Edgar juga memiliki rasa takut. Kapan saja dia bisa mati. Tertembak, atau apa pun caranya, bahkan dimakan oleh monster-monster di luar sana. Tapi Edgar percaya pada peluang. Selagi ia masih memiliki kesempatan itu berarti dia masih harus terus maju. "Kau benar-benar bocah nekat," Harol berbisik dengan suara bergetar. Mereka berdua berdiri di samping pintu kiri dan kanan, senjata di tangan, siap akan bergerak keluar dari ruang rawat. Keduanya menempelkan sebelah telinga ke daun pintu, sama-sama memastikan jika tidak ada suara di balik pintu. "Kau bisa tetap di sini menunggu Paman Hovak," bisik Edgar kepada Harol. "Oh ya? Lalu membiarkanmu berjalan sendirian tanpa tahu arah menuju aula? Si tua itu pasti senang punya alasan untuk menembak kepalaku," desis Harol kesal namun juga menahan

