Chapter 9

1035 Kata
Hari Senin ini, sekolah Tavie diliburkan, dan karena Tavie tidak betah di rumahnya yang sekarang sepi, Tavie memutuskan untuk menemui Zendra di kantornya. Sepertinya mengganggu kakaknya yang sedang sibuk bisa mengusir rasa bosannya. Tavie mengenakan jeans berwarna biru dipadukan denga sweater berwarna biru langit karena hari ini turun hujan. Cewek itu menuruni tangga rumahnya. Mama sedang pergi ke restoran miliknya dan Ayahnya baru akan pulang sore ini dari tugasnya di Singapura, jadi sepertinya tidak akan ada yang melarangnya untuk pergi sekarang. Tavie memilih untuk pergi naik taksi. Di tengah jalan, ia sempat menyayangkan hujn yang semakin lebat dan sialnya ia tidak membawa payung. Tavie mendongakkan kepalanya melihat gedung pencakar langit di seberang jalan itu. Rintik hujan yang semakin deras membuat rambutnya menjadi lepek. Tavie bergegas masuk ke lobby gedung. Ia sudah hapal di mana ruangan Zendra, jadi ia tidak perlu menanyakan lagi pada orang yang di sini. Beberapa karyawan menatapnya setiap Tavie melangkah. Sebagian mungkin mengetahui siapa dirinya, dan sebagian lagi keheranan melihat tampilannya yang basah kuyup itu. Tavie sampai di depan ruangan Zendra. "Maaf, Nona Magentha," ujar asisten Zendra, menahan Tavie yang akan masuk. "Pak Zendra sedang ada tamu." Tavie langsung manggut-manggut dan menunggu Zendra di luar ruangannya. Bajunya yang basah kuyup membuatnya kedinginan. Cukup lama Tavie menunggu hingga tamu Zendra keluar, dan selama itu pula ia menggigil. Harusnya ia membawa payung tadi dahn harusnya ia sadar kekebalan tubuhnya tidak sebagus orang lain. "....aku akan bicara pada Papa..." "....kamu yang mengurus semuanya, Ay..." "....bye..." Tavie memeluk tubuhnya sendiri dan melihat ke arah pintu yang terbuka itu. Ternyata tamunya adalah Anaya. Ia mendelik tidak suka. "Oh hai, Tavie." Anaya memanggilnya dengan senyuman mengejek. "Untuk apa kamu kemari?" Jelas dari nada bicaranya, Anaya membencinya. Tavie tahu itu. Dengan bibir gemetar, Tavie menjawab, "Aku ingin menemui--" "Taviella?" Zendra sudah berdiri di depan ruangannya. Tatapan tidak percaya ia layangkan pada Tavie yang menggigil di hadapannya. Secepat kilat ia buka jasnya dan disampirkan ke bahu Tavie. Zendra memeluk adiknya yang kedinginan. "Kenapa seperti ini? Untuk apa kamu kemari?" Zendra tidak mengijinkan Tavie menjawab. Pria itu menatap nyalang asistennya. "Farel, apa kamu tidak melihat dia kedinginan? Apa kamu buta? Dia bisa sakit jika kamu biarkan seperti ini—” "Kak--" "--apa yang kamu lakukan sampai tidak melihat dia kedinginan?! Kenapa kamu tidak mengetuk pintuku dan bilang kalau adikku disini--" "Kak Zendra." Zendra menarik napasnya lelah. Ia heran dengan Farel yang seolah buta dan asyik dengan pekerjaannya hingga Tavie tidak diperhatikan. "Maaf, Pak." Tavie sendiri bisa melihat Farel bergetar ketakutan. Zendra mendengkus. Ia tidak menghiraukan asistennya dan berbalik menatap Tavie. "Kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa tidak masuk saja tadi?" Zendra langsung sigap membopong Tavie di pelukannya. "Zendra." Langkahnya terhenti. Ia lupa Anaya masih ada di sini. "Kamu bisa pulang sendiri, kan, Anaya? Aku harus menjaga adikku." Anaya menahan amarahnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berbalik dan menghentak heels-nya dengan kesal. Padahal, satu menit yang lalu, sebelum bocah tengil itu merusak semuanya, Zendra sudah berjanji untuk melanjutkn hubungan mereka. *** "Aku akan menyuruh Farel membeli baju ganti untukmu." Tavie mengeryit. "Jangan berlebihan, Kak. Aku tidak apa-apa." Zendra menghela napas. "Kamu bisa sakit, Tavie. Lagipula, untuk apa kamu ke sini? Dan kenapa kamu tidak membawa payung?" Tavie hanya nyengir tidak bersalah. "Aku tidak tau hujannya akan sederas ini, dan aku bosan di rumah, Kak. Ayah dan Mama sedang tidak ada di rumah." "Ceroboh." Zendra berbalik dan membuka pintu di pojok ruangannya. Sepertinya itu ruang pribadinya. Zendra keluar dengan sebuah kaos putih, handuk, dan celana training di tangannya. Tavie mengeryit. "Itu untukku?" Zendra mengangguk. Pria itu memberikannya pada Tavie. "Aku tidak akan membiarkan kamu kebasahan begitu." Dengrn telaten, ia mengambil jas yang ia sampirkan di bahu adiknya. "Cepat ganti bajumu." Zendra membalikkan tubuhnya. Tavie tersenyum geli melihatnya. Tavie mengganti celanya dulu. "Celana basahnya disimpan di mana?" "Apa--?" "Astaga. Maaf," lanjutnya. Zendra refleks membalikkan tubuhnya ketika Tavie bertanya. Dan sialnya, ia disuguhi pemandangan tubuh Tavie yang--Jangan. Zendra tidak boleh meneruskannya. Tapi yang pasti, tubuh yang dimiliki Tavie adalah bentuk tubuh yang diidamkan semua wanita. Tavie berdeham cangung. "Sudah, Kak." Zendra kembali berbalik. "Pfft." Pria itu berusaha setengah mati menahan tawanya, tapi tetap saja gagal. Tavie terlihat lucu bajunya yang kebesaran "Kakak!" Tavie melipat tangannya di depan d**a dan mengeryit marah. "Sorry," ucap Zendra seraya menghampiri Tavie dengan handuk di tangannya. Ia mendudukan Tavie di sofa yang ada di hadapan mereka. "Biar aku keringkan." Tavie mengangguk. Membiarkan kakaknya mengeringkan rambutnya, sementara Tavie mengambil permen di meja itu dan memakannya. "Jangan dimakan." "Hm?" Zendra mengambil tisu, meletakannya di telapak tangan. "Keluarkan. Kamu bisa batuk. Cepat, keluarkan." Tavie memberenggut. "Kamu berlebihan, seperti Ayah. Aku tidak akan batuk hanya karena permen." Zendra menggeleng. "Cepat." "Ini hanya permen." Tavie menolak. "Iya, itu hanya permen, dan bisa membuatnu batuk." Tavie mendengkus. Hanya permen, dan Zendra membuatnya seolah Tavie baru saja memakan bom. Kesal, ia mengeluarkannya. Zendra tersenyum. "Anak baik." Tavie tersenyum miring. Dengan jahil, ia menjilat telapak tangan Zendra yang tidak terlapisi tisu. Zendra melongo. "Tavie!" Tavie tertawa melihat wajah kakaknya yang sangat lucu baginya. "Salah sendiri kamu terlalu berlebihan." Ia melihat Zendra mengambil tisu lagi dan membersihkan bekas jilatannya dengan jijik. Walaupun Tavie yakin Zendra tidak akan sejijik itu. "Aku sayang Kakak." adalah kalimat andalan yang selalu Tavie lontarkan agar Zendra tidak marah padanya. Sementara Zendra hanya mendelik tidak suka. Bukan karena ia membenci Tavie, tapi karena ucapan itu bisa membuatnya gila. “Aku tidak.” “Hm?” Tavie menoleh dan membuat rambutnya yang sedang dikeringkan oleh Zendra terhebas ke arah kakaknya. “Tavie.” Zendra memberenggut. Bukannya takut, Tavie memilih untuk tersenyum jahil. “Maaf, tapi apa? Kamu tidak menyayangiku?” Zendra menggeleng. Ia membalikkan tubuh Tavie dan kembali mengeringkan rambut adiknya dengan telaten. “Tidak.” Lebih dari menyayangimu, Tavie. Lebih dari itu. Tavie berdecak. “Aku akan bilang pada Mama dan Ayah kalau Kak Zendra tidak menyayangiku lagi.” “Silakan saja. Adu domba,” ledek Zendra. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil untuk meledek Tavie dan membuat adiknya kesal sendiri karena sikapnya. “Kakak!” Tavie mencubit paha Zendra dan membuat kakaknya meringis. Zendra menyimpan handuk yang sudah ia pakai untuk mengeringkan rambut Tavie. “Sudah.” Tanpa Zendra ketahui, Tavie tersenyum kecil menyadari kakaknya tidak akan pernah bisa untuk tidak menyayanginya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN