3.Liburan

1496 Kata
Lupakan persoalan ... Tunda pekerjaan ... Dan nikmati liburan … ❄❄❄❄❄ Pagi itu Caleb mengantarkan Sophie ke Bandara Internasional Pearson Toronto. Hatinya dipenuhi kegelisahan karena ini pertama kalinya dia harus melepas sang adik pergi sangat jauh. Dia sempat berpikir untuk memesan tiket untuk menemani Sophie. “Jangan melakukannya.” Sophie melambaikan tangannya. Caleb menatap bingung ke arah wanita yang mengenakan coat abu-abu, “Melakukan apa?” “Me-memesan tiket agar bisa menemaniku pergi.” Jawab Sophie. “Bagaimana kau tahu?” Wajah Caleb tampak terkejut. “Kadang ... kadang perasaanku jauh lebih sensitif.” Sophie menarik tangan ke arah kedua bahunya menunjukkan bahasa isyaarat ‘perasaan’. “Jadi kau bisa membaca pikiran sekarang?” “Ti-tidak membaca. Hanya ... hanya mempelajari ekspresi wajahmu.” Tangan Sophie menunjuk ke arah wajahnya. Sophie menghembuskan nafas panjang, “Caleb, be-berhentilah menjadikanku prioritas.” “Aku sendiri yang menginginkannya Sophie.” Sayangnya karena aku, kau tidak memiliki kehidupan pribadi. Sedih Sophie. “Tapi aku ... aku ingin kau memiliki hidup sebagai pria normal.” Caleb mengerutkan dahinya, “Maksudmu aku bukan pria normal?” Seketika tawa Sophie pun pecah. Terkadang kakaknya menyalahartikan apa yang diucapkannya.  “Kau ... kau pria normal jika berkencan dengan wanita Caleb.” Sophie masih tertawa. “Tentu saja aku berkencan dengan wanita.” Sophie menatap kakaknya tak percaya, “Kapan?” Caleb terdiam karena apa yang diucapkan Sophie merupakan sebuah kebenaran. Selama ini dia selalu meletakkan keluarga di bagian paling atas. Karena sejak kedua orangtua mereka meninggal karena kecelakaan, Caleb tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Termasuk Sophie. Sophie menepuk kedua bahu kakaknya, “Inilah a-alasan terbesarku pindah dari apartemenmu.” Caleb menatap adiknya terkejut. Dia berpikir alasan kepindahan sang adik karena tidak ingin bergantung padanya. “Mungkin aku ... aku harus meminta Leo untuk mencarikan pasangan untukmu.” Jari telunjuk Sophie menunjuk ke arah kakak pertamanya. “Tidak perlu. Aku bisa mencari pasangan sendiri.” “Lakukan untukku.” Sophie tersenyum lembut ke arah kakaknya. Caleb melihat tatapan memohon Sophie. Akhirnya dia pun menghembuskan nafas berat. “Baiklah aku berjanji. Tapi kau juga harus berjanji untuk tidak terlambat makan, tidak keluar malam, jika terjadi apapun kau harus menghubungiku.” “Ada lagi?” Sophie mengenal kebiasaan kakaknya yang akan menceramahinya panjang lebar. “Kau harus menjelaskan pada pramugari jika kau tidak bisa mendengar. Jadi jika ada pengumuman apapun dia bisa memberitahukannya langsung padamu. Lalu setelah mendarat kau harus menghubungiku. Jangan percaya pada siapapun. Jangan melakukan kegiatan berbahaya. Pakai pakaian yang tebal. Kau mengerti? “Se-sepertinya aku akan melanggar semua itu.” Sophie terkekeh. “Apa?” “Aku hanya bercanda,” Sophie memeluk kakaknya erat, “aku ... aku sangat menyayangimu.” Caleb melepaskan pelukan sang adik dan berkata, “Aku juga menyayangimu Barbie kecil.” “Be-berhenti memanggilku seperti itu,” Kesal Sophie, “titip ... titip salamku untuk Alex dan Leo.” Caleb masih berdiri di tempatnya untuk melihat kepergian sang adik. Pikirannya masih memikirkan ucapan sang adik. Dia tidak tahu jika Sophie merasa bersalah karena dirinya memprioritaskannya. Akhirnya setelah Sophie menghilang Caleb pun berbalik