Sepuluh hari kemudian...
Tavie sudah nenghapus air matanya yang sedari tadi mengalir dengan punggung tangannya, namun rasanya percuma, ia masih terus menangis. Isakan kecilnya kadang berubah menjadi raungan tidak setuju. Ia memeluk guling kesayangannya, terkadang menggigitnya untuk meredam isakannya. Sakit di hatinya seolah tak kunjung reda, padahal Tavie mengira dengan menangis maka setidaknya dia akan menjadi lebih baik. Tapi, ternyata anggapannya sungguh salah.
"Tavie?" Pintu kamarnya terbuka dan Tavie tidak suka dengan itu. Ia mencoba untuk bersikap normal dan pura-pura tertidur.
"Mama tau kamu bangun, Tavie. Ayo bangun. Sarapan sudah siap." Tavie menggerutu dalam hatinya ketika Mama masuk ke kamarnya dan duduk di samping dirinya.
Tangan lembut Mama mengusap rambutnya. "Tavie..."
Akhirnya Tavie tidak bisa menahan isakannya. "Lho? Tavie?" Mama membalikkan badannya dan terkejut melihat pipi Tavie yang basah dan matanya yang sedikit bengkak. Violet tidak tahu kalauu anaknya baru saja menangis. Ia mengira kalau Tavie baik-bak saja.
"Kamu baik-baik saja?" Ia sudah berada di hadapan Tavie yang terduduk di kasurnya.
Tavie menunduk. Sekuat tenaga ia menahan isakannya. "Tavie, Mama bertanya padamu."
Tavie menggeleng. Ia kembali menangis dan memeluk Mamanya. "Ma.... Kak--Kak Zendra..." Tavie tak lagi bisa menahan tangisnya di depan ibunya.
Violet tersenyum. "Dia hanya ke Sydney, Tavie. Dan dia bisa pulang kapanpun dia mau." Anaknya ini sangat manja dan Violet sangat mengerti karena sejak kecil, Tavie selalu tergantung pada Zendra. Ia dan Zendra seperti sudah melekat satu sama lain dan ketika Zendra harus pergi cukup jauh darinya, pasti akan membuatnya sedikit keberatan—atau mungkin sangat keberatan.
"Sama saja, Mama... Kakak tidak akan ada di sini."
Violet tergelak. "Kamu sangat menyayangi Kakakmu, ya?" Tavie mengangguk cepat.
Iya. Sebagai Kakak. Semoga saja hanya sebagai Kakak.
***
"Tavie? Kamu habis nangis?" tanya Kenneth begitu melihat anak perempuannya turun dari tangga untuk sarapan. Violet tersenyum geli, ia memberi kode pada Kenneth agar jangan menggoda Tavie.
Tavie menggeleng. Ia merapikan rok sekolahnya dan bersiap duduk di hadapan meja makan. Tavie terus menunduk. Ia tidak mau Ayahnya apalagi Zendra mengetahui bahwa ia habis menangis. Terutama Zendra. Kakaknya itu bisa meledeknya habis-habisan jika tau apa yang terjadi padanya tadi.
"Tavie?" tanya Kenneth sekali lagi. Violet gemas sendiri dan akhirnya memukul lengan Kenneth cukup keras. "Jangan diganggu." Sementara, Zendra di samping Tavie juga keheranan kenapa adiknya sangat 'diam' hari ini.
Zendra hanya memerhatikan adiknya tanpa berniat untuk menanyakan apa yang terjadi. Ia memakan sarapannya dengan tenang. "Zendra," panggil Kenneth. Zendra menoleh.
"Pertunanganmu jadi diadakan lusa, kan?"
Zendra tersenyum kecil dan mengangguk. "Iya, Ayah." Zendra memutuskan untuk menyelamatkan hubungan mereka dan membawanya ke jenjang yang lebih serius. Harris, ayah Anaya, mengatakan jika Anaya tidak jadi bertunangan dengan Zendra, ia akan mencabut sahamnya untuk perusahaan Kenneth. Zendra tau itu ulah Anaya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Well, ia memang menyukai Anaya. Lagipula, siapa yang tidak menyukai wanita cantik dan sexy seperti Anaya? Bisa dibilang, ini win-win solution untuknya. Walaupun ia hanya menyayangi satu orang perempuan di hidupnya.
"Ayo." Zendra menggenggam tangan Tavie setelah mereka sarapan dan berpamitan pada orang tua mereka. Tavie masih murung.
Zendra menundukkan Tavie di tempat duduk di teras rumah mereka. Ketika bermaksud untuk memakaikan sepatu adiknya, Tavie menahannya. "Aku saja." Ini pertama kalinya Tavie menolak bantuannya bahkan selama ini ketika Zendra mengantarnya ke sekolah, Tavie pasti dipakaikan sepatu olehnya. Sejak kecil, itu sudah seperti kebiasaa rutin untuk Zendra, dan ketika Tavie menolaknya, tentu saja Zendra terkejut.
Zendra diam. Ia tidak menanyakan kenapa adiknya berbeda sekarang, tapi dalam otaknya berkecamuk kemungkinan-kemungkinan yang ia lakukan dan membuat Tavie marah. Apa benar bocah ini marah padanya? Kenapa? Saat Zendra akan memakaikan tas pada adiknya, lagi-lagi Tavie menolak. "Aku bisa sendiri," katanya. Zendra termenung. Ia tetap menggenggam tangan Tavie ketika berjalan menuju mobilnya, tapi Tavie menolaknya lembut.
Zendra tidak tahan lagi. Ketika mereka berada di mobil, Zendra melajukannya hingga berada sedikit jauh dari rumahnya. Lalu, Zendra menepikan mobilnya. Ia menatap Tavie tajam, berharap Tavie mengerti bahwa ia sedang berusaha membaca situasi yang terjadi di antara mereka. Apakah ia berbuat salah? Apa Tavie marah padanya? Apa ada sesuatu yang tidak beres? Zendra butuh sesuatu untuk membuatnya mengerti.
Terdengar helaan napas dari Tavie. "Aku bisa telat." Tidak biasanya Tavie seperti ini dan semakin membuat Zendra yakin bahwa ada yang tidak beres pada adiknya.
Zendra menatapnya. "Kenapa? Ada apa denganmu?" Nada bicara Zendra cukup tegas. Mampu membuat Tavie gugup.
Tavie langsung menundukkan kepalanya dan menggeleng. "Aku tidak apa."
"Bohong." Orang bodoh saja pasti bisa mengetahui ada yang salah antara mereka. Situasinya sudah tidak mengenakkan sejak tadi.
Tavie menghela napas lagi. "Aku hanya--entahlah. Dua hari lagi kamu bertunangan dan besoknya kamu akan pergi. Bagiku, semuanya terasa begitu--" Tavie nengedarkan pandangannya ke mana pun, asalkan bukan mata Zendra. "....cepat."
Zendra paham sekarang. Tavie-nya takut kehilangan dirinya karena nanti mereka akan jauh. "Tavie--" Ia langsung menghembuskan napas lega. Maksudnya, awalnya ia takut bahwa ia yang menjadi biang keladi dan membuat Tavie marah, ternyata dugaannya salah.
"Aku tidak masalah dengan pekerjaanmu dan pertunanganmu. Jangan khawatirkan aku--"
Zendra langsung memeluk Tavie. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu jadi milik ka--maksudku, Kakakmu. Iya, apapun yang terjadi, aku akan selalu jadi Kakakmu yang bisa kamu andalkan.”
Tavie memeluk erat Zendra. "Aku akan merindukanmu."
"Aku juga." Tapi, Tavie masih tidak lega. Ia masih tidak mau kakaknya pergi secepat itu.
"Tersisa tiga hari lagi. Apa yang akan kita lakukan?" lanjut Tavie. Ia mendongak untuk menatap wajah tampan Zendra.
"Pulang sekolah nanti, aku akan mengajakmu pergi, bagaimana?"
Tavie mengangguk senang. "Deal."
Zendra tersenyum. Hanya beberapa jam yang akan ia lewati dengan Tavie dan setelah itu, ia akan melupakan perasaan anehnya pada adiknya itu. Tidak sepatutnya ia menyayangi Tavie lebih dari seorang adik. Tavie akan menjadi adiknya dan akan terus seperti itu.
Lagipula, apa yang tidak akan ada yang berubah dalam beberapa jam itu, kan?"
***
"Tavie." Tavie baru saja akan memasuki gerbang sekolahnya ketika Zendra memanggilnya. Pria itu sudah keluar dari mobilnya dan menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Tavie heran. Tiba-tiba saja Zendra sudah memeluknya erat. Sangat erat. Di depan gerbang sekolahnya di mana banyak murid yang berlalu-lalang dan Tavie yakin memerhatikan mereka. "Aku menci--menyayangimu."
Tavie mengangguk. "Aku juga. Tapi, sekarang aku mau sekolah dan lebih baik Kakak lepaskan pelukannya." Zendra tertawa dan menggaruk pelipisnya canggung.
"Sampai nanti."
Tavie mengangguk. Ia melihat ke sekelilingnya dan terkejut ketika beberapa murid memerhatikannya--memerhatikan mereka yang baru saja berpelukan. Astaga, padahal Zendra adalah kakaknya. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?
***