Kisah dongeng pun dimulai.
Cinderella, gadis biasa yang membuat sang Pangeran jatuh hati karena kebaikan hatinya.
Belle, gadis pemberani yang menghapuskan kutukan Pangeran Adam.
Sophie, gadis ceria yang mampu mewarnai kehidupan Pangeran Felix.
❄❄❄❄❄
Pada hari ketiga badai salju pun berakhir. Sophie mengamati jendela kamarnya dengan perasaan gundah. Dia senang bisa kembali ke hotel dan melanjutkan liburannya, tapi di sisi lain dia merasa sedih. Karena dengan berhentinya badai salju, maka berakhirlah kebersamaannya dengan sang Pangeran. Tidak ada alasan lain yang membuatnya bisa tetap tinggal di tempat itu.
Wanita itu pun teringat pada kejadian semalam. Felix membuatnya bingung. Sejenak mata pria itu menginginkannya, tapi berikutnya pria itu berubah menjauh. Tak ingin terlarut dalam perasaannya yang tercampur aduk, Sophie memilih beranjak keluar dari kamarnya. Dia bisa melihat Felix sudah duduk di meja makan.
"Makanlah. Setelah itu aku akan mengantarmu." Ucap Felix dingin seperti biasanya.
Sophie bergabung di meja makan bersama pria itu. Wanita itu berusaha keras untuk tidak menoleh ke arah pria itu. Sayangnya dia mendapati dirinya kesulitan melakukan hal itu. Setiap gerak gerik Felix seakan menjadi pemandangan menarik yang tak bisa dilewatkan oleh matanya.
"Kau lebih diam hari ini." Felix menyadari sikap Sophie yang lebih pendiam.
"Ka-kau bilang apa? Aku terlambat membaca gerak bibirmu."
"Aku bilang kau lebih diam hari ini."
"Aku ... aku hanya sedang memikirkan liburanku selanjutnya sebelum tugasku dimulai." Sophie tersenyum canggung.
"Tugas apa?" Meskipun Felix mengetahui tujuan Sophie ke Eginhard adalah untuk memenuhi undangan Yayasan Carina, tapi pria itu ingin tahu alasan Sophie bersedia datang.
"A-aku mendapatkan undangan dari Yayasan Carina."
"Yayasan yang menampung anak-anak difabel?"
"Benar. Sudah lama aku ... aku menantikan undangan itu."
"Mengapa kau mau jauh-jauh datang kemari hanya untuk Yayasan Carina?"
"Su-sudah lama aku tahu tentang yayasan ini. Carina begitu peduli pada anak-anak dengan kondisi spesial. Tidak ... tidak hanya menanggung hidup mereka secara fisik tapi mental juga." Sophie seakan melupakan kegundahannya saat menceritakan alasannya menyukai Yayasan Carina.
"Bukankah setiap yayasan melakukan hal itu?"
Sophie menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak banyak yang seperti itu. Kebanyakan orang membangun yayasan hanya untuk ... untuk cari muka. Ti-tidak serius memperdulikan mereka."
"Kau terdengar seperti pernah mengalaminya."
"Bukan aku. Tapi ... tapi aku pernah melihat hal seperti itu. Ba-banyak calon pejabat yang memanfaatkan mereka untuk mencari muka."
"Agar bisa terpilih. Setelah terpilih dia akan melupakan mereka secepat angin berlalu."
Sophie menganggukkan kepalanya, "Karena itulah aku merasa Yayasan Carina ber-berbeda. Aku ... aku jadi ingin bertemu pemilik yayasan itu."
Felix yang sedang minum pun tersedak mendengar keinginan Sophie. Tanpa wanita itu sadari, keinginannya sudah terwujud.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sophie menepuk-nepuk punggung pria itu.
"Aku tidak apa-apa."
Sisa acara sarapan itu di isi dengan cerita Sophie tentang kunjungannya di Panti Asuhan Precious sebelum dia pergi mengunjungi Eginhard. Tak ada pembahasan mengenai interaksi semalam. Seakan keduanya sepakat tidak mengungkit hal itu.
