Untuk pertama kalinya, langkah kakiku terasa begitu ringan saat berjalan menuju ruangan dokter Riska. Meskipun ada sedikit rasa ketakutan, tapi setidaknya rasa itu tak sebesar rasa bahagia yang aku rasakan mengingat Deeva bisa kembali tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi. Feelingku mengatakan bahwa kali ini dokter Riska tak akan memberiku kabar buruk. “Ra... Tunggu ...” Panggil seseorang di belakangku membuatku menoleh. Aku melihat Alfian sedikit tergesa berlari kecil ke arahku. Kulihat jam tanganku, seharusnya pria itu ada di kantor sekarang bukannya di rumah sakit. “Kenapa ke sini?” tanyaku melihatnya terengah-engah. Satu tangannya memegang tanganku seolah mencari pegangan. Jasnya sudah terlihat berantakan dengan satu kancing kemeja terbuka serta dasinya yang longgar menandak

