Bab 5 - Percobaan (2)

2034 Kata
Hal yang pertama kali aku lakukan setelah kepergian Alfian adalah berdiri dan merapikan bagian belakang pakaian yang berdebu. Kuputuskan untuk memanggil suamiku dengan namanya daripada aku terus menggunakan ‘pria itu’ atau ‘pria dingin itu’. Setidaknya memanggil namanya jauh lebih sopan. Jujur, aku masih bingung harus memanggilnya dengan panggilan apa. Pria itu terlalu dingin dan sangat irit bicara sehingga aku tak dapat mengatakan apa pun. Walaupun hari ini, aku mendengar 5 kalimat pendek yang dia ucapkan. Dan itu sudah membuat gemuruh di dadaku semakin hebat. Kukibaskan bagian belakang pakaianku, sembari melirik ke arah pintu yang tepat di depan. Wajahku kembali memanas bagaimana aku bisa begitu berani menyalami tangannya bahkan mengecup punggung tangannya seperti tadi. Kembali kugelengkan kepala cepat membuang pikiran nyeleneh yang terlintas di otakku. Sebelum akhirnya bersiap untuk kembali ke kenyataan bahwa sebelum menyandang predikat istri orang. Aku adalah seorang Mahasiswa tingkat akhir yang berjuang dengan skripsi dan beberapa mata kuliah yang belum selesai ataupun sengaja kuulang. Jam menunjukkan pukul 8 pagi saat aku sampai di kampus setelah penuh perjuangan naik angkutan umum. Jarak apartemen dan kampus yang berlawanan membuatku sedikit bingung dan akhirnya berakhir dengan 1 jam perjalanan. “Eh, adek gemes kelihatannya kecapekan,” kekeh Rena salah satu teman satu angkatan yang melihatku berjalan menuju lorong kampus. Dia terlihat sedang duduk di bangku sekaligus pot bunga yang ada di depan kelas. Aku berjalan ke arahnya, “Eh, Kak Rena ada di sini,” ledekku sengaja memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’. Wajah yang awalnya tersenyum kepadaku kini terlihat memerah. Aku sengaja melakukannya, dia tak pernah suka kupanggil dengan sebutan kakak walaupun sebenarnya umurnya dua tahun lebih tua dari umurku. Kelas Akselerasi yang kuambil saat SMP dan SMA membuatku dua tahun lebih cepat kuliah daripada mahasiswa lain. Awalnya aku ingin mengambil kelas akselerasi agar bisa kuliah di salah satu universitas Ivy League, tapi karena aku anak perempuan terutama bungsu membuat kedua orang tuaku melarangku kuliah S1 di luar negeri, namun berjanji akan mengizinkanku melanjutkan S2 di sana. Yah ... walaupun pada akhirnya aku harus menahan lagi keinginan itu, karena permintaan Mama untuk menikah dengan Alfian. Sekarang aku bahkan tak tahu, apakah nanti aku bisa melanjutkan mimpi itu atau menghentikan mimpi itu di tengah jalan untuk menjadi istri yang baik untuk Alfian. “Sudah aku bilang jangan panggil dengan sebutan itu,” dengusnya menjawab godaanku dengan kesal. Wajah sendu yang sempat terlihat aku ubah dengan cepat lalu tertawa mendengar dengusan Rena lalu duduk di sampingnya sembari memangku buku yang kubawa, mataku memperhatikan wajahnya yang menatap ruang kelas yang akan kami masuki. Gadis asli Kalimantan dengan nama panjang Rena Adriana ini memiliki wajah khas Banjar dengan wajah putih bersih terlihat seperti keturunan Belanda dan Arab. Rambut panjangnya tergerai lurus dan cantik dengan warna cokelat tua. Dia satu-satunya orang di fakultasnya yang bisa dekat dengannya tanpa memandang umur mereka yang berbeda. Sifatnya yang selalu ingin terlihat lebih muda membuatku merasa nyaman bersamanya. Aku merasa Rena adalah teman rasa kakak. Terutama, jika mengingat namanya mirip dengan Bang Reno, kakak sulungku yang kini kuliah di Inggris. “Gimana? Sudah ketemu sama dosen pembimbing?” tanya Rena yang menggeser duduknya mendekat. Kuhela napasku sebelum kemudian menggeleng, pikiranku satu bulan terakhir dipenuhi dengan pernikahan mendadak yang kulalui bersama Alfian, membuatku sedikit melupakan skripsiku. “Kamu sudah?” Rena menggeleng mendengar pertanyaanku. Wajah kami berdua sama-sama ditekuk sebelum kemudian Rena menyandarkan kepala di bahuku yang langsung kutimpa dengan kepalaku. Napas kami menghela bersahutan. Tangannya tiba-tiba saja mengelus kepalaku pelan, seolah memberikan semangat, padahal dia juga memerlukan semangat. “Yang ikut kelas akselerasi sama kebanggaan fakultas Ekonomi saja desah, apalagi gue ya ...” desahnya yang hanya kutanggapi dengan dengusan. Aku tak sepintar itu, hanya saja entah mengapa, dari jaman SD aku lebih suka menghitung segala sesuatu yang berbentuk uang daripada harus menyelesaikan hitungan matematika IPA. Dan saat aku menyukai sesuatu maka aku benar-benar belajar untuk menguasainya. Aku menaikkan kepalaku dari kepala Rena memandang sudut kampus yang terlihat mewah. Taman yang ada tepat di depan mereka duduk sekarang terlihat begitu menggoda untuk menghamparkan kain lebar dan piknik di rerumputan hijau yang memenuhinya, belum lagi pohon-pohon yang menjulang tinggi, sebagai peneduh. Rena yang menyadariku menatap ke arah taman kampus mengangkat kepalanya, lalu menatap ke arahku. “Kenapa? Iri sama Campus Couple yang sering duduk-duduk sama bermesraan di sana?” tebaknya membuatku membulatkan mata. Bagaimana seorang Rena Adriana ini seolah semacam cenayang yang bisa mengerti segala sesuatu yang sedang kupikirkan? “Hah ... Beneran cenayang ini orang,” ujarku terkejut membuatnya kembali mendelikan matanya lalu menjentikkan jarinya ke dahiku sehingga membuatku mengaduh dan mengusapnya. “Muka lu kelihatan mupeng begitu Maharani Varisa,” kekehnya membuatku mendengus. “makanya cari pacar, hampir empat tahun gue sama lo, jangankan pacar lihat cowok saja langsung kabur,” dumelnya menggelengkan kepala sembari menatapku dengan gemas. “Bukanya kabur. Umur kita beda, Kak. Tiga tahun lalu umurku baru 16 tahun. Beda sama Kakak yang sudah makan asam garam drama percintaan,” kekehku kembali memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ “Sialan,” dengusnya kesal sebelum kemudian tatapan mata kami kembali bertemu dan tertawa bersama. Aku menatap Rena dalam diam, rasanya memang menyenangkan mempunyai teman bicara sepertinya. Tapi, rasanya ... aku masih merasa berat untuk mengatakan kepadanya bahwa gadis yang dia katakan selalu kabur jika melihat cowok itu kini sudah menikah dan terikat dengan pria dingin nan tampan bernama Alfian Abiyaksa itu. Jujur, salah satu hal yang ada di dalam bucket list yang berisi daftar yang ingin aku lakukan sebelum meninggal adalah melakukan piknik bersama pacar yang aku cintai. Kuhela napasku dalam menyadari bahwa hal itu harus kembali ku coret karena mulai sekarang aku tak akan pernah punya pacar melainkan seorang suami. Bunyi bel yang terdengar menyadarkanku. Aku melirik Rena yang kini sudah bangkit, mengambil buku-buku yang ada di pahaku lalu menarik tangan agar berdiri. “Masuk yuk ... semangat! Sisa sedikit lagi kita bebas dari aktivitas kampus,” kekeh Rena dengan senyuman manis menarik tanganku untuk masuk kelas. ***** Aku sedang membereskan catatan dari kelas terakhir saat melihat Rena mendekatkan kursinya ke arahku, “Mau jalan dulu sebelum pulang?” tawar Rena membuatku gamang. Kulirik jam yang melingkari tangan kiriku, melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul 