Chapter 47

1514 Kata

“Wuih lo mobil nyolong dimana nih?” tanyaku ketika Lingga muncul tepat pukul sembilan lebih lima menit di depan gerbang dengan mengendarai sebuah Fortuner Hitam. “Bacot lo, masuk cepet,” ujar Lingga dari balik kemudi. Ia tidak berniat repot-repot turun untuk membukakan ku pintu mobil seperti yang biasa Dimas lakukan. Memang apa yang bisa kuharapkan dari kunyuk satu ini. Justru mungkin aku akan lebih kaget lagi kalau ia dengan sukarela turun dari mobil hanya untuk membukakan ku pintu. “Kita mau kemana sih?” tanyaku sembari memasang seatbelt. “Udah diem aja. Nanti lo juga bakalan tahu kok.” “Ck, dasar sok misterius lo.” Satu setengah jam kemudian kami tiba disebuah rumah berarsitektur eropa dengan cat putih yang mendominasi. Sepertinya ini rumah peninggalan Belanda, pekarangan rumah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN