Fira mengerti, ia juga tidak bisa memaksakan kehendak pada sang suami, pria itu sudah menderita selama ini, betapa tidak adilnya kalau dirinya memaksanya melakukan sesuatu yang tidak bisa untuk dilakukannya,”tenanglah, paman. Aku mengerti, aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Aku sangat mengerti tentang perasaanmu. Akulah yang bersalah, aku pergi tanpa izin darimu seenaknya saja, lalu tiba-tiba kembali, bukankah aku begitu sangat egois?” Dia mengambil tangan suaminya lalu menggenggam tangan tersebut. “Sudalah, sekarang kau berdandan saja dulu. Aku akan mengambilkan baju yang cocok untukmu, setelah itu kita bisa pergi bersama.” Pria itu menarik tangannya dan membalas genggaman tangan tersebut lalu meletakkan alat pengering rambut. Fira mengangguk, ia pun mulai merias wajahnya sebisanya.

