9.Mengetahui

1418 Kata
Keluarga kadang menyebalkan Tapi juga kadang menyenangkan Namun keluarga juga tempat saling berbagi Juga saling mengasihi ❄❄❄❄❄   Meskipun sedang libur Natal dan Tahun Baru, namun Bistro Ralston yang terletak di 2031 Yonge St, Toronto begitu ramai dikunjungi. Nuansa Natal pun terlihat di setiap sudut restoran bergaya klasik itu. Hiasan-hiasan Natal serta kelap kelip lampu menghiasi seluruh ruangan.  Bahkan para pelayan pun mengenakan topi Santa. Begitu pula sang pemilik restoran, Leo. Rambut coklatnya bersembunyi di dalam topi merah dengan garis putih di bagian bawahnya. Senyuman selalu menghiasi wajahnya tatkala mengucapkan selamat Natal kepada beberapa pengunjung.  Atensinya teralihkan tatkala mendengar pintu terbuka. Senyumannya semakin mengembang melihat kedua saudara laki-lakinya memasuki Bistronya. Segera dia bergegas menghampiri mereka.  "Caleb. Alex." Panggil Leo.  Pria itu memberikan pelukan singkat untuk kedua kakaknya. Mereka membalas pelukan sang adik dengan wajah senang. Caleb dan Alex pun melepaskan overcoat mereka lalu menggantungkannya.  "Ayo! Aku sudah menyiapkan meja untuk kalian." Leo pun mengantarkan kedua kakaknya menuju meja yang terletak di sudut ruangan. Mereka selalu memakai meja itu setiap kali berkumpul.  "Sayang sekali Sophie tidak bisa bergabung dengan kita tahun ini." Ucap Alex setelah mereka duduk bersama.  "Mau bagaimana lagi. Sophie sudah bukan adik kecil kita." Sedih Leo merindukan adik kecilnya dulu.  "Apa kata perpisahan yang disampaikan Sophie padamu?" Alex menatap Caleb penasaran.  "Apa maksudmu?" Pembicaraan mereka terjeda saat dua orang pelayan meletakkan Fried Calamari dan Shrimp Cocktail di atas meja. "Selamat menikmati." Pelayan wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada ketiga pria itu.  "Terimakasih Kelly. Bagaimana keadaan putramu?" Tanya Caleb.  "David baik-baik saja. Dia sudah mau masuk Universitas. Kau baik sekali mau bertanya Caleb." Wanita itu pun berbalik meninggalkan tiga bersaudara melanjutkan perbincangan mereka.  "Bukankah kau yang mengantarkan Sophie ke bandara. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Leo memperjelas pertanyaan Alex.  "Ya. Dia menyuruhku untuk berkencan." Seketika tawa Leo dan Alex pun meledak. Sedangkan Caleb hanya terdiam menikmati makanannya. Dia sudah tahu reaksi kedua adiknya. "Sepertinya kalian senang sekali dengar nasehat Sophie." Caleb menatap kedua adiknya.  Leo menggelengkan kepalanya, "Bukan senang. Tapi setuju. Sophie benar dengan menyuruhmu berkencan. Kau selalu memikirkan Sophie dan pekerjaanmu Caleb. Dan aku tak pernah melihatmu berkencan sejak Mom dan Dad pergi. Bahkan Alex yang penakut pun punya teman kencan."  "Apa kau bilang?" Alex menatap tajam ke arah adiknya.  "Bukankah kau takut jika Caleb memeriksamu?" Leo terkekeh geli.  "Sialan! Aku tidak takut. Hanya tidak ingin diisolasi. Tapi Leo benar tentang bagian kau tidak berkencan Caleb. Kami mengkhawatirkanmu." "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Aku sudah berkencan." Alex dan Leo tak percaya menatap Caleb.  "Kalian tidak percaya?" Tanya Caleb menatap kedua adiknya.  "Kami tidak percaya jika kau tidak memperkenalkannya pada kami." Alex melihat Leo yang mengangguk setuju dengan ucapannya.  "Aku belum bisa memperkenalkannya kepada kalian." "Mengapa?" Bingung Leo.  "Aku tidak bisa menjelaskan. Tapi aku akan memperkenalkan pada kalian suatu saat nanti." Leo mengangkat bahunya. "Aku tidak sabar bertemu dengan wanita yang bisa menaklukan hati sang dokter." "Bagaimana jika kita menghubungi Sophie untuk memberitahukan kabar gembira ini?" Usul Alex.  Pria itu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video dengan sang adik. Tapi sayangnya tidak kunjung diangkat. Ketiganya saling berpandangan. Kemudian Alex mencoba kembali menghubungi sang adik. Namun hasilnya tetap sama. Segera kekhawatiran menyelubungi ketiga pria itu. "Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?" raut wajah Caleb. "Mungkin saja Sophie sedang menikmati liburan dan tidak memperdulikan ponselnya." Leo berpikiran positif.  "Tapi bagaimana jika Sophie terluka atau terancam bahaya? Aku akan memesan penerbangan ke Eginhard." Caleb mengeluarkan ponselnya.  Alex menahan tangan sang kakak, "Tenanglah Caleb. Leo benar, mungkin saja Sophie sedang asyik dengan liburannya. Kita tunggu sampai beberapa hari lagi. Jika masih belum ada kabar, kita berangkat ke sana." Caleb tampak ragu dengan usulan Alex. Dia terlalu takut kehilangan sang adik. Sebenarnya hal itu pun juga dirasakan oleh Alex dan Leo. Tapi terkadang harus ada seseorang yang bisa berkepala dingin untuk menghentikan kecemasan mereka yang berlebihan.  "Aku setuju. Sophie jauh lebih kuat dari yang kita kira Caleb. Aku yakin dia baik-baik saja." Tambah Leo meyakinkan sang kakak.  Caleb akhirnya menghela nafas berat. Pria itu membenarkan ucapan adik-adiknya. Dia tahu bagaimana kuatnya sang adik menghadapi hambatan apapun. Caleb menatap kedua adiknya secara bergantian.  "Baiklah. Kuharap Barbie kecil kita baik-baik saja." Alex dan Leo sama-sama mengangguk. Mereka pun berusaha untuk mengurangi kekhawatiran mereka dan menikmati makanan demi makanan. Ditemani obrolan ringan khas pria seperti pekerjaan, olahraga bahkan wanita yang dikencani Leo. ※ ※ ※ ※ ※ Dalam dua hari Sophie mampu mengubah villa yang tenang itu menjadi penuh warna. Tawa serta nyanyiannya membuat tempat itu menjadi lebih hidup. Meskipun berisik, tapi anehnya Felix sama sekali tidak terganggu. Dia bahkan kesulitan untuk tidak memperdulikan wanita itu. Pandangannya tak pernah bisa lepas dari Sophie.  Seperti halnya saat ini manik mata Felix tak lepas dari sosok Sophie yang sedang bermain dengan Benito. Wanita itu tertawa saat Benito menggesekkan kepalanya ke leher Sophie. Tanpa sadar Felix pun tersenyum melihat pemandangan itu.  Tak hanya itu, Felix pun semakin mengetahui tentang kehidupan Sophie. Dari teman-temannya yang menjauh setelah Sophie kehilangan pendengarannya hingga bagaimana usaha keras Sophie masuk ajang pencarian bakat dan memenangkannya. Tak pernah Felix menemui seseorang yang begitu tegar seperti Sophie. Tapi ada hal lain yang mengusik pria itu.  Entah bagaimana kehadiran Sophie mampu membuat jantungnya berdebar. Bahkan saat tatapan keduanya bertemu, dadanya berdegup kencang. Felix berusaha untuk tidak menggubrisnya. Setiap kali dia merasa seperti itu, dia akan menekan perasaannya dan menutup kembali hatinya dengan tembok dingin yang tinggi.  Sebuah panggilan menyadarkan Felix. Dia melihat Sophie sudah begitu dekat dengannya. Membuat pria itu terkejut.  "Ada apa?" tanya Felix dingin. "A-aku hanya ingin bertanya apakah lukisan di ruang kerjamu adalah istana Ingelbert?" "Benar. Mengapa kau menanyakannya?" Felix memicingkan matanya.  "Sebenarnya aku ... aku berencana ke sana setelah naik kereta luncur salju." Sedih Sophie.  Dengan cepat wajah sedih itu lenyap dan tergantikan dengan ekspresi antusias, "A-apakah istana itu sama indahnya seperti di gambar?" "Aku pikir tidak ada yang berbeda dengan fotonya." Mata Sophie berbinar dengan polosnya. Felix mengamati Sophie tampak begitu bahagia hanya karena hal kecil seperti membicarakan tentang istana yang menjadi tempat tinggalnya sejak lahir.  "A-apa kau pernah masuk ke sana?" "Tentu saja." Bahkan aku menghabiskan banyak waktu di sana. Tambah Felix.  "Apakah rakyat biasa bisa masuk ke sana?" Apakah Felix harus bersyukur mendengar Sophie menganggapnya rakyat biasa?  "Ada bagian kecil di dalam istana yang dibuka untuk umum pada awal tahun. Hanya dibuka selama sebulan pada jam tertentu. Kau bisa berkunjung ke sana pada hari sabtu di antara jam satu siang sampai jam tiga sore." "Aku ... aku tidak tahu soal itu." Sophie tidak ingat ada agenda seperti itu yang dijelaskan oleh internet.  "Tidak banyak yang mengetahuinya karena itu adalah program baru. Meskipun dibuka untuk umum tapi istana itu tetap dijaga ketat." Bola mata biru kehijauan Felix menangkap senyuman tulus di wajah Sophie. Tangan wanita itu pun terulur menyentuh punggung tangannya.  "Te-terimakasih sudah memberitahuku. Aku ... aku akan mencatatnya di jadwal liburanku." Wanita itu pun mengucapkan selamat malam pada Felix kemudian beranjak menuju kamarnya. Tatapan Felix tertuju pada punggung tangan yang dipegang Sophie. Seakan pria itu tidak ingin kehangatan tangan wanita itu lepas darinya.  Namun detik berikutnya Felix meyakinkan dirinya jika hal itu salah. Tidak seharusnya dia merasa seperti itu. Dia meyakinkan dirinya sendiri jika otaknya mungkin sedang tidak bekerja dengan baik karena gigitan serigala di tangannya.  Sedangkan di kamarnya, senyuman Sophie masih belum kunjung hilang. Atau bahkan tak ingin hilang saat pikirannya dipenuhi oleh pria yang saat ini berada di depan perapian.  Meskipun dingin, tapi Sophie bisa merasakan kelembutan dalam diri Felix. Seperti saat pria itu mengijinkannya untuk menyanyi, meskipun pria itu jelas menyukai suasana yang tenang dan damai. Atau saat pria itu tidak mengeluh ketika Sophie meminta dia mengulangi ucapannya karena tidak jelas. Seakan ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya hanya dengan memikirkan pria itu. Tapi Sophie bahkan tak mengenal Felix sedikit pun selain pria itu tinggal di sini dan memiliki Benito. Bahkan saat Sophie menanyakan kehidupan pria itu lebih dalam, Felix selalu mengalihkan pembicaraan. Hal itu membuat Sophie merasa semakin penasaran.  Akhirnya Sophie memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Dia meraih ponselnya yang tidak bisa bekerja optimal karena tidak ada sinyal. Dia pun membuka aplikasi notes untuk mencatat jadwal kunjungan istana Ingelbert sesuai informasi dari Felix.  Setelah mengetik jadwal itu, Sophie pun membuka notes lainnya yang berisi informasi tentang Eginhard. Dari restoran, tempat wisata, danau Kuhlbert, istana Ingelbert, dan informasi tentang keluarga kerajaan.  Sophie membaca informasi tentang keluarga kerajaan beserta foto-fotonya. Dan tatapan Sophie tertumbuk pada satu foto yang begitu familiar. Dia mengamati foto itu. Dan seketika tubuhnya sekaku pohon.  "Aahh...." Histeris Sophie saat menyadari seseorang dalam foto tersebut.  ※ ※ ※ ※ ※
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN