Bab 6 - berteman?

1247 Kata
Aku mendesah menatap layar ponsel yang menampilkan chat dari dosen pembimbingku yang mengatakan bahwa jadwal bimbingan skripsi dengan beliau kembali dibatalkan. Ini sudah beberapa kalinya bulan ini, belum lagi bulan-bulan sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bisa lulus dengan cepat jika dosen itu sering main kucing-kucingan dengan mahasiswa bimbingannya. Aku terduduk di bawah pohon yang ada di taman kampus, bersandar di batang pohon paling besar di kampus setelah berlarian ke sana ke mari untuk mencari dosen pembimbing ke mana-mana dan berakhir dengan pesan singkat seperti itu. padahal, aku tadi berusaha sangat keras untuk datang ke kampus tepat waktu. Namun, nyatanya zonk. Tanganku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, mendesah saat melihat jam sudah menunjukkan jam setengah lima sore. Aku menghela napas dalam sebelum kemudian bangkit. Rasanya hari ini aku ingin menangis, semuanya terasa berat untukku. Bukan hanya masalah perkuliahan, namun juga masalah pernikahan yang kujalani dengan Alfian. Satu bulan, ya ... hari ini tepat satu bulan kami menikah dan tak ada perubahan yang berarti. Pria itu masih saja dingin dan irit bicara. Aku yakin Mama sebenarnya menikahkanku dengan seorang robot bukan manusia. Walaupun, beberapa hari terakhir. Pria itu menerima semua masakanku dengan baik dan mulai sarapan dan makan malam bersama namun tetap saja tak ada pembicaraan yang terjadi antara aku dan Alfian. Tembok yang Alfian buat di hatinya terlalu sulit untuk dihancurkan, dia terlihat begitu menutu diri dan tak mengizinkan orang lain untuk mendekatinya walaupun hanya untuk berkenalan. Aku kembali menarik napas, sebelum kemudian berjalan untuk kembali pulang ke apartemen pria itu kata ‘pulang’ yang kusematkan tadi membuatku terkekeh menertawakan diriku sendiri. Benarkah tempat itu tempatku untuk pulang? Rasanya tempat itu hanyalah sebuah cangkang kosong yang kugunakan hanya untuk tidur dan makan, bukanlah sebuah rumah yang bisa membuatku melepas semua lelah yang kurasakan. Hanya saja, selama pernikahan yang terjadi aku tak habis pikir dengan Alfian, ia terlalu bekerja keras. selalu pergi sebelum jam 6 pagi dan bekerja tak pernah ada habisnya. Sepertinya, terbangun jam 12 malam dan melihat dia pulang sudah menjadi kebiasaan untukku sekarang. Namun, sebagai istri yang tertulis dalam selembar kertas, aku hanya bisa diam dan tak berhak ataupun berani untuk mengatakan apa pun. Aku hanyalah istri yang bahkan tak bisa menyentuh dinding besar di hati pria itu bagaimana lagi memanjatnya. ***** Langkahku terasa gontai menyusuri lorong apartemen Alfian ini. Tenaga di tubuhku benar-benar terkuras setelah seharian tadi menjadi rentenir yang berkeliling ke sana ke mari. Sedari tadi, aku rasanya ingin mengumpat dosen pembimbing sialan itu yang akhirnya memintanya untuk kembali ke kampus untuk bimbingan padahal dia sudah separuh perjalanan untuk kembali pulang. Sesampainya di depan pintu apartemen, aku terdiam sejenak, mencoba mengembalikan tenagaku yang hilang setelah berbagai masalah. Hari ini rasanya mentalku di terpa dengan berbagai hal sehingga membuatku bisa menjadi lebih kuat pada akhirnya. “Astaghgirullah!” pekikku kaget saat baru memasuki apartemen dan melihat ke arah ruang keluarga, di mana Alfia sedang duduk di meja pantry hanya dengan lampu kecil yang menemaninya. Apartemen terlihat gelap gulita. Kulangkahkan kakiku masuk, menghidupkan lampu untuk menerangi tempat ini dan menutup gorden dan tirai yang bahkan tak ditutup oleh pria itu. Kembali kulirik jam tangan yang melikar di tangan kiriku. Jam masih menunjukkan pukul 7 dan tumben-tumbenan robot dingin ini pulang lebih cepat dari biasanya. Jam berapa dia pulang? Perlahan aku memberanikan diri untuk mendekatinya, hanya bisa menggeleng saat melihat Alfian mengarungi berkas demi berkas yang menumpuk di depannya sehingga tak menyadari keberadaanku, kuletakkan tas kuliahku pelan di meja dapur, sebelum berjalan ke ara kulkas. Tenggorokanku terasa begitu kering sehingga perlu menyegarkan dahaga. Ku ambil gelas lalu menuangkan air dingin dan meneguknya dengan cepat. Tatapan mataku terus menatap ke arah Alfian yang begitu serius dengan berkas-berkas itu. beberapa kali, keningnya berkerut saat membandingkan berkas-berkas itu. wajahnya terlihat begitu lelah dan lesu. Kuputuskan untuk menghidupkan kompor untuk memanaskan air. Sepertinya, dia perlu sesuatu untuk menenangkan diri. “Minum dulu, biar lebih rileks,” ujarku saat menaruh peppermint tea ke depannya. Alfian terkejut sejenak saat menyadari keberadaannya, lalu mengarahkan pandangan ke cangkir yang kuletakkan di dekatnya itu. “Terima kasih ...” ujarnya singkat namun tetap bisa membuat senyumku kembali terukir. Dia menyeruput teh itu sebentar sebelum kembali menyelami berkasnya. Aku meringis saat melihatnya melemparkan dua berkas yang sedari tadi dibandingkannya lalu menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi kemudian mengacak rambutnya frustasi. Entak kudapat dari mana keberanianku untuk mengambil berkas yang Alfian lemparkan tadi, mulai membacanya dan ikut membandingkan kedua laporan dalam berkas tersebut. “Kenapa dalam dua bulan, profit perusahaan bisa turun hingga 30%?” tanyaku saat melihat perbedaan yang terjadi kepada dua laporan tersebut. “Kamu mengerti?” tanyanya heran ke arahku yang akhirnya menganggukkan kepala. Aku sempat mempelajari hal ini saat semester 6. “masih dalam tahap belajar,” ucapku sembari mengernyitkan dahi melihat laporan itu. “Boleh aku ikut analisis?” tanyaku yang dijawab anggukannya. Alfian terlihat memindahkan kursi ke arahnya seolah memintaku untuk ikut duduk. “Menurut aneh nggak, kalau profit perusahaan menurun sebanyak ini? Kalau dipotong untuk biaya tetap dan variabel serugi-ruginya, tak akan membuat profit perusahaan berkurang hingga 30%.” Alfian mendekatkan tubuhnya, lalu terdiam mendengarkan ulasan-ulasan laporan keuangan perusahaannya yang barusan aku jabarkan. “Dengar nggak sih?” ujarku sebal saat melihat Alfian hanya terdiam tanpa ada bantahan. Deg ... Debaran jantungku kembali berdetak dengan hebat saat untuk pertama kalinya, aku melihat senyum itu terulas di wajah tampannya yang berhasil membuatku ketar-ketir. Kucoba menarik napasku dalam guna menetralkan debaran jantungku yang menggila. “Mau bantu aku?” tanya Alfian masih dengan senyum tipi itu yang begitu menawan. Aku yang awalnya terpaku lalu menjawab cepat dengan anggukan. Aku mulai menjelaskan analisis yang aku katakan, beberapa kali keningnya berkerut sebelum kemudian menangguk dan mulai menghitung yang semua aku ucapkan. Perlahan, aku merasakan mataku mulai mengantuk hingga tanpa sadar aku menurunkan kepalaku ke meja pantry dan mulai tertidur. **** Rasa berat di bagian atas kepala membuatku tersadar. Aku terkejut saat merasakan aku tertidur bersandar di pundak Alfian dengan kepala Alfian bersandar di sana. Wajahku kembali merona. Ingin rasanya aku pergi melarikan diri ke kamar, namun bingung karena tak ingin membangunkan Alfian. Aku berpura-pura menutup mata saat merasakan pergerakan dari Alfian. Debaran jantungku kembali berubah tak normal saat merasakan tangan Alfian merapikan anak rambut yang menutupi wajahku. “Sampai kapan pura-pura tidur?” kekeh Alfian membuatku dengan cepat mengangkat kepala dari bahunya. “Kamu bicara dengan aku?” tanyaku tak percaya saat mendengar suaranya yang berbicara kepadaku, terutama saat dia terkekeh seperti itu. Dia kembali tertawa sehingga membuatku membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru aku dengar, seorang Alfian Abiyaksa tertawa di depannya. Mataku menatap horor jangan-jangan pria ini sedang dirasuki oleh kuntilanak pria. Tapi mungkinkah di apartemen ini ada kuntilanaknya? “ya iyalah. Aku bicara sama kamu. Masa dengan tembok?” tanya Alfian menggelengkan kepala membuatku medengus. “Ya kali saja. Selama ini aku kira nikah dengan tembok soalnya. Makanya aku tanya kamu bicara sama aku?” celetukan itu keluar begitu saja dari mulutku membuatnya mendelik. Aku menggigit ujung bibir menyesali celetukan yang baru saja aku lontarkan kepadanya. Aku dapat melihat Alfian menarik napas dalam dan menggelengkan kepala. “Terima kasih untuk semuanya. Bisakah kita berteman?” Aku terkejut saat melihat pria itu mengulurkan tangan. Kutatap tangan dan wajah pria itu bergantian, senyumnya kembali terulas membuatku hanya diam terpaku sebelum kemudian menyambut uluran tangan itu dan tersenyum menatapnya. "Senang berkenalan dengan Kamu. Alfian Abiyaksa ..." sapaku untuk pertama kalinya menyebutkan nama itu secara langsung. "Aku juga ... Maharani Varisha," ujarnya menyebutkan nama lengkapku dengan suara beratnya yang membuat dadaku bergetar
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN