“Kamu nggak akan menyesal ngikutin permintaan Mama kan?” Alfian memberikan pertanyaan itu kepada Tari yang kini berada di sampingnya sembari membaca salah satu majalah tentang Interior dan Arsitektur. Mereka berdua -bertiga dengan Ridwan, tangan Kanan Alfian- sedang berada di kursi kelas bisnis dari salah satu maskapai penerbangan internasional. Tari menghela napas, menutup majalahnya lalu menaikkan bahunya “Mungkin,” ujarnya singkat. Alfian melihat sorot mata Tari. Terlihat sendu dengan banyak hal yang dia pikirkan. Sama seperti kata Bianca, dia tahu bahwa adik tirinya ini tak pernah bisa berkutik dengan permintaan Mama Ambar. “Kamu nggak bisa terus melarikan diri kayak gini.” “Mas Afi juga melarikan diri kan?” Alfian mendesah, “Awalnya. Rasa kaget dan tak percaya yang kurasakan saa