※ ※ ※ ※ ※
Setelah mengganti pakaian dengan miliknya sendiri, Sophie pun sudah siap untuk kembali ke hotelnya di mana dunia nyata sudah menanti. Saat keluar kamar, wanita itu dikejutkan dengan penampilan Pangeran Felix yang rapi tepat seperti di foto dalam notesnya.
Felix mencukur jambangnya sehingga Sophie bisa melihat kesamaan pria itu dengan foto dalam notesnya. Rambut coklat gelapnya disisir rapi ke belakang. Penampilan pria itu semakin berbeda dengan setelan coklat yang dipadukan dengan overcoat senada.
"Kau sudah siap?" Tanya Felix saat melihat Sophie sudah berdiri di luar kamarnya.
Sadar dirinya menatap Felix dengan sorot mata memuja, Sophie pun bergegas mengalihkan pandangannya.
"Aku sudah siap." Wanita itu berusaha untuk tersenyum normal, meski dia tahu betapa kikuk lengkungan bibirnya.
Sophie melihat Felix mendekati Benito yang berbaring di keranjangnya. Karena posisi pria itu menyamping membuat Sophie tidak bisa membaca apa yang dikatakan pria itu pada anjing kesayangannya. Tapi dia yakin pria itu mengucapkan kata-kata perpisahan pada Benito.
Melihat Felix bangkit berdiri, wanita itu melangkah mendekati anjing itu. Dia berusaha menjaga jarak untuk menjaga perasaannya. Saat berada di sisi Benito, Sophie berlutut dan memeluk anjing itu.
"Aku pasti akan merindukannya."
Meskipun tidak mendengar gonggongan anjing itu, tapi dia bisa merasakan getarannya melalui leher Benito. Sophie melepaskan pelukannya dan pergi mengikuti Felix berjalan keluar.
"Apakah tidak masalah meninggalkan Benito sendirian?"
Felix menoleh ke arah Sophie sehingga wanita itu bisa membaca gerak bibirnya.
"Marino yang mengantarkan kita, akan merawat Benito. Dia adalah penjaga villa ini."
Felix membuka pintu dan mempersilahkan Sophie untuk keluar lebih dahulu. Langkah wanita itu terhenti sebelum kakinya menuruni anak tangga. Dihadapannya terlihat kereta kuda berwarna hitam berdiri atas salju. Di depan kereta kuda beratap terbuka, berdiri dua kuda putih yang siap menarik.
"Lengkap sudah kisah dongengku." Gumam Sophie melihat kereta kuda seperti di negeri dongeng.
"Bersama Pangeran dan kereta kuda?" Tebak Felix mendengar gumaman Sophie.
"Ya. Ti-tinggal bersama Pangeran dan naik kereta kuda. Aku ... aku pikir hanya ada di dongeng."
"Sayangnya hanya inilah transportasi yang bisa dipakai untuk menerjang tumpukan salju. Ayo!"
Felix pun menuruni tangga dan diikuti Sophie di belakangnya.
"Bagaimana liburan anda Your Highness?" tanya Marino saat melihat sang Pangeran mendekatinya.
"Menyenangkan."
Tatapan Marino beralih pada Sophie dengan tatapan penuh tanya. Tapi dia sadar hubungan pribadi sang Pangeran bukanlah urusannya.
"Sophie, ini adalah Marino," Tatapan Felix kembali ke arah pria berusia 60 tahun itu, "Aku menolong Miss Ralston dari serangan serigala."
Marino tampak terkejut memandang Felix, "Serigala? Bukankah itu sangat berbahaya Your Highness?"
"Aku baik-baik saja Morino. Tak perlu khawatir. Bisakah kau mengantarkan kami ke bawah?"
"Dengan senang hati Your Highness. Silahkan Miss Ralston." Marino membuka pintu kereta dan mempersilahkan Sophie naik.
Felix membantu wanita itu naik, kemudian dirinya bergabung dan duduk di samping Sophie. Marino bersiap di kursi kemudi. Tak lama kuda-kuda itu mulai bergerak maju menarik kereta yang membawa Felix dan Sophie.
Seharusnya pemandangan hutan yang indah membuat Sophie sibuk mengaguminya. Tapi dengan Felix duduk di sampingnya membuat indera wanita itu tidak bekerja dengan baik. Bahkan setiap pria itu bergerak Sophie bisa merasakannya.
