Perasaan tidak bisa dikendalikan sesuai keinginan kita. Ketika perasaan itu sudah menentukan hati untuk berlabuh, sulit untuk disangkal.
❄❄❄❄❄
Balasan yang dibicarakan Sophie adalah Split Pea Soup dengan Bacon. Karena itulah setelah Sophie meninggalkan Felix, wanita itu menyibukkan diri menyiapkan Soup yang biasanya dimakan bersama kakak-kakaknya pada saat Natal.
Sophie selalu memaksa Leo untuk mengajarinya memasak. Sejak saat itu Sophie mulai mengubah pikirannya 'jika memasak itu menyusahkan'. Dia mulai menyukai rasa enak dari usahanya. Kemampuan itu membantunya saat tinggal sendiri. Dia mampu berhemat berkat bantuan Leo.
Tatapan Sophie beralih ke arah pintu kayu di hadapan kamar yang ditempatinya. Sejak satu jam yang lalu pria itu menghilang dari balik pintu itu. Entah apa yang dikerjakan pria itu karena tak kunjung keluar.
Sophie berusaha mengingat struktur wajah Felix. Dia membayangkan bagaimana jika jambang tebal di wajah Felix dicukur. Tapi tetap saja Sophie sulit melakukannya. Dia berpikir mungkin jika Felix bercukur dia bisa menyadari siapa Felix.
Setelah menyiapkan sarapan bagi mereka, Sophie pun menghampiri pintu kayu yang membatasinya dengan Felix. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu. Sophie menanti Felix untuk membukanya. Tapi karena tak kunjung melihat pintu itu terbuka, wanita itu memilih membuka pintu itu dan menjulurkan kepalanya.
Dia bisa melihat Felix duduk di balik meja kerjanya. Sophie mengamati ruangan itu. Wanita itu melihat dinding berwarna biru keabu-abuan mengelilingi ruangan bergaya klasik itu. Dua sisi pada dinding diletakkan rak buku kayu yang dipenuhi dengan buku-buku. Sedangkan dinding di belakang pria itu tampak sebuah lukisan besar dengan gambar istana yang indah.
Tatapan Sophie pun kembali pada sang pemilik ruangan. Karena terlalu fokus, pria itu tak menyadari kehadiran Sophie. Barulah saat wanita itu memanggilnya, Felix mengalihkan atensinya.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"A-aku hanya mau bilang sarapan sudah siap."
"Baiklah. Aku akan segera bergabung denganmu sebentar lagi."
Sophie mengangguk senang. Dia pun berbalik dan duduk di meja makan menanti Felix. Menunggu seseorang untuk makan bersama, membuat Sophie merindukan ketiga kakaknya. Padahal dia yang memutuskan untuk pergi sendiri, tapi rasa rindu itu menelusup di hatinya.
Tak lama kemudian, Felix pun keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan mendekati Sophie dan bergabung dengan wanita itu di atas meja makan. Tatapan Felix tertuju pada semangkuk sup berwarna kuning cerah dengan hiasan potongan Bacon di atasnya. Makanan itu tampak menggiurkan, terutama saat Felix bisa mencium aromanya.
Felix mendongak dan menatap ke arah Sophie, "Kau yakin ini bisa dimakan?"
Seketika Sophie tertawa mendengar pertanyaan itu. Felix pun tanpa sadar tersenyum mendengar tawa renyah Sophie.
"Ja-jangan meragukan murid koki terkenal di Toronto."
"Leo?" Felix ingat cerita Sophie tentang kakaknya semalam.
"Benar. Leo koki hebat. Dia ... dia bahkan dia mendirikan restorannya sendiri satu tahun yang lalu."Sophie pun menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kedengarannya dia pria hebat." Felix pun mengikuti Sophie menyendokkan sup itu dan menikmati kelezatannya.
"Da-dalam pekerjaan iya, tidak dalam asmara."
"Asmara?" sepertinya memicingkan mata menjadi kebiasaan pria itu saat merasa keanehan.
"Dia ... dia terkenal dengan julukan 'Casanova Chef'."
"Aku bisa membayangkannya."
Keduanya pun tertawa bersama. Sophie merasa Felix jauh lebih ramah dibandingkan kemarin. Tapi saat melihat wajah pria itu, kembali membuat Sophie penasaran. Dia seakan pernah melihat pria itu tapi entah di mana.
"Felix, a-apakah kita pernah bertemu?"
Tangan Felix yang hendak menyuapkan makanan pun terhenti di udara, "Tidak. Mengapa kau berpikir kita pernah bertemu?"
"Karena aku ... aku seperti pernah melihatmu. Tapi lupa di mana."
Jika kau menyusuri informasi mengenai Eginhard, maka kau akan tahu. Jawab Felix dalam hatinya.
"Ba-bagaimana dengan lukamu? Apakah semalam kau demam?" tanya Sophie sarat akan kecemasan.
