6. WHOLE-HEARTEDLY

1147 Kata
Ketika melakukan sesuatu, lakukanlah dengan sepenuh hati. Maka bukan hanya kita tapi jug orang lain yang akan melihat kesungguhan hati kita.  ※※※※※ Di kamarnya, Felix berbaring di atas ranjangnya. Dengan satu tangan berada di bawah kepalanya, pria itu menatap langit-langit kamarnya.  Pikirannya kembali pada sepasang mata abu-abu milik Sophie yang mengusik pikirannya. Polos dan ceria. Dua kata yang bisa menggambarkan wanita itu. Bahkan setelah menghadapi seekor serigala liar, tidak membuat wanita itu dirundung ketakutan.  Sophie jelas berbeda dengan wanita-wanita yang pernah Felix kenal. Tak pernah pria itu melihat wanita yang penuh semangat, meskipun dia memiliki kekurangan. Tapi Sophie tidak menampilkan kesan jika dia membenci kekurangannya. Bahkan wanita itu seakan bangga dengan hal itu.  Tidak heran Shamus bersikeras mengundang Sophie. Felix berkeyakinan besar jika wanita itu bisa menyalurkan semangat yang dimilikinya.  Felix menghembuskan nafas berat. Dia pun memejamkan matanya dan berusaha untuk menyingkirkan wanita itu dari pikirannya. Namun baru beberapa menit berlalu, telinga pria itu menangkap suara merdu. Matanya pun kembali terbuka. Dia menajamkan telinganya untuk memastikan suara itu.  I don't feel the way I used to The sky is grey much more than it is blue But I know one day I'll get through And ill take my place again So I will try So I will try Oh (Try - Mandy Harvey) Felix pun terbangun mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Sophie. Lirik lagu itu begitu dalam. Seakan lirik itu menggambarkan tentang Sophie.  Pria itu pun berdiri dan berjalan keluar. Dia membuka pintu dan berhenti di pagar yang menghalangi lantai dua dengan lantai bawahnya. Tatapannya tertuju pada sosok wanita yang duduk di atas sofa. Pakaiannya telah berganti dengan sweater biru tua yang kebesaran di tubuh mungilnya. Seakan tubuh Sophie tenggelam dalam sweater itu. Karena Felix tak pernah membawa siapapun bahkan seorang wanita, maka tidak ada pakaian yang pas untuk wanita itu.  Sebelum Felix kembali fokus pada wanita itu, dia merasa perutnya mulai kelaparan. Dan dia yakin Sophie pasti merasakan hal yang sama. Felix pun menuruni tangga tanpa melepaskan pandangannya dari Sophie.  Wanita itu tengah mengalihkan perhatiannya pada Benito yang duduk di sampingnya. Kepala anjing itu tertelungkup menikmati elusan yang menyenangkan dari Sophie.  "Aku selalu menyanyikan lagu itu untuk menyemangatiku." Tangan Sophie mengelus perut Benito.  "Menurutmu suaraku bagus?"  Mendengar pertanyaan itu, kepala Benito pun tegak dan mulutnya terbuka untuk memberikan jawaban. Senyum Sophie pun merekah mendengar jawaban anjing itu.  "Ka-kakakku selalu berkata suaraku bagus. Kupikir mereka berbohong," Tatapan Sophie tertuju pada mata putih kebiruan dengan titik hitam di tengahnya, "tapi kurasa kau ... kau tidak akan berbohong." Sophie memeluk anjing itu dan menikmati kehangatan tubuh Benito. Tatapan wanita itu beralih pada sepatu boot coklat di atas lantai. Wanita itu pun menaikan pandangannya dan terkejut melihat Felix. Dia melepaskan pelukannya pada Benito. Bibirnya langsung melengkung membentuk senyuman.  "Kupikir kau sudah tidur."  Felix mengamati bahasa isyarat yang dibuat tangan Sophie. Bahasa itu begitu asing untuknya, sehingga membuat Felix penasaran arti dari setiap gerakan itu.  "Aku berencana seperti itu tadi. Sampai suara nyanyian mengurungkan rencanaku." Wajah Sophie berubah bersalah, "Ma-maafkan aku sudah mengganggu tidurmu." "Memang sangat mengganggu, terutama karena aku menyukai ketenangan. Tapi sebenarnya ada hal lain yang membuatku terbangun." "Apa itu?" Sophie memiringkan kepalanya menatap pria itu.  "Aku kelaparan. Bagaimana denganmu?" Mendengar kata 'kelaparan' membuat Sophie mengingat-ingat kapan terakhir dia makan. Sialnya dia benar-benar lupa jika perutnya tidak diisi sejak tadi pagi, sebelum dia memulai petualangannya.  Sophie pun memegang perutnya, "Aku juga kelaparan." "Ikut denganku." Felix pun berbalik dan Sophie mengikutinya dari belakang. Pria itu mulai menyiapkan bahan makanan seperti ikan Salmon, wortel, dan bahan lainnya. Sophie yang sampai di dapur tampak terkejut melihat Felix mengeluarkan bahan mentah itu.  "Kau ... kau bisa memasak?" tanya Sophie dengan suara terkejut.  "Sepertinya kau meragukan pria memasak." Felix memicingkan matanya.  "Tidak ... tidak. Tentu saja pria bisa masak. Salah satunya kakakku." Felix mulai berkutat dengan bahan mentah itu untuk membuat Lohikeitto. Sup kaldu ikan yang biasa dinikmati saat musim dingin.  "Kakakmu?" "Leo, dia ... dia seorang koki. Oh astaga." Felix pun menoleh dan melihat Sophie menutup mulut dengan tangannya.  "Ada apa? Ada kau merasa sakit?" Sophie menggelengkan kepalanya, "Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Sophie Ralston." Felix mendengus tak percaya karena kekhawatirannya tidak berarti. Sebenarnya Felix sudah menebak jika wanita itu Sophie Ralston. Tidak ada seorang pun di negara ini yang begitu percaya diri dengan kekurangan yang dimilikinya. Karena itulah dia tidak terkejut saat Sophie memperkenalkan dirinya.  Kemudian Felix mulai sibuk dengan masakannya. Sedangkan Sophie duduk diam mengamati pria itu. Tubuh Felix begitu tegap dan menjulang di hadapannya. Bahkan pria itu seakan memenuhi ruangan itu.  Tangan Felix tidak kaku saat memegang peralatan masak. Dia bahkan begitu lihai menggunakan pisau, seperti yang Leo lakukan.  Setengah jam kemudian, keduanya sudah duduk di ruang makan dengan mangkuk creamy sup berada di hadapannya. Merasakan aroma Lohikeitto itu tampak sangat menggiurkan. Terutama saat Sophie menyuapkan sesendok sup itu ke dalam mulutnya.  Sup itu terasa gurih karena ada creamnya. Juga terasa sedikit pedas yang menghangatkan berasal dari allspice. Cita rasa yanh baru pertama kali Sophie rasakan.  "Apa ini? Enak sekali." "Lohikeitto." Dengan lahap Sophie menyantap sup itu, "Da-darimana kau belajar memasak?" Pertanyaan Sophie mengalihkan perhatian Felix.  "Teman kuliah." "Di-di mana kau kuliah?" "Universitas St. Andrew." Wanita itu tampak terkejut, "Bu-bukankah itu Universitas yang sama dengan Pangeran William dari Inggris?" Tubuh Felix membeku mendengar kata 'Pangeran' meluncur dari mulut mungil Sophie. Meskipun wanita itu masih belum mengetahui identitasnya, tapi hal itu sempat membuatnya tegang.  "A-apa kau bertemu Pangeran William di sana?" "Tidak." Karena tidak seangkatan, Felix tidak bertemu dengan Pangeran William. Namun dia bertemu dengannya di beberapa acara kenegaraan.  "Sayang sekali." Keceriaan Sophie pun menurun. Sophie pun teringat alasan Felix terbangun, "Apakah suara ... suara nyanyianku sangat mengganggumu?" "Sangat." jawab Felix dingin.  Bibir wanita itu cemberut mendengar kejujuran Felix, "Ji-jika aku bernyanyi dengan suara kecil, apakah masih mengganggu?" "Mengapa kau bersikeras ingin bernyanyi?" "Ka-karena aku suka mengekspresikan perasaanku melalui nyanyian." "Mengekspresikan perasaan melalui nyanyian?" Felix memicingkan matanya.  "Aku memiliki lagu sendiri-sendiri untuk setiap perasaan." Felix menatap Sophie tak percaya. Menjadi seorang Pangeran yang dikelilingi orang-orang kaku, membuat pria itu terkejut dengan cara pikiran Sophie yang aneh.  "Aku ... aku tahu ini aneh. Tapi itu adalah caraku mencintai musik." "Aku tidak mengatakan hal itu aneh. Tapi kupikir hal itu unik." Ucap Felix menggelengkan kepalanya.  "Bisakah kau mengulangi ucapanmu? Ka-kau menggelengkan kepalamu." Felix merutuki dirinya karena melupakan kesulitan Sophie. Dia pun mengulangi ucapannya. Setelah mendengar ucapan Felix, ada perasaan bahagia dalam diri Sophie. Bahkan kedua pipinya dihiasi rona merah.  "Terimakasih Felix. Kau ... kau baik sekali." Sophie tersenyum lebar.  Felix meletakkan sendok. Di atas mangkoknya. Kemudian dia menatap kembali wanita di hadapannya.  "Aku akan membiarkanmu menyanyi asal tidak mengganggu istirahatku." Sophie terperangah membaca gerak bibir pria itu, "Be-benarkah?" Anggukam kepala pria itu meyakinkan Sophie. Seketika keceriaan kembali menghiasi wajah wanita itu.  "Terimakasih Felix. Ini sangat berarti bagiku." Bibir Sophie tak kunjung melenyapkan senyuman di wajahnya. Dia merasa begitu bahagia mendapatkan kesempatan bernyanyi dengan bebas.  ※※※※※
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN