10.Pangeran

1389 Kata
Tak peduli seberapa kerasnya kau menutupi, luka itu tetap akan mengintip. Tak peduli seberapa kerasnya kau melupakan, masa lalu tetap tidak akan berubah.  ❄❄❄❄❄ Felix mengisi makanan Benito di mangkuknya. Suara gemerisik makanan itu membangkitkan semangat anjing itu. Kepalanya yang semula diletakkan di atas kakinya langsung terangkat. Dan Benito pun menggonggong membuat Felix tersenyum. Tangan sang Pangeran terulur mengusap kepala sahabat terbaiknya.  Si anjing mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sedangkan Felix masih betah memandanginya. Dia pun teringat bagaimana mudahnya Benito menerima kehadiran Sophie. Padahal keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Jelas hal itu membuat Felix terheran karena Benito bukanlah tipe anjing yang ramah kepada orang asing.  "Sepertinya kau menyukai Sophie."  Benito kembali menyalak seolah menanggapi ucapan Felix.  "Dia memang menyenangkan. Tidak heran banyak orang menyukainya. Termasuk kau." Benito memiringkan kepalanya menatap Felix. Seakan bertanya pada tuannya 'apakah kau juga menyukainya'.  "Tidak. Aku hanya mengagumi semangat tingginya. Tidak ada perasaan seperti itu."  Felix tidak yakin dirinya sedang berusaha meyakinkan Benito atau dirinya. Namun sepertinya pria itu jauh lebih membutuhkan kalimat itu untuk dirinya sendiri.  "Aahh...." Mendadak tubuh Felix membeku mendengar teriakan itu. Suara Sophie yang melengking tinggi sarat akan rasa takut. Bergegas pria itu berlari menuju kamar Sophie. Langkah kakinya yang cepat beradu dengan lantai kayu. Satu hal yang terlintas dalam pikirannya, yaitu serigala.  Sampai di depan pintu, Felix langsung meraih gagang dan membukanya. Dia mengedarkan pandangannya di seluruh kamar untuk mencari sumber bahaya. Baik serigala atau apapun yang mengancam bahaya wanita itu.  Karena tak menemukan hal yang mampu mengancam nyawa, Felix pun beralih pada Sophie yang berlutut di atas lantai dengan kepala tertunduk. Pria itu menghampirinya dan berlutut di depannya.  Felix menepuk bahu wanita itu sehingga membuatnya mendongak menatapnya, "Ada apa Sophie? Apa kau terluka?" Sophie menyatukan kedua tangan di depan d**a seperti sedang berdoa, "Ma-maafkan sikapku yang tidak sopan, Your Royal Highness. Jangan ... jangan hukum mati aku." Wajah Sophie tampak memohon. Seketika Felix tahu apa yang membuat Sophie menjerit ketakutan. Wanita itu sudah mengetahui siapa Felix sebenarnya. Dan dia begitu ketakutan karena takut dihukum. Bahkan menurutnya tidak ada satu pun sikap Sophie yang tidak sopan.  Sophie yang menyadari kemiripan Felix dengan Putra Mahkota Eginhard langsung mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Dengan janggut yang tebal membuat Felix sedikit berbeda dengan foto yang selama ini tersimpan di notesnya. Pantas saja dia tidak bisa langsung mengenalinya. Sekarang setelah mengetahui identitas Felix menimbulkan rasa takut karena memperlakukan pria itu tidak semestinya. Bahkan dia memanggilnya 'Felix' bukan 'Your Royal Highness.' Dia berpikir hukuman apa yang tepat untuk dirinya. Tubuhnya menegang melihat sikap diam Felix. Pria itu tidak kunjung mengatakan sesuatu membuat jantung Sophie seakan diremas-remas oleh rasa kekhawatirannya.  Namun detik berikutnya suara tawa Felix terdengar memenuhi ruangan itu. Sophie yang bisa mengetahui tawa keras Felix hanya diam dengan mulut terbuka lebar. Selama bersama Sophie, Felix jarang mengeluarkan eskpresinya. Bahkan ekspresi tertinggi yang pernah dicatat oleh Sophie adalah saat dia menyebut pria itu 'Pembunuh tertampan.' Tapi tawa kali ini begitu berbeda. Tawa itu begitu lepas tanpa ada pertahanan yang menghalanginya.  "Me-mengapa tertawa Your Royal Highness? Aku ... aku benar-benar serius." Bingung Sophie.  Felix menurunkan intensitas tertawanya. Sudah lama dia tidak tertawa begitu lepas seperti ini. Sehingga dia bisa merasakan perutnya sakit.  "Saat mendengarmu berteriak, hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah serigala menerobos masuk kamarmu. Aku tidak menyangka kau histeris karena mengetahui siapa aku." Felix pun menahan tawanya.  "Te-tentu saja histeris. Aku sudah berlaku tidak sopan pada seorang Pangeran. Ma-maafkan sikapku, Your Royal Highness." Pria itu menghela nafas dan menepuk kedua bahu Sophie, "Harus kuperjelas. Pertama, aku bukan lagi Your Royal Highness karena aku sudah menyerahkan hakku kepada adikku dua tahun yang lalu." "A-aku pasti melupakan bagian itu." Sophie pernah membaca berita itu. Tapi karena terlalu panik, dia melupakannya.  "Kedua, tidak ada lagi hukuman mati di Eginhard. Bahkan jika kesalahan itu adalah bersikap tidak sopan pada seorang pangeran." "Ta-tapi tetap saja ada hukuman bukan?" kecemasan Sophie belum kunjung hilang.  "Memang ada. Tapi kau bahkan tidak menyinggungku. Jadi kau tidak akan dihukum." "Kau ... kau yakin aku tidak akan dihukum?" Sophie masih belum percaya.  "Sangat yakin. Hukuman mati sudah tidak dilakukan lagi sejak puluhan tahun lalu. Hukuman itu dianggap terlalu kejam. Karena itu Kerajaan dan Parlemen mengubah hukuman itu." "Kupikir itu tindakan tepat." "Aku setuju. Hukuman seperti itu sangat mengerikan. Memenggal kepala si pelaku di depan rakyat, tak mampu kubayangkan." Sophie memegangi lehernya seakan tidak rela jika lehernya terbelah dua, "Be-beruntung aku tidak hidup di zaman itu." "Ya. Kau memang beruntung karena tidak dihukum mati pada saat itu." Sophie mendengus kesal, "Berhentilah menakutiku." Felix masih menahan tawanya. Lalu dia pun penasaran bagaimana Sophie mengetahui identitasnya.  "Jadi bagaimana kau bisa mengetahui jika aku adalah Pangeran?  "Aku ... aku sudah mengumpulkan banyak informasi tentang Eginhard. Te-termasuk keluarga kerajaan." Sophie mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Felix dalam balutan seragam militer kerajaan.  "Kapan foto ini diambil?" Tanya Sophie.  "Entahlah. Aku sering mengenakan seragam militer untuk acara-acara resmi."  "Ceritakanlah kegiatanmu sebagai ... sebagai Pangeran." "Biasanya aku membantu adikku, seperti menggantikannya datang ke pertemuan yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Tapi aku lebih fokus pada kegiatan-kegiatan sosial." "Seperti menolong rakyat kurang mampu?" "Lebih dari itu. Menggalang dana untuk anak-anak tak mampu yang sedang sakit, memperjuangkan hak wanita yang mengalami kekerasan, dan masih banyak lagi." Sophie takjub mengetahui kegiatan sosial yang diemban Felix. Dibalik sikapnya yang tertutup terdapat hati hangat yang begitu peduli dengan rakyatnya.  "A-apakah penyandang difabel juga termasuk?" "Tentu saja. Aku sedang mengembangkan acara Paralympic." "Pa-Paralympic? Acara apa itu?" "Paralympic adalah pertandingan olahraga yang khusus diikuti oleh penyandang difabel." "Pekerjaan yang mulia. Aku ... aku yakin rakyat Eginhard mencintaimu." "Sayangnya pekerjaan yang mulia itu tidaklah mudah." Sedih Felix mengingat cara berpikir rakyat Eginhard mengenai ketidaksempurnaan itu.  "Apa maksudmu?" bingung Sophie. "Meskipun adikku bekerja keras memodernisasi negara ini, tapi hal itu tidak mengubah cara pandang mereka. Menurut mereka memiliki keluarga yang tidak sempurna adalah aib bagi mereka. Sehingga banyak yang menyembunyikan anggota keluarga mereka yang menyandang difabel." Seketika wajah Sophie menampilkan kesedihan. Pengalaman kehilangan pendengarannya sungguh berat dan dia yakin jika orangtua dan ketiga kakaknya memiliki cara pandang yang kejam seperti itu akan menambahkan beban stres.  "Ta-tapi itu sangat tidak adil. Seharusnya keluarga ... keluarga mendukung mereka. Memberikan kasih sayang, bu-bukannya menjadikan mereka seperti memiliki penyakit menular. Sangat ... sangat tidak baik untuk kejiwaan mereka." Sophie meluapkan emosinya dengan sikap tak pantas rakyat Eginhard.  Felix pun terkesima mendengar Sophie membela kaum difabel yang selama ini dipandang sebelah mata. Ketulusan Sophie lagi-lagi mampu menggetarkan hati sang Pangeran. Mengikis sedikit dinding pertahanannya.  Sophie pun mendongak sehingga sepasang biji kelabu itu berserobok dengan bulatan biru kehijauan milik Felix. Tatapan pria itu begitu dalam. Membuat Sophie merasa gugup. Karena dalam novel-novel romantis yang dibacanya, biasanya adegan seperti ini berakhir dengan ciuman yang lembut dan dalam.  Secara otomatis pandangan Sophie beranjak turun menuju bibir pria itu. Terlihat keras, tapi menggoda. Membuat Sophie penasaran bagaimana jika bibir itu bergerak di atas bibirnya.  Felix yang tak kunjung melepaskan tatapannya, mengulurkan tangan untuk menangkup pipi Sophie. Kulit putih nan halus mampu dirasakan telapak tangannya. Ibu jarinya mengelus lembut sehingga mata Sophie pun terpejam merasakan sentuhan itu.  Inilah pertama kalinya Felix melihat Sophie dengan jarak begitu dekat. Wanita itu tidak memiliki kecantikan layaknya seorang artis atau model. Tapi pria itu menilai Sophie begitu manis. Seakan keceriaan di wajahnya bagaikan madu harum yang membuat orang tak bisa memalingkan wajah saat memandang wanita itu.  Bibir merah muda alami layaknya kelopak bunga yang baru saja mekar. Membuatnya begitu menggiurkan. Sehingga terlintas dalam pikiran Felix bagaimana rasanya ketika dia mencicipi bibir itu. Sialnya semua pemikiran itu memunculkan hasrat yang tidak seharusnya dirasakannya.  Namun hasrat itu layaknya alarm yang memekik di dalam pikiran. Jelas dia menganggap hasrat yang muncul dalam dirinya itu salah. Meskipun dia yakin jika dia mencium Sophie sekarang, maka wanita itu akan membalasnya. Tapi dia tahu sebuah ciuman akan mengantarkannya pada sebuah hubungan yang tak pernah Felix inginkan kembali.  Pria itu menarik tangannya seakan baru saja menyentuh benda panas. Merasakan hal itu, Sophie pun membuka matanya. Dia melihat di dalam mata pria itu tersembunyi luka yang membuat pria itu menarik dirinya menjauh. Pria itu beranjak pergi meninggalkan dirinya.  Padahal wanita itu yakin tatapan pria itu menunjukkan jika dia menginginkan dirinya. Tapi detik berikutnya Felix kembali menarik dirinya. Hal itu membuat Sophie merasa penasaran apa yang membuat Pangeran itu menahan diri. Dan luka yang sempat dilihat di mata pria itu menggusarkan hatinya.  ※ ※ ※ ※ ※
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN