“Don’t get me wrong Dim,” balasku berusaha menjelaskan. “Look, aku setuju soal apa yang dikatakan Theo, tapi bukan berarti aku menilai diriku sendiri rendah.” tambahku. Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha menormalkan nada suara ku. “Itu sudah jadi resiko kerjaan aku Dim. Memang apa yang bisa kamu harapkan sih dari hidup sebagai seorang pekerja di Bar. Aku mau tidak mau pasti berhadapan sama hal-hal seperti itu Dim. Tiap harinya.” Sebenarnya aku malu berbicara dengan gamblangnya tentang bagaimana kehidupanku yang sebenarnya kepada Dimas sebagai seorang bartender di Bar. “Tapi kamu gak ikut-ikutan kayak mereka kan Fi?” tanyanya ragu-ragu, mungkin dia takut mendengar jawabanku. Pertanyaannya membuatku tertohok, diam-diam aku kecewa melihat ekspresinya. Seolah-olah mengisyaratkan kal