Di sisi lain, Felix tengah memikirkan kejadian semalam. Dia hampir saja mencium Sophie. Bahkan kata 'mencium' membuat pria itu terkejut. Biasanya dia bisa mengontrol dirinya dengan baik. Mendikte hati dan pikirannya untuk tidak terlibat apapun dengan wanita. Termasuk memiliki sebuah hubungan asmara. Felix berhasil menerapkan metode itu selama tiga tahun ini. Tapi untuk pertama kalinya semua pertahanannya dikacaukan oleh wanita yang baru saja dikenalnya.
Setelah menaiki kereta kuda, mereka melanjutkan perjalanan menuju hotel Notevole dengan menaiki mobil sedan hitam. Tidak hanya kereta kuda yang membuat Sophie terkejut, tapi juga penjagaan untuk sang Pangeran. Lima orang pria yang mengenakan setelan hitam rapi dengan earpiece yang terpasang di telinga memberikan hormat pada Felix. Salah satu pengawal itu membukakan pintu mobil untuk Felix dan Sophie.
"I-ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang dikawal banyak penjaga." Ucap Sophie memasuki mobil itu.
"Aku sudah terbiasa dengan pengaturan seperti ini." Felix pun duduk di samping wanita itu.
Mobil itu melaju melintasi jalanan di Fremont. Membawa mereka melintasi bangunan-bangunan indah yang pernah dilewati Sophie.
"Apa ... apa sejak kecil pengaturan seperti itu sudah ada?" Penasaran Sophie.
"Bahkan sejak bayi aku memiliki satu orang pengawal pribadi."
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku di-dikelilingi pengawal."
"Memang tidak nyaman. Tapi aku sudah terbiasa. Karena penjagaan itu sangat penting."
"Pernahkah kau ... kau kabur dari mereka?"
"Pernah. Bukan aku yang merencanakannya. Tapi adikku."
"Ra-raja Cedric?"
Felix tersenyum melihat ekspresi terkejut Sophie. Matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar. Membuat wanita itu begitu menggemaskan.
"Hal itu terjadi saat kami masih kecil. Otak Cedric penuh dengan ide-ide nakal. Dari rencana kabur dari para penjaga sampai memporak porandakan dapur istana."
Tawa Sophie pun lepas mendengar kenakalan dua pangeran saat masih kecil. Dia bisa membayangkan cerita-cerita Felix. Dua anak laki-laki yang beranjak remaja mengecoh para penjaga agar bisa kabur dan berlari menuju dapur istana besar untuk menikmati makanan-makanan. Hingga terpiculah perang gandum yang sering Sophie lakukan bersama Leo saat kecil.
"Biar kutebak. Pa-pasti Raja Cedric yang membujukmu agar mengikuti semua ide-idenya."
Felix pun mengangguk membuat tawa Sophie kembali meruak.
"Aku selalu menjadi anak penurut sedangkan Cedric terkenal menjadi anak pembangkang. Tapi justru karena kenakalan-kenakalannya membuat dia lebih dekat dengan rakyat Eginhard."
"Itukah alasannya kau menyerahkan tahtamu?"
"Salah satunya," Tatapan Felix tertuju keluar jendela dan melihat bangunan hotel Fremont. "Kita sudah sampai."
Sophie menoleh keluar jendela. Dia bisa melihat bangunan hotel yang dilihatnya saat pertama kali datang. Artinya inilah saatnya Sophie berpisah dengan sang Pangeran. Ada perasaan berat yang membebani hati Sophie. Tapi dia sadar tak bisa menahan pria itu untuk tetap di sisinya.
"Baiklah. Sa-saatnya kita berpisah. Sekali lagi terimakasih sudah menolongku Your Highness."
"Nikmati liburanmu Sophie. Sampai jumpa lagi."
"Ku-kupikir kita akan kesulitan untuk bertemu lagi."
"Mungkin. Tapi tidak menutup kemungkinan kita bisa bertemu lagi."
Sophie tidak mengerti mengapa Felix berkata seperti itu. Tapi akhirnya dia pun memilih keluar dari mobil dan mengucapkan selamat tinggal pada sang Pangeran. Wanita itu pun berbalik dan berjalan memasuki hotel itu.
※ ※ ※ ※ ※