“Sana...” Kata itu yang keluar dari mulut Alfian saat aku memapahnya ke arah dinding kaca ruang steril Deeva. Aku menatapnya khawatir melihatnya bersandar di dinding menahan tubuhnya yang masih belum terlalu kuat setelah prosedur pengambilan sumsum tulang belakang yang dia lakukan beberapa waktu yang lalu. Alfian tersenyum ke arahku dan mengangguk, memintaku untuk cepat masuk dan menemani Deeva di dalam. Setiap langkah yang aku tapaki menuju ruang pra steril yang biasa kugunakan untuk mengganti baju dan melapis pakaianku dengan baju steril, rasanya berat. Hari ini, segala sesuatunya berubah dengan cepat. Layaknya ruang paling gelap yang tiba-tiba mendapatkan cahaya. Hari di mana Deeva akhirinya mendapat sumsum tulang belakang Daddynya. Di situ juga aku mengetahui masa lalu kelam yang A