"Tidak demam. Kau mengobati dengan sangat baik."
"Syukurlah." Lega Sophie.
"Bagaimana kau bisa kehilangan pendengaranmu, Sophie? Sepertinya itu kau tidak tuna rungu sejak lahir." Felix pun mengalihkan pembicaraan.
Untuk ukuran orang yang menderita tuna rungu, pelafalan Sophie saat berbicara jauh lebih lancar dibandingkan dengan orang yang sudah cacat sejak lahir.
"Memang benar. Aku ... aku kehilangan pendengaranku saat usia delapan belas tahun." Meskipun wanita itu berusaha tersenyum tapi Felix bisa melihat kesedihan dibaliknya.
"Apa yang terjadi?"
"Meningitis."
"Maafkan aku jika pertanyaan itu membuatmu tidak nyaman." Sesal Felix.
Pria itu merasa pasti berat menghadapi hal itu. Karena hal itu mengubah hidup wanita itu dan cara pandang orang terhadapnya. Jelas Felix mengetahui hal itu karena hal itu terjadi pada Madelyn dan keluarganya. Meskipun bukan cacat pendengaran, tapi tetap saja pandangan rakyat Eginhard menganggap hal itu sebagai aib keluarga.
Sophie menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak. Aku tidak membenci kekuranganku tapi aku ... aku mencintainya."
"Mencintainya?" terkejut Felix.
Sophie tersenyum lembut, "Dulu aku memang membencinya. Ta-tapi berkat dukungan keluargaku aku tidak lagi memandangnya sebagai ... sebagai batu besar yang menghalangi jalanku."
"Bagaimana caranya?" rasa penasaran Felix mendorongnya untuk bertanya.
"Saat itu aku merasa hidupku hancur. Dan ... dan aku berpaling dari Tuhan karena membuatku seperti itu. Ta-tapi setelah aku menutup diri dari dunia, keluargaku tak berhenti mendukungku."
Sophie mengatur nafasnya karena membutuhkan usaha untuk berbicara panjang lebar.
"Sa-sampai kakakku berkata kepadaku 'Jangan menyerah karena tidak ada yang mustahil ketika kau mau berusaha'."
"Nasehat yang luar biasa."
"Ka-kau benar. Hal itulah yang ... yang mengubahku. Membuatku kembali bernyanyi," Sophie tersenyum mengingat masa-masa ketika dirinya mulai bangkit, "me-menurutku Tuhan baik karena melalui masalah itulah aku ... aku bisa meraih impianku."
Felix terdiam mendengar kisah perjuangan Sophie menghadapi masalahnya. Bagi gadis berusia delapan belas tahun, pasti begitu berat harus kehilangan pendengarannya. Dan pasti menimbulkan pandangan buruk di mata orang lain.
Tapi berkat dukungan keluarganya Sophie mau berjuang untuk maju. Dia mengubah cara pandang yang awalnya buruk menjadi baik. Dia mampu memandang masalah itu menjadi sebuah anugerah dalam hidupnya.
Hal ini pulalah yang selalu mendorong Felix untuk berusaha mengubah cara pandang rakyat Eginhard mengenai kaum disabilitas. Karena dengan begitu Felix bisa dengan bangganya memperkenalkan Putri Madelyn kepada dunia.
"Kau beruntung memiliki keluarga hebat yang selalu mendukungmu."
Sophie teringat pada orangtuanya juga ketiga kakaknya, "Benar. Aku ... aku sangat beruntung. Sayangnya orangtuaku sudah tiada."
"Apa yang terjadi dengan orangtuamu?"
"Kecelakaan mobil."
Felix tampak terkejut, "Pasti mengerikan untukmu."
"Sangat. Ta-tapi aku masih memiliki kakak-kakakku." Sophie membayangkan wajah Caleb, Alex, dan Leo dalam pikirannya.
"Kau memiliki lebih dari satu kakak?" tanya Felix tak percaya.
Sophie pun tertawa melihat ekspresi pria itu, "A-aku punya tiga kakak laki-laki. Caleb, Alex, dan juga Leo. Caleb dokter, Alex pengacara, dan ... dan Leo kau sudah mengetahuinya."
Mendengar Sophie menyebutkan saudara-saudaranya, mengingatkan Felix pada kedua adiknya. Dia yakin ketiga kakak Sophie pasti sangat menyayangi wanita itu, karena dia dan Cedric pun melakukan hal yang sama.
Setelah mendengar kisah Sophie, Felix pun semakin mengagumi wanita itu. Entah bagaimana Sophie bisa mengikis sedikit dinding tebal yang dia pasang dalam hatinya. Tapi tetap saja Felix bersikeras tidak membiarkan wanita itu menelusup semakin dalam ke hatinya. Pria itu sudah bertekad untuk tidak membuka hatinya sejak Gisele menghancurkannya. Dia tidak ingin merasakan luka yang sama kembali.
※ ※ ※ ※ ※