Chapter 10

1049 Kata
"Aku akan kembali bekerja. Kamu, diam dan jangan berulah. Okay?" Zendra menepuk kepla Tavie pelan, benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil. Tavie mengangguk. Ia sengaja menyalakan TV yang ada di ruangan Zendra untuk menghapus rasa bosannya. "TV di sini, aku yakin tidak pernah kamu tonton, ya kan, Kak?" Zendra mengangguk sekilas. "Lalu kenapa ada di sini?" Zendra tidak menjawab. "Kak." "Hm?" Tavie yakin kakaknya tidak terlalu mendengarkan, ia hanya mengendikkan bahunya dan kembali menonton acara TV itu. "Tavie, kecilkan volumenya."Tavie mencebik. Ia mematikan TV-nya dan menghampiri Zendra. Sepertinya akan menyenangkan untuk mengganggu kakaknya. Lagipula, tujuannya kemari adalah untuk menghapus rasa bosannya, dan mengganggu Zendra adalah salah satu kegiatan yang bisa ia lakukan. Dengan jahil, Tavie langsung duduk di pangkuan Kakaknya. "Tavie," tegur Zendra. Tavie hanya tertawa geli, namun tetap berada di pangkuan Zendra tanpa berniat pergi dari sana. "Wow." Matanya melongo melihat deretan angka-angka yang ada di dokumen di depan Zendra. "Kamu tidak pusing melihatnya?"Zendra menghela napas. "Nanti juga kamu akan seperti ini."Tavie tertawa. "Tapi masih lama. Aku harus kuliah dulu, and i'm going to Harvard. Kerja di perusahaan orang lain dulu, baru setelah itu aku akan bekerja di perusahaan Ayah." Tavie selalu merasa senang ketika ia menceritakan rencana hidupnya dan Zendra bisa dengan jelas melihat binar ceria dan harapan di mata Tavie. Zendra mengeryit. "Kenapa tidak langsung bekerja denganku di perusahaan Ayah? Dan, kenapa harus Harvard?" "Aku tidak mau mengambil untung dengan kedudukan Ayah, Kak. Aku harus memulainya dari nol, you know, itu yang disebut perjuangan. Dan kenapa harus Harvard, karena itu kampus impianku dari kecil. Kata Mama, aku dibolehkan kok kuliah di sana. Ayah dan Mama tidak masalah." Tavie tersenyum. Zendra bisa menghirup aroma peach dari adiknya. Ingin ia memeluknya dan--"Tapi Cambridge sangat jauh, Tavie." Tentu saja. Zendra bisa-bisa tidak bisa tidur tenang membayangkan adik kecilnya harus tinggal di negara bagian yang pergaulannya tidak bisa dikontrol. "Memang. Aku tau." "Bagaimana dengan Melbourne Uni? Kamu mau?" Setidaknya aku bisa menjagamu di sana.Tavie menggeleng. "Harvard." Rencananya sudah matang. Ia sangat berusaha keras untuk menaklukan universitas itu. Beberapa orang mungkin akan mengira mimpi Tavie terlalu tinggi, tapi ia akan membuktikannya. Zendra menghela napas. "Kamu itu ceroboh, masih bocah, dan belum pandai menjaga diri. Bagaimana jika--" "Aku sudah bilang, kan? Aku akan mencari pacar." Tavie bisa mengetahui raut muka Zendra yang langsung berubah menjadi masam ketika ia mengatakan itu. Tapi, bagaimana lagi? Menggoda Zendra adalah salah satu kegiatan favoritnya. Zendra mengeryit kesal. "Langkahi dulu mayatku." Zendra sangat serius dengan ucapannya. Tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.                                                                                                   *** Sebelum jam pulang kerja, Zendra mengadakan meeting dulu dengan beberapa petinggi perusahaan. "Kamu tunggu di sini saja, aku ada rapat--" "Ikut." Tavie nyengir. Sebisa mungkin ia memasang muka imut agar Kakaknya luluh dan memperbolehkannya ikut. Zendra menggeleng. "Kakak..." Zendra menyerah. Ia menghela napas. "Kamu boleh lihat-lihat kantor ini, tapi ingat--" "Jangan nakal, jangan ceroboh, dan jangan berbicara dengan orang asing." Tavie tersenyum lebar mengatakan kata-kata ajaib Zendra yang selalu dikatakan setiap saat. "Aku mengerti." Jangan berbicara dengan orang asing, padahal sembilan puluh persen karyawan di sini adalah orang asing baginya. Zendra mengangguk. Wajahnya masih sama datarnya. "Rapatnya tidak lama." Tiba-tiba, Zendra melepas jasnya dan ia pakaikan ke tubuh kecil adiknya. "Pakai ini. Jangan dilepas." "Kenapa?" Tavie mengeryit. "Jangan banyak protes. Pokoknya pakai saja." Tavie tidak tau saja, Zendra tidak mau tubuh adiknya terlihat karena memakai kaos putih dan membuat--Zendra tidak bisa melanjutkannya. Pokoknya Tavie tidak boleh melepas jas itu. Titik tanpa terkecuali. "Janji, jangan ceroboh, okay?"Tavie mengangguk semangat. Tubuhnya seperti tenggelam dalam balutan jas Zendra. Ia sangat lucu.                                                                                                     *** Tavie berjalan di lantai tepat di atas ruangan Zendra. Beberapa orang mengetahui siapa dirinya, dan mengangguk serta menyapanya. "Magentha." "Hai, Magentha." "Bagaimana kabarmu?" Kurang lebih seperti itu. Mungkin mereka tau siapa dirinya karena sang Ayah, pemilik perusahaan ini sesekali membawanya kemari saat ia masih kecil. Tavie hanya tersenyum dan sesekali mengangguk ketika disapa seperti itu.Tavie memutuskan pergi ke kafetaria. Tidak sulit menemukannya, karena kafetaria ada di lantai paling atas. Binar matanya keluar ketika melihat makanan favoritnya ada di sana. Dimsum dan brownies cokelat. "Wow," bisiknya. "Kamu mau?" Tavie tersentak. Ia menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggilnya. "Ares?" tanyanya tidak percaya. Suasana kafetaria yang tidak ramai membuatnya  leluasa dan tidak takut dikomentari karyawan di sini. "Hai, Tavie." Ares tersenyum. Pria ini sedikit lebih berwibawa dengan jas kerja yang ia pakai, sedikit berbeda dengan Ares yang mengajaknya untuk minum dan berakhir membuat Tavie limbung dan mabuk. Tavie malu jika harus mengingat kejadian itu. "Kamu mau?"Tavie nyengir salah tingkah saat tau Ares menyadari ia memandangi makanan kesukaannya tadi. "Tidak, Kakak tidak memberiku uang, jadi--" "Aku yang bayar." Tavie langsung menggeleng. "Tidak. Tidak perlu."Ares tertawa. Ia tidak mengacuhkan ucapan Tavie dan memilih untuk membelikan Dimsum dan Brownies untuk bocah-nya Zendra ini. "Untukmu." Sekuat hati Tavie tahan, tapi rasanya ia tidak bisa. "Terimakasih. Nanti Kak Zendra yang akan mengganti--" "Tidak perlu." Ares berjalan di depannya. "Ayo, kita kembali ke Kakakmu." Mereka masuk ke lift yang kosong dan kembali ke lantai tempat Zendra mengadakan meeting. "Sekolahmu libur, ya?" "Hm?" Tavie tersadar dari pikirannya. "Oh, iya." Ia tersenyum tipis.Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara.Hanya kecanggunan yang ada di antara mereka. Ting! Tavie menghembuskan napas pelan ketika akhirnya ia terbebas dari kecanggungan itu. "Terimakasih, Ares." Tavie menunduk kecil. Ares tersenyum. "Sama-sama. Aku pulang sekarang, ya?" Tavie mengangguk. Tavie mengalihkan pandangannya, dan betapa senangnya dia akhirnya bertemu dengan Zendra. "Kakak!" Ia melambaikan tangannya. Ia menghampiri Zendra yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya."....proposal akan diurus oleh sekretarisku..." "Kak." Tavie sudah berada di samping Zendra dan melingkarkan tangannya di lengan kokoh milik Zendra. Rekan kerja Zendra yang memakai kaca mata itu akhirnya menatap Tavie. "Oh, Magentha ya? Wah, it's nice to see you. " Tavie tidak tau siapa teman Zendra yang kini mengulurkan tangan padanya, bermaksud untuk menjabat tangan Tavie. Baru saja Tavie akan membalas jabatannya, tangan Zendra sudah mendahuluinya dan menjabat tangan rekannya. "It's nice to see you too. Kita bicarakan proyek ini minggu depan." Dan dengan itu, Zendra melingkarkan tangannya dan bertengger dengan indah di pinggang ramping Tavie. "Aku sudah bilang; jangan berbicara dengan orang asing.""Tapi kata Mama, aku harus sopan pada semua orang," jawab Tavie polos yang membuat Zendra gemas sendiri. "Semua orang tidak mencakup semua pria di muka bumi ini kecuali Ayah, aku, dan keluarga kita."                                                                                                ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN