Belum cukup kekesalanku akibat chat dari Mira yang sepertinya tidak main-main, malam ini bertambah buruk ketika mobil yang aku dan Lingga tumpangi berhenti di depan gerbang, sosok Dimas yang bersandar di samping pintu mobilnya terlihat dari jendela mobil Lingga. Rasanya aku tidak ingin turun untuk menghadapi Dimas, tenagaku hari ini sudah kukuras habis untuk meladeni tingkah hiperaktif Om Dirga dan ditambah chat Mira yang membuatku benar-benar emosi. Ingin rasanya aku meminta Lingga kembali melajukan mobilnya membawaku kemana saja, ke tempat dimana aku bisa mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. “Jalan lagi aja yuk Ling,” pintaku asal ketika Lingga baru saja mematikan mesin mobilnya. “Lo lagi ngigau? ini udah nyampe di kosan lo. Sana masuk tidur.” Lingga sepertinya menganggap permintaank

