4.Ketakutan

964 Kata
Fear is nothing more than an obstacle that stands in the way of progress. In overcoming our fears, we can move forward, stronger and wiser within ourselves. ※※※※※ Sophie berhasil keluar dari lereng. Dia menghembuskan nafas lega saat kakinya menapaki jalan yang aman. Namun detik berikutnya kelegaan itu menguap. Nafasnya tercekat dan tubuhnya begitu kaku melihat pandangan di depannya. Seekor serigala berbulu coklat menggeram menampilkan gigi-giginya yang tajam. Meskipun tidak bisa mendengar suara geraman, tapi Sophie tahu serigala itu mengancam dirinya. Kau kejam sekali, Caleb. Kau mengutukku dengan ini? Rutuk Sophie. Perlahan Sophie melangkah mundur saat melihat serigala itu mendekatinya. Sophie pernah membaca tentang perilaku serigala. Ada larangan untuk bergerak mendadak seperti berlari. Dia yakin kecepatan serigala itu bisa mengalahkannya. Aku menyesal Caleb. Aku berjanji lain kali aku pasti akan mendengarkanmu. Sesal Sophie. Sayang penyesalan selalu datang terlambat. Sophie melihat serigala itu melompat untuk menerkam dirinya. Secara reflek, wanita itu pun berlutut melindungi kepala dengan kedua tangannya. Teriakannya tercekat oleh ketakutan. Felix yang melihat serangan itu memukulkan dahan pohon di tangannya ke arah serigala. Pukulan itu mengenai mulut serigala yang terbuka lebar. Sehingga tubuh serigala itu terpental ke belakang. Dengan cepat hewan itu kembali berdiri dan tatapan tajamnya tertuju pada Felix. Sedangkan tatapan sang Pangeran tidak lepas sedikitpun dari mata serigala. Dengan selalu menjaga kontak mata dengan hewan buas itu merupakan cara terbaik melawan hewan buat itu. Perlahan kaki serigala itu melangkah mendekati Felix. Geramannya seakan menunjukkan jika dia yang berkuasa di tempat itu. Felix memukul-mukul dahan pohon itu ke tanah berusaha untuk mengusir hewan itu. Serigala memiliki rahang yang kuat dan insting membunuh, sehingga sulit bagi siapapun untuk melawannya. Beruntung Felix hanya menghadapi satu serigala saja. Karena biasanya hewan itu tidak sendirian. Serigala selalu pergi berburu makanan bersama dengan kawanannya. Serigala itu kembali melompat ke arah Felix. Sehingga Felix pun merentangkan dahan di tangannya untuk menahan mulut serigala. Dorongan yang kuat dari hewan itu membuat kaki Felix terseret mundur. Dia tidak bisa melawan hanya dengan dahan pohon saja. Bahkan dia mendengar suara dahan yang retak, sehingga menimbulkan ketakutan dalam dirinya. Jika dahan itu patah, maka serigala itu akan menancapkan gigi-gigi tajam ke kulitnya. Hingga terdengar suara gonggongan Benito. Melihat sang pemilik dalam bahaya, anjing itu melompat ke arah serigala itu dan menggigit lehernya. Rintihan kesakitan dari serigala itu perlahan membuat hewan buas itu melepaskan dahan yang dipegang Felix. Dengan kasar serigala itu menggerak-gerakkan kepalanya untuk menyingkirkan taring Benito.  “Benito!” Seru Felix saat melihat anjingnya terlempar ke atas tanah. Perhatian Felix kembali pada sang serigala. Meskipun lehernya berdarah, tak membuat serigala itu menurunkan ancamannya. Felix pun mengambil batu sebesar kepalan tangan yang bisa diraihnya. Serigala itu kembali memulai serangannya dan berhasil menggigit tangan kiri Felix. Pria itu menggeram sakit. Tak ingin membiarkan serigala itu melukainya lebih dalam lagi, Felix memukulkan batu ditangannya ke arah kepala serigala itu bertubi-tubi. Hingga batu itu mengenai mata serigala dan membuat hewan itu melepaskan gigitannya. Hantaman yang keras dari batu itu membuat serigala merintih kesakitan. Suaranya terdengar lesu dan langkah kakinya bergerak mundur. Meskipun tatapannya masih tertuju pada Felix, tapi pada akhirnya serigala itu pun berlari pergi. Nafas Felix terengah-engah. Tatapannya kembali tertumbuk pada anjing kesayangannya. Pria itu menghembuskan nafas lega melihat anjingnya sudah berdiri dan berjalan menghampirinya. “Kau anjing pemberani Benito. Terimakasih sudah menyelamatkanku.” Felix mengelus kepala anjing itu. Perhatiannya beralih pada wanita yang diselamatkannya. Wanita itu duduk dengan wajah ketakutan. Wajahnya tampak begitu pucat. Bahkan matanya hanya menatap ke depan meskipun serigala sudah menghilang. “Kau tidak apa-apa?” Tanya Felix. Tapi tidak ada jawaban dari wanita itu. Bahkan tubuhnya tidak bergerak menanggapi ucapannya. Seakan kecemasan Felix tak terdengar sama sekali. “Hei, apa kau tidak mendengarku? Aku bertanya apa kau baik-baik saja?” Lagi-lagi wanita itu tidak bereaksi apapun. Kesal, Felix pun menghampirinya dan berjongkok di hadapannya. Kedua tangannya mengguncang tubuhnya. Hingga wanita itu tersadar. “Apa kau bisa mendengarku, huh?” Akhirnya Felix bisa melihat mata wanita itu berkedip. Sepasang mata abu-abu cerah itu menatap ke arahnya. “Maafkan aku. Aku memang tidak bisa mendengar.” Sophie memegang telinganya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Menunjukkan dengan bahasa isyarat jika dia tuna rungu. “Apa kau sedang bercanda? Apa serigala itu melukai indera pendengaranmu?” Tanya Felix tak mengerti bahasa isyarat yang ditunjukkan Sophie. “Ti-tidak. Aku memang tidak bisa mendengar sejak ... sejak usiaku delapan belas tahun.” Seketika Felix berpikir jika wanita dihadapannya ini adalah Sophie Ralston. Tamu yang diundang oleh Yayasan miliknya. Wanita tuna rungu yang berhasil meraih cita-citanya sebagai seorang penyanyi. Sophie berpikir pria itu akan bersikap iba seperti yang ditunjukkan sopir taksi kemarin. Dia akan berpikir Sophie sangat lemah dengan kekurangannya sehingga tampak begitu menyedihkan. Tapi pikiran itu sirna saat melihat pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya. Sophie melihat tangan yang lebih besar dari tangannya itu. Kemudian beralih menatap mata berwarna biru kehijauan itu. Tak ada tatapan kasihan muncul di manik mata yang indah itu. “Apa kau menunggu kawanan serigala kembali kemari?” “Ka-kawanan serigala?” Seketika Sophie berubah menjadi orang bodoh karena mengagumi mata yang indah itu. “Serigala tidak berburu sendiri Lady. Aku yakin serigala tadi akan kembali bersama kawanannya untuk menyantapmu. Jadi kau lebih memilih tetap di sini atau ikut denganku?” Sophie langsung meraih tangan pria itu, “Te-tentu aku ikut denganmu. Terimakasih sudah ... sudah menolongku.” Wanita itu pun mengikuti Felix dan anjingnya pergi dari area berbahaya itu sebelum hari mulai gelap. Jelas Sophie lebih memilih mengikuti pria asing bersama anjing superhero-nya daripada berada di tengah hutan semalaman dengan ancaman kawanan serigala yang bisa datang setiap saat untuk menyerangnya. ※※※※※ Marrygoldie terharu dengan sikap Pangeran Felix. Menurut kalian gimana? Ada gak ya Pangeran tampan, baik hati, suka menolong, suka menabung, dan lain sebagainya? Kalau ada kasih tahu Marrygoldie ya hehe...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN