Sometimes the eyes can say more than the mouth. Show your deepest feelings.
❄❄❄❄❄
Kaki Sophie menaiki tangga satu persatu sebelum mencapai teras Villa milik Felix. Manik matanya menyusuri bangunan rumah kayu dua tingkat itu. Rumah bergaya tradisional itu menampilkan kesan santai dan nyaman. Tidak ada teknologi modern yang nampak. Bahkan sang pemilik masih menggunakan model kunci rumah biasa.
Wanita itu pun berbalik dan pandangannya langsung tertuju pepohonan yang menjulang tinggi. Butiran-butiran salju menyulap pepohonan itu menjadi berwarna putih. Pemandangan itu bagaikan wallpaper yang cocok dipajang di layar ponselnya.
"Masuklah." Ucap Felix setelah membuka pintu.
Sophie mengikuti Felix berjalan masuk. Benito pun menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menyingkirkan salju di tubuhnya, sebelum akhirnya masuk ke dalam villa itu. Sophie menyingkirkan salju dari tubuhnya. Sedangkan Felix berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman. Dia menuangkan Vin Brule ke dalam dua gelas. Pria itu membawa gelas itu dan menghampiri Sophie.
"Minumlah. Kau akan merasa lebih hangat." Felix menyerahkan satu gelas kepada wanita itu.
Sophie meraih gelas itu dan kebingungan melihat cairan merah dalam gelasnya.
"Apa ini?" Sophie menunjuk ke arah minuman itu.
"Namanya Vin Brule."
Sophie menyipitkan matanya tak yakin dengan apa yang dia baca dari gerak bibir pria itu.
"Vin apa?"
Felix pun mengucapkan nama minuman itu dengan perlahan. Sehingga Sophie bisa membacanya.
"Vin Brule. Itu adalah minuman khas Eropa utara. Membuat tubuhmu terasa hangat saat musim dingin. Minumlah."
Meskipun ragu tapi Sophie akhirnya meminumnya. Sophie bisa menghirup aroma rempah yang kuat sebelum meneguknya. Saat cairan itu lolos dari tenggorokan, Sophie bisa merasakan campuran rempah dan alkohol menyebarkan panas di seluruh tubuhnya.
Saat melepaskan gelas itu, Sophie mendesis merasakan kerasnya minuman itu. Seakan dirinya menegak minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.
"Aku ... aku tidak bisa minum lagi. Terlalu keras." Sophie menyerahkan gelas yang masih tersisa kepada Felix.
"Setidaknya minuman itu bisa menghangatkan tubuhmu yang kedinginan." Felix mengambil gelas itu dan menaruhnya di atas meja.
Tatapan Sophie tertuju pada lengan kiri Felix yang basar karena darah. Dia yakin itu pasti karena serangan serigala tadi.
"Tanganmu terluka." Sophie menunjuk ke arah tangan Felix yang berdarah.
"Aku akan mengobatinya nanti." Felix melihat ke arah tangannya. Rasa sakit masih dirasakannya.
"Bi-biarkan aku yang mengobatinya."
Sophie maju satu langkah untuk meraih tangan Felix. Tapi pria itu menyembunyikan tangan di balik tubuhnya.
"Tidak perlu."
"Ta-tapi luka itu perlu dibersihkan segera."
"Aku akan membersihkannya sendiri."
"Su-sulit melakukannya dengan satu tangan. Biarkan aku ... aku mengobatinya." Sophie bersikeras.
Felix memutar bola matanya malas, "Kau tidak akan berhenti sampai aku mengijinkannya bukan?"
Sophie mengangguk penuh semangat layaknya anjing kecil. Felix tidak ingin mendengar ocehan Sophie yang mengacaukan ketenangannya. Sehingga pria itu membiarkan Sophie mengobati lukanya.
"Du-duduk dan lepaskan jaketmu. Aku ... aku akan mengambil air hangat."
Felix mendengus tak percaya mendengar perintah wanita itu. Selama ini dia yang selalu memerintah orang lain. Dan sekarang wanita itu yang memerintahnya. Tapi pria itu tetap melakukan perintah Sophie.
Sophie kembali dengan membawa baskom air hangat dan handuk kecil. Dia duduk di samping Felix dan bergidik ngeri melihat darah yang sudah mengering di tangan Felix. Beruntung gigitan itu tidak dalam. Dengan lembut Sophie membersihkan luka itu dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat.
"Li-liburanku benar-benar kacau. Aku pikir aku bisa sendirian." Oceh Sophie terdengar sedih.
Felix tidak menanggapinya. Setelah mengetahui Sophie tidak bisa mendengar, dia tahu bagaimana cara wanita itu berkomunikasi. Felix pernah bertemu dengan gadis kecil yang memiliki kondisi sama dengan Sophie. Gadis itu menggunakan cara membaca gerak bibir lawan bicaranya untuk berkomunikasi. Karena itulah wanita itu langsung menjawab ketika tatapan matanya tertuju pada bibir pria itu.
Setelah darah itu bersih, Sophie membersihkan luka itu dengan antiseptik cair untuk membersihkan kuman-kuman yang bisa memperparah luka itu.
"Me-meskipun aku sudah mengobatinya tapi perlu diwaspadai jika kau ... kau mengalami demam." Sophie menoleh ke arah Felix.
"Aku akan mengetahuinya jika tubuhku mengalami demam."
"A-aku akan menekan lukanya. Sakit, tapi hal itu untuk ... untuk mencegah bakteri masuk dan bisa infeksi." Jelas Sophie terbata-bata.
"Lakukan saja." Ucap Felix singkat.
Sophie menekan kulit disekitar luka itu dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin darah yang keluar tidak bisa berhenti. Merasakan sakit yang menyengat tangannya, Felix hanya memejamkan matanya. Darah segar pun keluar dari luka itu. Sophie segera membersihkannya dengan perlahan. Pria itu beruntung karena tak lama darah segera berhenti sehingga tidak menimbulkan pendarahan yang berbahaya.
"A-apa kau memiliki saleb antibiotik?" Sophie kembali menatap Felix.
Pria itu membuka matanya dan matanya langsung tertumbuk pada sepasang manik mata berwarna abu-abu cerah. Warna itu seakan mencerminkan semangat sang pemiliknya.
"Kau mendengarku?" Tanya Sophie kembali saat Felix tidak kunjung menjawab.
"Saleb antibiotik ada di lemari kamar mandi."
"A-aku akan mengambilnya." Sophie berdiri sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi yang terletak di pojok ruangan itu.
Felix merutuki dirinya karena sempat terpesona dengan manik mata itu. Meskipun mantan tunangannya memiliki warna mata yang hampir sama, tapi mata Gisele terkesan lebih gelap. Sedangkan sorot mata Sophie menunjukkan kepolosan yang penuh dengan semangat. Membuat warna abu-abu dalam matanya menjadi lebih cerah.
"Aku juga membawa kasa untukmu." Ucap Sophie saat kembali.
Wanita itu kembali duduk di samping Felix. Dia mengambil saleb antibiotik dan mengoleskannya pada luka pria itu. Setelah selesai, Sophie menunduk untuk meniup cairan bening itu. Sensasi dingin langsung menerpa kulit Felix membuatnya kembali memejamkan matanya.
Tatapan Sophie kembali pada pria di dekatnya. Meskipun Sophie dikelilingi tiga pria tampan, tapi tetap saja dia merasa Felix begitu berbeda. Felix memiliki aura yang mendominasi. Terlihat dari pahatan mengagumkan di wajahnya. Tulang pipi yang tinggi dan rahang keras yang dihiasi pangkal janggut lebat yang menegaskan maskulinitasnya. Tapi ada yang lebih mengusik Sophie. Seakan wanita itu pernah melihat wajah pria itu, tapi dia lupa di mana melihatnya.
Kelopak mata Felix pun terbuka. Dia melihat Sophie masih terpaku menatapnya.
"Sudah selesai?" Suara dingin Felix menyadarkan Sophie.
"Aku ... aku tinggal melilitkan kain kasa ini." Sophie mendadak jadi gugup.
Dia berusaha menahan tangannya yang gemetar saat membalut luka Felix. Dia merutuki dirinya sendiri agar bisa fokus pada luka pria itu. Setelah membalutnya, Sophie membereskan peralatan yang dikeluarkannya.
"Sepertinya aku ... aku akan kembali ke hotelku." Ucap Sophie.
"Apa kau ingin berhadapan dengan kawanan serigala?"
"Kawanan serigala?"
Seketika Sophie bergidik ngeri. Melihat satu ekor serigala saja membuat kakinya lemas. Apalagi melihat serigala yang begitu banyak mengelilingi dirinya. Dengan tatapan tajam khas hewan pembunuh juga taringnya yang tajam, bisa dipastikan Sophie tidak akan selamat jika keluar dari pintu rumah ini.
"Serigala hewan nocturnal. Dia berburu di malam hari. Kau akan menjadi makanan empuk bagi kawanan itu." Dengan nada dingin, Felix membuat kalimatnya begitu menyeramkan.
Seketika wajah Sophie memucat, "Kau ... kau membuatnya terdengar mengerikan."
"Hanya mengatakan fakta yang benar. Kau bisa tidur di kamar lain di sana." Felix menunjuk ke arah pintu di dekat kamar mandi.
"Atau kau bisa kembali ke hotelmu tanpa ada jaminan keselamatan. Pilihan di tanganmu." Felix berdiri dan berjalan menghampiri anjingnya yang duduk dengan kepala tertunduk lesu.
Dia ingat tubuh Benito terhempas ke tanah saat menolong Felix dari Serigala. Anjingnya pasti merasakan sakit akibat hempasan yang kasar itu.
“Kau baik-baik saja, sobat?” tanya Felix mengelus perut anjingnya.
Felix mengulurkan tangan memeriksa tubuh Benito. Tidak ada darah dalam tubuh anjingnya. Sepertinya tumpukan salju membuat pendaratan Benito tidak terlalu keras.
Terdengar gonggongan anjing membuat Felix tersenyum. Seakan Benito mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Pria itu mengelus kepala Benito.
“Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Terimakasih sobat.” Felix mencium kepala Benito dengan penuh kasih sayang.
Setelah memastikan selimut hangat membungkus tubuh Benito, Felix pun berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Tu-tunggu dulu, Sir."
Felix berhenti dan menoleh. Sophie berhenti pada dua anak tangga di bawahnya. Sehingga membuat wanita itu harus mendongak untuk menatapnya.
"Te-terimakasih sudah menolongku. Juga membiarkan aku tinggal. Ji-jika ada yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu, pasti ... pasti akan kulakukan." Susah payah Sophie menyelesaikan pidato panjangnya.
"Tidak perlu. Aku tidak mengharapkan apapun."
Felix berbalik untuk melanjutkan langkahnya yang terhenti. Namun sepasang tangan menahan tangan kanannya. Dia menoleh dan melihat tangan wanita itu yang putih begitu kontras di kulitnya yang kecoklatan. Pria itu mengalihkan tatapan tajamnya ke wajah Sophie.
Seketika Sophie melepaskan tangannya, "Setidaknya bisakah kau ... kau memberitahu namamu?"
Felix terdiam membuat Sophie berpikir pria itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Jelas Sophie sudah mengganggu ketenangan pria itu, jadi pria itu pasti berpikir ulang untuk memberitahu siapa namanya. Tapi pemikiran Sophie ternyata salah.
"Felix. Jika tidak ada lagi, aku akan kembali ke kamarku."
"Terimakasih banyak Felix."
Pria itu hanya mengangguk sebelum akhirnya berbalik. Kali ini pria itu benar-benar melangkah menjauh dan menghilang di balik kamarnya. Sophie pun kembali turun dan duduk di sofa. Dia menoleh dan melihat Benito meringkuk di atas keranjang tidurnya.
"Tu-tuanmu benar-benar dingin. Kurasa tuanmu sama ... sama dinginnya dengan salju di luar sana." Sophie terkekeh menyamakan Felix dengan dinginnya salju di luar.
Benito kembali menyalak. Sophie pun mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anjing itu. Dia teringat saat anjing itu menyelamatkan tuannya. Keberanian anjing itu membuat Sohie terharu.
"Kau … kau pasti sangat menyayangi tuanmu. A-aku jadi iri. A-aku harap kita bisa jaditeman baik." Sophie berlutut dan memeluk leher Benito.
※※※※※