pergi. ※※※※※ Cedric melihat kakaknya hendak berjalan keluar istana. Felix mengenakan jaket tebal berwarna biru dan juga topi rajutan hitam dikepalanya. Raja Eginhard itu tahu ke mana sang kakak akan pergi. “Apa kau akan melewatkan tahun baru di Villa?” Langkah kaki Felix terhenti. Dia bisa melihat adiknya melipat kedua tangannya sembari melayangkan tatapan kecewa. “Memang itu rencanaku.” “Mengapa kau tidak tinggal di sini sampai tahun baru? Mother pasti akan senang kau melakukan itu.” “Cedric benar, Felix. Mengapa kau tidak tinggal?” Catherine menghampiri kedua putranya. Wanita bersurai coklat itu mengulurkan tangan menyentuh pipi putra sulungnya, “Kau selalu menyendiri belakangan ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”  “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Mother. Aku baik-baik saja.” Felix tersenyum pada sang ibu. “Son, sudah saatnya kau keluar dari cangkang kesendirianmu. Berhentilah memikirkan segalanya sendirian. Kau perlu membuka kembali hati dan pikiranmu.” “Apa tujuan Mother mengatakan hal ini padaku?” “Mother sedang mempertimbangkan untuk mengatur kerjasama dengan Luksemburg. Putri Alexandra.” Jelas sang adik.  Tatapan Felix beralih kepada Cedric, “Kau tahu jelas apa jawabanku, Brother?” “Aku sudah menerangkan kepada mother” Felix memejamkan matanya. Sang ibu pasti bersikeras jika belum mendengar langsung jawaban dari Felix. “Aku tau ini terdengar kejam, Son. Tapi aku hanya ingin kau melupakan masa lalu dan ...” “Aku sudah melupakannya. Maafkan aku harus memotong ucapan, Mother. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kuharap Mother melupakan kerjasama itu. Aku akan menikah dengan wanita yang kucintai bukan dengan politik. Sampai jumpa, Mother.” Felix berbalik dan pergi meninggalkan istana. “Apa yang sudah kulakukan? Dia pasti membenciku.” Bahu Catherine terkulai lemas.  Cedric memeluk bahu ibunya, “Felix tidak pernah membencimu Mother. Dia hanya sedikit kesal.” Catherine hanya tersenyum tipis. Namun pikirannya masih mencemaskan putra sulungnya. Masa lalu yang kejam sudah membekukan hatinya.  ※※※※※ Langit di Eginhard berubah jingga saat pesawat yang dinaiki Sophie mendarat. Dengan antusias Sophie keluar dari Bandara Internasional Eginhard. Matanya berbinar melihat pemandangan Ibukota Eginhard, Fremont.  Sophie bergegas menghampiri sebuah taksi. Dia menunduk dan mengetuk kaca jendela mobil. Kaca itu pun perlahan turun dan menampilkan seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah padanya.  “Sir, bisa antar aku ke hotel Notevole?” Sophie berusaha keras untuk tidak terbata-bata. “Tentu, Lady. Aku akan mengantarmu. Masuklah dan nikmati pemandangan kota Fremont yang indah.” Pria itu keluar dari taksi dan membantu Sophie memasukkan koper ke dalam bagasi. Kemudian wanita itu duduk di bangku belakang mobil dan sang sopir mulai membawa mereka menuju jalan raya. Pandangan Sophie tertuju pada panorama yang menakjubkan di luar jendela. Bangunan-bangunan bergaya Arsitektur Baroque seakan membawa Sophie ke abad-16. Arsitektur Baroque menunjukkan kemegahan dan kekuasaan. Hal itu terlihat dari pilar, kubah, cahaya yang kontras, dan efek tiga dimensional yang dihasilkan dari pahatan. Gaya arsitek ini merupakan pengaruh penjajahan yang dilakukan negara Italia.  Sophie menoleh ke depan dan melihat bibir pria yang mengendarai taksi itu bergerak-gerak. Dia yakin sopir taksi itu pasti sedang berbicara dengannya. Sayang sekali Sophie tidak bisa melihat bibir pria itu sehingga dia tidak membaca gerak bibirnya. Membutuhkan waktu lima belas menit untuk menacapai hotel Notevole. Bangunan hotel terlihat jauh lebih modern dibandingkan bangunan lainnya. Memperlihatkan jika hotel itu adalah bangunan baru.  Sophie keluar dari taksi dan manik matanya berkelana ke sekelilingnya. Mengagumi kota yang sudah diselimuti salju itu. Tepukan di bahunya membuat Sophie menoleh.  “Sorry, Lady. Aku sudah memanggilmu dari tadi tadi tapi kau tidak mendengar.” “Aku memang tidak bisa mendengar, Sir.” Seharusnya Sophie merasa sedih. Tapi dia sudah belajar untuk tidak terlihat sedih saat membicarakannya. Karena dia tidak ingin melihat tatapan belas kasihan tertuju padanya. “Oh... Aku sungguh minta maaf Lady. Aku tidak tahu.” Pria itu menatap iba ke arah Sophie.  Sophie menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa, Sir. Te-terimakasih sudah mengantarku.”  Sophie merasa canggung dengan tatapan kasihan itu. Dia pun bergegas memasuki hotel. Wanita itu berencana memberitahu kakak-kakaknya jika dia sudah sampai.  ※※※※※ Kayu-kayu yang terbakar di perapian menciptakan kehangatan di sekelilingnya. Termasuk di tubuh Felix yang duduk tak jauh dari perapian. Tangannya menggenggam gelas yang berisi cairan berwarna merah seperti anggur. Orang Eropa Utara biasa menyebut minuman keras itu dengan Vin Brule. Minuman ini disuling dari biji-bijian dan kentang, dan dibumbui dengan berbagai herbal. Sehingga menciptakan sensasi panas yang bisa menghangatkan tubuh di saat musim dingin.  Meskipun manik mata biru kehijauannya tertuju pada perapian, tapi pikirannya tidak berada di sana. Ucapan sang ibu tanpa sadar membawa luka lama yang masih belum bisa menghilang dari pikirannya. Felix berbohong ketika mengatakan jika dirinya sudah melupakan masa lalu. Tapi hal itu tidak sepenuhnya benar.  Tidak mudah melupakan ketika Felix sudah memberikan hatinya sepenuhnya. Seakan luka dalam hatinya seperti lumut yang melekat di hatinya. Sulit untuk menghilangkannya. Sehingga menimbulkan kehampaan di dalamnya.  Tiba-tiba terdengar suara gongongan anjing. Mata Felix pun terbuka dan tatapannya tertuju pada seekor anjing Siberian Husky berbulu hitam. “Apa kau merasa nyaman, Benito?” Felix mengulurkan tangannya untuk mengelus bulu tebal anjing itu.  Benito pun menggonggong sekali. Seakan dia tahu apa yang diucapkan tuannya.  “Aku juga merasakannya. Tenang dan damai.” Tatapan Felix tertuju pada luka cakaran di atas mata kanan Benito. Pertama kali Felix menemukan Benito saat berusia satu tahun di dekat Villanya. Dia terluka karena akibat serangan serigala. Beruntung Felix menolongnya tepat waktu. Sejak itu, Felix memutuskan untuk merawat Benito hingga sekarang berusia empat tahun.  Terdengar suara auman serigala. Seketika Benito meringkuk takut. Suara rintihan memperlihatkan ketakutannya. Melihat hal itu, Felix pun meletakkan gelasnya dan mengulurkan tangannya.  “Kemarilah.” Benito berdiri kemudian melompat ke pangkuan Felix. Anjing itu meringkuk di atas kaki sang Pangeran. Seketika rintihan ketakutan itu pun lenyap. Benito merasa begitu nyaman. Ketakutannya pun menghilang. ※※※※※ Wah... Sophie dah sampai Eginhard. Akankah sebentar lagi dia akan bertemu dengan Pangeran Felix? Tunggu kelanjutannya ya.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN