mana saja kau? Cepat keluarkan kami dari sini! Beritahu orang-orang itu jika mereka sudah salah menangkap!" "Ck, kau ternyata sangat ribut dari bayanganku." keluh Mithya sambil mengorek sebelah telinganya dengan ujung kelingking. "Kau bilang aku seharusnya menyambut kedatanganmu karena kita tidak pernah bertemu? Astaga," desahnya kesal. "Tapi... kita memang belum pernah bertemu kan?" Tuntut Daniel. "Oh, oh, astaga... kau, Mithya... kau kelihatan lebih cantik daripada di foto, benar-benar jauh dari bayanganku! Nah, nah, gadis cantik, ayo keluarkan kami. Oke?" bujuknya. "Kau sungguh tidak tahu malu," desis Mithya. "Kau lupa sudah menyebutku pengkhianat." "Ap... Apa?" Daniel tergagap. "Berapa usiamu?" Tiba-tiba Mithya mengalihkan perhatiannya pada Edgar. "Eh?" Edgar yang terkejut menunjuk dirinya sendiri. "Enam belas?" "Apa-apaan ini? Kalian tidak memberitahu jika tambahan peserta itu adalah seorang bocah yang masih minor. Cepat keluarkan dia!" wanita itu menunjuk ke arah Edgar, memberi perintah kepada kedua petugasnya. "Dan biarkan ketiga yang lainnya tetap di sini!" "A... apa? Hanya dia? Mi... Mithya?!" Edgar tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Pintu sel dibuka, lalu ia ditarik keluar oleh salah satu penjaga, satu petugas yang lain menahan Daniel yang mencoba keluar dari sel. "Mithya! Apa-apaan kau?!" seru Daniel sambil mencoba menarik pintu sel yang sudah dikunci kembali, ia mengguncang-guncang jeruji dengan keras. "Tega sekali kau membiarkan kami bertiga di dalam sini?!" "Cobalah renungkan sikapmu. Besok, mari bertemu kembali." ujar Mithya pada Daniel dengan ekspresi menahan kekesalan. Lalu ia menoleh pada Edgar. "Kau, ikut aku." Perintahnya lalu melenggang pergi. Edgar buru-buru menyusul langkah cepat Mithya. -- "Makanlah," Mithya menawari camilan di atas meja. Ia mengambil satu bungkus permen, lalu duduk di kursi merah berbahan empuk. Edgar yang baru saja memasuki ruangan, menoleh pada pintu yang tertutup di belakangnya. "Jangan takut. Duduklah," kata Mithya. Edgar memutuskan untuk menerima tawaran itu. Ia segera mengambil duduk di kursi seberang Mithya. "Kenapa kau bisa sampai pergi bersama dengan sepupuku?" Tanya Mithya, tak lagi berbasa-basi. Edgar berpikir sejenak untuk memberikan jawaban. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk berkata jujur saja. "Saudaraku menghilang," jawab Edgar "Oh ya?" Mithya memasukkan permen ke dalam mulutnya setelah merobek bungkusnya. "Mereka tidak menuliskan alasan keikutsertaanmu dalam perjanjian kami." "Mereka belum memberitahumu jika yang membayarmu adalah aku?" Tanya Edgar. "Kau? Yang membayar? Mustahil," dengus Mithya tidak percaya. "Bagaimana bisa seorang bocah enam belas tahun punya banyak uang?" "Ya. Aku punya banyak uang dari saudaraku. Dan belum pernah kugunakan." Kata Edgar apa adanya. "Jadi sekarang kugunakan untuk biaya perjalanan ini." "Siapa nama saudaramu? Dan mengapa saudaramu bisa sampai di sini?" Tanya Mithya berikutnya. "Namanya Benjamin Alan." "Hmm, tidak pernah dengar." "Dia seorang ilmuwan." "Yah. Ilmuwan biasa lewat sini," Mithya mengakui dengan ekspresi ragu. "Tapi hanya lewat. Ilmuwan tidak berada di sini." "Benarkah?" Edgar tidak bisa menahan kekecewaannya. "Coba kau cek lagi, siapa tahu ada kunjungan dari orang yang bernama Benjamin Alan beberapa bulan lalu." "Aku punya tugas tambahan mengecek siapa yang keluar masuk, tapi tidak pernah dengar nama itu," kaya Mithya, tak membantu. Edgar menghela napas. "Jadi... tempat apa ini?" tanya Edgar lagi. Ia mengamati sekeliling ruangan dengan d******i warna marun. Tirai jendela berwarna marun dengan renda emas, karpet tebal berwarna marun hingga sofa dan kursi yang sedang diduduki oleh mereka berdua pun berwarna senada. "Ini kantorku," jawab Mithya. "Aku adalah Kepala Pengawas Penjara." Edgar membelalakan mata. "Kau adalah Kepala Pengawas Penjara?" Ulangnya, terkejut. Mithya mengangguk. "Mengejutkan ya? Soalnya aku belum pernah bilang. Apakah Daniel memang tidak sopan seperti itu?" Ia mengalihkan topik. "Sungguh mengecewakan. Aku hampir berpikir untuk mendepak kalian pergi." Edgar tak tahu harus merespon bagaimana. Ia juga merasa malu karena Daniel terlalu bersikap berlebihan ketika ditangkap dan dikurung. "Dia hanya tidak terbiasa berada di dalam penjara." Akhirnya dengan bijak Edgar mengutarakan pendapatnya. Sementara aku, aku sudah terbiasa berada di balik jeruji besi. Katanya pada diri sendiri. "Begitu? Yah. Orang-orang kota. Wajar sih. Mereka jadinya ketakutan begitu ya?" Akhirnya Mithya mendengus geli. "Tadi kau bilang para ilmuwan hanya lewat kan? Jadi kemana para ilmuwan itu pergi?" Tanya Edgar ingin tahu. Senyum Mithya menghilang. Edgar menangkap ekspresi tidak nyaman dari wanita itu. Jangan-jangan wanita itu telah tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang memacu pertanyaan baru. "Ada hal yang bisa kujawab dan tidak." Kata Mithya dengan nada tegas. Wanita ini tidak akan mau membantu lagi, pikir Edgar. "Aku masih punya uang..." "Simpan saja uangmu," potong Mithya segera. "Ini sudah larut malam. Dan kami masih belum menyiapkan kamar kalian. Tapi kau bisa tidur di sini," kata Mithya. "Di sini?" Ulang Edgar kaget. "Ya. Di kantorku." Sungguh tawaran aneh, seorang kepala pengawas memperbolehkan bocah untuk tidur di sini. Edgar tidak menyangka ia akan mendapatkan tawaran yang lebih mewah daripada mendekam di dalam sel. "Luruskan tubuhmu. Dan makan saja semua camilanku. Oke?" Mithya bergerak berdiri. Edgar tidak mengatakan apa pun lagi karena ia masih kebingungan. Akhirnya Mithya keluar dari kantor, meninggalkan Edgar sendirian. Edgar segera menyusul ke pintu. Namun ia tidak dapat membuka pintu. Ia telah dikunci dari luar. Yah. Ini sama saja dia sedang dikurung. Bedanya ia dibiarkan di dalam kantor yang terasa lebih hangat dan ada kursi sofa untuk berbaring. Sebenarnya Edgar bisa saja membuka pintu yang terkunci dengan keahlian kecilnya dalam membuka kunci. Tapi ia memutuskan untuk bersikap sopan. Kerusuhan yang dibuat Daniel sudah cukup mengacaukan, tidak perlu ditambah olehnya. Dengan senang hati ia menerima tawaran Mithya. Ia pun berbaring di atas sofa. Edgar masih memikirkan Sia yang harus tidur di dalam penjara. Tapi ia tidak bersimpati pada kedua pria yang lain. Hingga akhirnya ia pun terlelap tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN