Pagi ini aku bangun dengan suasana yang berbeda, bagaimana tidak kali ini aku bangun di apartemennya Dimas. Jam yang berada di dinding di sisi kiriku menunjukkan pukul 8 pagi lewat dua puluh. Dasar memalukan. Bagaimana bisa aku bangun sesiang ini di apartemen orang. Tidak cukup mempermalukan diriku yang bangun terlambat, sarapan yang Dimas persiapkan untukku di nakas di samping ranjang membuatku ingin menghilang dari sini secepatnya. Bukannya bersikap sebagai tamu yang tahu cara berterima kasih dengan menyiapkan Dimas sarapan, aku malah menjadi tamu tidak tahu diri yang membuat Dimas yang melakukan hal itu. Untung saja Dimas sudah pergi pagi tadi ketika aku masih tertidur, ia meninggalkan note di dekat sarapan yang ia siapkan, mengatakan kalau ia akan berangkat ke kampus. Mungkin ia punya

