Seringkali manusia memandang masalah dari sudut yang salah. Sebab masalah bisa berubah menjadi anugerah yang patut disyukuri.
❄❄❄❄❄
Malam semakin larut. Sophie pun memasuki kamar tidur tamu untuknya. Kamar itu begitu rapi dan bersih. Wanita itu yakin kamar itu sudah lama tidak ditempati. Mengingat Felix yang lebih suka menyendiri, maka keyakinannya kemungkinan besar benar.
Dari ruangang itu, yang membuat Sophie tertarik ada jendela kaca yang berada tepat di samping ranjang. Kaca itu berukuran besar dan tampak tebal. Pemandangan hutan langsung terlihat jelas seperti lukisan yang ditempel di dinding.
Wanita itu pun naik ke atas ranjang dan melihat pemandangan di luar jendela. Sophie mengira akan melihat langit malam yang dihiasi cahaya bintang-bintang. Namun perkiraannya salah.
Langit gelap itu menjadi begitu cantik dengan adanya Aurora Borealis. Sophie tampak begitu takjub melihat pemandangan indah itu. Namun sorot kesedihan tersirat di matanya. Pasalnya pemandangan itu mengusik kenangan masa lalunya.
Suatu hari kita akan bersama-sama melihat Aurora Borealis. Daddy, Mommy, Caleb, Alex, Leo dan tentu saja putri kesayanganku, Sophie.
Kalimat terakhir dari ibunya, sebelum akhirnya kecelakaan mobil merenggut kedua orangtuanya. Kehilangan kedua orangtuanya sangat berat bagi Sophie. Seakan dia kehilangan pegangan dalam hidupnya. Beruntung dia memiliki tiga orang kakak laki-laki yang sangat menyayanginya. Mereka bahkan terlalu memanjakan Sophie dengan sikap mereka.
Mata wanita itu menggenang sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kerinduan yang dirasakannya begitu dalam hingga tak terbendung lagi.
When you walk away
Icount the steps that you take
Do you see how much
I need you right now
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it okay
I miss you
(When You're Gone - Avril lavigne)
"Aku … aku merindukan kalian, Mom, Dad." Sophie tersenyum sembari menghapus air matanya.
"A-apakah kalian melihatnya juga?" tangan Sophie menyentuh kaca jendela seakan menyentuh langit yang begitu indah itu.
"Kuharap kalian ... kalian melihat pemandangan yang menakjubkan ini." Ucap Sophie.
Suara Sophie yang sepenuh hati terdengar sampai di lantai atas. Felix bisa merasakan kesedihan dalam setiap lirik yang dinyanyikan Sophie. Seakan wanita itu begitu meresapi lagu ini karena merindukan seseorang.
Meskipun awalnya Felix berpikir suara Sophie sangat mengganggu, tapi semakin lama dia bisa merasa sangat nyaman. Mendengar perasaan wanita itu tercurah dalam nyanyian mengubahkan pandangan Felix. Dia tidak pernah menyangka sebuah lagu bisa memiliki cerita di baliknya.
Tidak hanya suara merdu Sophie yang menarik perhatian Felix, tapi juga penuh penghayatannya. Seakan Sophie membawanya masuk ke dalam perasaannya. Memperlihatkan cerita tentang kerinduan yang dialaminya. Anehnya dia mulai menyukai suara nyanyian wanita itu.
※※※※※
Terkadang sesuatu yang kita rencanakan tidak sejalan dengan keadaan. Itulah yang dirasakan Sophie saat matanya terbuka di pagi hari. Di luar jendela tampak angin kencang berlari ke sana kemari. Hujan salju pun menjadi teman bagi si angin. Membuat cuaca semakin dingin.
Sophie berjalan keluar kamar. Dia mendapati Felix sudah duduk di sofa depan perapian dengan kopi panas yang mengepul di atas meja. Pria itu langsung menoleh mendengar langkah kaki Sophie.
Sophie menunjuk ke arah jendela di mana terlihat hujan salju yang disertai angin kencang, "Di luar ada ... "
"Badai salju. Aku tahu." Felix memotong ucapan Sophie.
Sophie menghempaskan dirinya di samping Felix, "Artinya aku ... aku tidak bisa kembali ke hotel?"
"Kau akan membeku jika nekat melewati badai salju."
"Oh ... aku tidak mau menjadi seperti itu. Be-berapa lama badai saljunya?"
"Entahlah. Bisa sehari atau berhari-hari." Felix menggidikkan bahunya.
Mata Sophie membulat sempurna mendengar jawaban Felix, "Berhari-hari? Ma-maksudmu aku bisa terjebak di sini selama ... selama lebih dari satu hari?"
Felix hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Sophie. Seketika bahu wanita itu pun terkulai lemas. Batal sudah liburan yang direncanakannya sejak sebulan yang lalu. Padahal masih banyak tempat yang belum dikunjunginya. Termasuk Gereja Lake Kuhlbert yang terkenal dengan keindahan lukisan muralnya.
"Sepertinya kau tidak suka dengan ide terjebak bersamaku." Felix mengamati kesedihan di wajah Sophie.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja aku ... aku tidak bisa menikmati liburanku." Tatapan Sophie tertuju pada perapian. Di mana lidah-lidah api berkeliat.
"Aku ... aku sudah merencanakan liburan ini sebulan yang lalu."
"Adakalanya rencana hanya sebuah rencana."
Sophie mengangguk setuju, "Kau benar. Aku ... aku tidak memprediksi cuaca dalam rencanaku."
"Harusnya kau melakukannya. Pada bulan Desember dan Januari cuaca di Eginhard bisa sangat ekstrim."
"Akan kuingat hal itu. Tapi ...."
Felix menoleh dan melihat Sophie dengan memicingkan matanya. Tatapan penuh tanya dilayangkan pria itu.
"A-apa kau tidak keberatan aku tinggal di sini?" Manik mata Sophie tampak memohon.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak mau dianggap pembunuh karena mengusirmu di tengah badai."
Sophie tak bisa menahan tawanya mendengar candaan tentang 'Pembunuh' itu. Jika benar Felix pembunuh, maka dia akan menjadi pembunuh yang mempesona.
"Mengapa tertawa? Seingatku tidak ada kata-kataku yang lucu." Felix memiringkan kepala menatap Sophie.
"Oh.... Jelas ada. Kau ... kau akan menjadi pembunuh tertampan. Me-memikat wanita dengan begitu mudahnya. Persis seperti di ... di film."
Felix pun menundukkan kepala membuat tawa Sophie lenyap. Wanita itu kembali mengingat apakah ada kata yang bisa membuat pria itu marah. Tapi seingatnya kalimat yang dilontarkan bertujuan untuk memuji pria itu.
Tapi detik berikutnya kepala Felix mendongak dan Sophie bisa melihat pria itu tertawa. Entah bagaimana ucapan wanita itu menggelitik perut Felix.
"Kau memiliki pikiran yang unik Miss Ralston."
"Sophie. Pa-panggil saja Sophie."
"Baiklah Sophie."
"Sesaat kupikir kau tersinggung dengan ucapanku."
Felix mengerutkan dahinya, "Tersinggung karena pujian? Jelas tidak."
"Karena kau ... kau sangat baik, aku ingin membalasnya." Sophie terpikirkan sebuah ide untuk membalas kebaikan Felix.
"Kau membuatku penasaran."
Sophie senang Felix menurunkan sedikit pertahanan yang mengelilingi pria itu. Dia tampak jauh lebih rileks dibandingkan kemarin. Dan Sophie menyukainya.
※ ※ ※ ※ ※