3 sore. Aku ingin mengiyakan ucapan Rena sebelum menyadari bahwa aku sekarang berstatus istri orang yang tak mungkin pergi begitu saja tanpa mengabari suamiku. Kulihat Rena yang menatapku dengan mata berbinar, aku mendesah sebelum akhirnya menggelengkan kepala lemah. Binar di mata Rena terlihat redup saat melihat penolakan, “lain kali ya ... banyak kerjaan di rumah,” ujarku jujur. Pekerjaanku di apartemen memang sedang banyak. Aku perlu membersihkan apartemen dan juga memasakan Alfian makan malam. Walaupun sebenarnya aku sangsi apakah pria itu akan pulang cepat dan memakan makan malam yang aku masakan untuknya. “Sorry ...” desahku lemah yang dijawabnya dengan anggukan kecil. “Nggak pa-pa,” ujarnya kembali mengumbar senyum yang membuatku membalasnya dengan senyuman yang sama. “Yuk, keluar ..” ajaknya lagi membuat kami berjalan bersisian ke luar kampus. Kami berpisah di halte busway yang mengantarkan kami ke rumah masing-masing. Kubuka buku note kecil dari tas selempang yang kubawa. Membuka halaman di mana aku menuliskan nomor bus yang akan mengantarkanku ke apartemen Alfian. Sepertinya, aku memerlukan tiga pemberhentian lagi. Sesampainya di apartemen, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku bergegas masuk ke kamar, menaruh tas kuliahku sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi yang berada di luar ruangan untuk membersihkan diri. Setelah keluar dengan pakaian yang lebih santai, aku mulai mengambil sapu dan alat pel untuk membersihkan apartemen ini. Aku tak ingin menjadi beban Alfian dengan hanya makan dan tidur di tempat ini. Setidaknya membersihkan apartemen dan memasak untuknya adalah hal yang paling bisa aku lakukan untuk membuatnya menyadari keberadaanku. Setelah bersih-bersih, aku langsung membuka kulkas untuk melihat masakan apa yang bisa aku buat dengan sisa bahan yang ada. Pilihanku menatap ke arah tahu dan taoge panjang yang ada di sana. Sepertinya, ikan nila goreng dengan tumis tahu taoge adalah hal termudah yang bisa aku buat hari ini, sedangkan untuk sarapan sepertinya aku memutuskan untuk membuat soto yang bisa dia makan hangat-hangat. Aku menyelesaikan masakanku bersamaan dengan azan maghrib yang berkumandang. Kembali kulirik pintu apartemen, berharap pria itu segera datang dan memakan makanan itu setelah Shalat maghrib, namun sepertinya pria itu kembali lembur. Kuhela napasku dalam saat menyadari dari hari pertama pernikahan kami, Alfian selalu pergi pagi – pagi buta dan pulang larut malam. Pikiranku melayang, memikirkan apakah pria itu memang mempunyai banyak tugas di kanto atau malah sengaja menghindari keberadaanku di sini? Ku buang pikiran buruk itu, sepertinya aku harus Shalat untuk menenangkan pikiranku. Mataku kembali melirik ke arah pintu apartemen, berharap pintu itu terbuka dan Alfian ada di sana. Namun, saat tak mendengar suara kunci pintu yang kulakukan hanyalah menarik napas sebelum kemudian kembali ke arah dapur untuk menutupi masakanku, Sepertinya, Alfian akan pulang larut malam lagi. Dan dia harus memanaskan makanan itu nanti. Langkahku terasa gontai menuju ruang keluarga, mengambil remote lalu menyalakan tivi sembari menunggu kedatangan pria itu. Kepalaku terangkat kemudian menatap ke arah langit-langit apartemen ini. Aku sudah cukup bingung dengan cara apa lagi yang bisa kulakukan untuk meruntuhkan dinding es yang pria itu bangun. Haruskah aku kembali bersikap frontal agar dia mengerti? Kugaruk kulit kepalaku yang tak gatal sebelum kemudian mengganti channel ke channel khusus Drama Korea. Setidaknya dengan menonton drama bergenre Romantis Komedi, dapat membuat kehidupanku yang tidak romantis ini menjadi lebih berwarna. Sebelum kemudian, setelah beberapa jam menonton. Mataku mulai kembali sayup dan aku kembali tertidur dengan suara tv yang berbunyi. Entah sudah berapa lama aku tertidur, namun sayup aku mendengar bunyi seseorang memasukkan password pintu. Tubuhku lelah setelah seharian beraktivitas, sehingga mataku benar-benar tertutup rapat. Aku mulai kembali tertidur sejenak, sebelum tiba-tiba mataku terbuka. Aku tersentak saat melihat pria yang berstatus suamiku itu berada di dekatku berdiri membeku dengan tangan yang memegang sebuah selimut seolah ingin menutupi tubuhku. Tatapan kami tiba-tiba terpaku. Sejenak. Debaran jantungku kembali berdebar dengan begitu cepat saat melihat mata abu itu menatapku dengan lekat. Wajahku berubah menjadi merah dan aku kembali salah tingkah. “Ehem ..” dehemku, “s-sudah pulang?” tanyaku membuka pembicaraan di antara kami. Aku sontak bangkit dan duduk di sofa lalu melihatnya kembali melipat selimut putih yang tadi dia bawa. Dia menatapku seolah ingin mengucapkan sesuatu sebelum kemudian dia urungkan dan menjawab pertanyaanku tadi dengan anggukan kepala. “Sudah makan? aku sudah masakan sesuatu untukmu ...” ujarku memberanikan diri untuk melihat ke arahnya. Alfian terlihat melirik ke arah meja makan dengan tudung nasi di dalamnya. “Aku sudah makan,” “Aku belum,” ucapku cepat mengetahui bahwa pria itu ingin menolak makanan yang aku masakan untuknya. Dia terlihat terkejut dengan ucapanku, wajahnya terlihat merasa bersalah. Suasana kembali canggung di antara kami, namun untuk kali ini aku meyakinkan diriku untuk memberanikan diri untuk kembali melangkah. “Kalau kamu sudah makan, setidaknya temani aku untuk makan malam, makan terakhirku siang tadi, dan aku menunggumu untuk makan malam bersama,” lanjutku membuatnya menarik napas dalam, sebelum kemudian meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat punggung bidang pria itu yang berjalan ke arah kamar, membuatku sedikit kecewa. Air mata yang kutahani sejak kedatanganku di rumah ini akhirnya keluar. Rasanya sedih dan sakit merasa aku berjuang sendirian untuk membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang normal seperti orang kebanyakan. “Jangan menangis Maharani ....” ujarku mengangkat kepala mencoba menahan air mataku yang keluar, Menarik napasku dalam mencoba menenangkan diri dan menghapus tangis itu. “Sadarlah ... hal ini juga tak mudah untuknya,” ucapku mencoba menenangkan diri sebelum kemudian kembali ke dapur untuk memanaskan masakanku di microwave. Perutku sudah begitu keroncongan karena belum diisi apa pun sejak siang tadi. Tubuhku membeku saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Menolehkan kepala ke kiri dan melihat Alfian keluar dari kamar. Pakaian kerjanya kini berubah menjadi kaos rumahan dengan celana pendek sebatas paha. Napasku kembali tercekat saat menyadari pria itu terlihat semakin memesona dengan pakaian rumahan seperti ini. Senyumku perlahan terulas tipis saat menyadari bahwa pria itu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dengan langkah santai, aku kembali ke arah kabinet atas untuk mengambilkan piring lain untuknya. Kuletakan piring berisi nasi ke depannya, “Aku tak bisa menghabiskan masakanku sendirian,” ujarku tersenyum lebar ke arahnya yang hanya bisa menghela napas menatapku dingin yang kini duduk di sampingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN