Siena, Emang rasanya sakit banget, tapi logika harus tetap berjalan karena hati itu nggak punya pikiran. _Siena_ Saka terenggah-enggah saat mencapai pintu apartemennya. Kedua telapak tangannya bertumpu pada lutut dengan badan menunduk menyesuaikan udara yang masuk ke dalam paru-paru. Dia sudah mengantar Ria tadi dan sekarang dirinya hanya perlu menyelesaikan masalahnya dengan Siena. Tangannya mengetikan password apartemennya dengan begitu cepat. Namun, saat matanya menatap notes kecil berwarna kuning cerah yang menempel di pintu apartemennya, Saka mengumpat kesal. Dia terlambat. Siena sudah pergi dan tidak akan mendapatkan apapun jika dirinya masuk ke dalam sana. Dengan cepat dan tergesa, Saka mengotak-atik benda pipihnya. Dia menempelkan benda pipih bercahaya itu ke dekat daun

