Tavie tersenyum senang begitu melihat Zendra menunggunya seraya bersandar di mobilnya. Sepertinya Zendra memiliki style yang sama setiap akan menjemput Tavie; kemeja putih digulung sampai siku, kacanata hitam, dan celana bahan berwarna hitam, tak lupa kedua tangannya yang dilipat di depan d**a sehingga memperlihatkan otot lengannya yang kekar. "Wow, itu Kakakmu?" tanya Eliza yang berada di sampingnya. Tatapannya melihat Zendra terpana. Tentu saja, penampilan Zendra selalu bisa membuat wanita terpana—termasuk Tavie.
"Iya." Tavie tersenyum seraya memandang Kakaknya dengan tatapan memuja.
"Keren." Komentar itu membuat Tavie tergelak. Tavie berpamitan pada Eliza dan berlari kecil menghampiri Zendra. Seperti anak kecil yang kegirangan karena dijemput oleh orangtuanya.
"Hai." Tavie masih tersenyum lebar saat menghampiri kakaknya. Tatapannya sama seperti gadis ABG yang baru pertama kali dijemput pacar impiannya.
Zendra melepas kaca matanya. "Jangan lari, Tavie. Kamu bisa terjatuh." Alih-alih menjawab sapaan adiknya, Zendra memilih untuk nengomeli Tavie karena tadi ia berlari. Padahal Tavie hanya berlari kecil, itupun jarak antara dia dan Zendra tidak terlalu jauh. Selalu saja, Zendra menjadi kakak yang posesif.
"Posesif," komen Tavie pada Zendra.
Zendra hanya menggelengkan kepalanya dan masuk ke mobilnya diikuti Tavie. "Kita akan kemana?" tanya sang adik penasaran. Ia ingat sekali kakaknya menjajikan untuk mengajaknya bermain setelah pulang sekolah.
"Bagaimana dengan bioskop? Aku dengar ada film baru," ucap Zendra dengan pandangan fokus pada jalanan di hadapannya.
Tavie mengangguk senang. "Ide bagus." Ia bersenandung kecil. Suasana hatinya sudah membaik dibandingkan tadi pagi karena ucapan Zendra yang meyakinkannya.
***
"Pakai ini." Zendra memberikan sweater berwarna hijau mint milik Tavie. Tavie menatap sweaternya bingung.
"Kenapa?"
Zendra berdecak. "Aku takut kamu kedinginan. Ayo, jangan banyak tanya. Cepat pakai."
Tavie mencebik kesal, namun tetap saja ia ikuti kemauan kakaknya. "Kamu berlebihan." Sangat berlebihan. Tidak mungkin juga Tavie akan jatuh sakit karena kedinginan akibat suhu di bioskop.
"Itu karena aku mencin—maksudku, menyayangimu sebagai adikku." Jantung Zendra sudah berdegup tidak karuan karena takut Tavie akan menyadari kesalahannya tadi. Kenapa mulutnya selalu saja mengeluarkan kata-kata terkutuk itu sementara hatinya ingin melupakan Tavie?
Tavie hanya mengangguk. "Ayo," ajaknya.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan Tavie melingkar di lengan Zendra. Mereka berjalan menuju bioskop yang dituju. Setelah membeli popcorn dan tiketnya, mereka harus menunggu lima belas menit lagi sebelum film dimulai.
"Apa persiapanmu untuk ke Sydney?"
"Hm?" tanya Zendra tidak mengerti dengan pertanyaan Tavie yang tiba-tiba.
"Iya, kamu akan ke Sydney. Apa saja yang kamu siapkan?"
Zendra berpikir sebentar. "Lebih banyak dokumen yang aku bawa dibanding pakaian dan keperluanku sendiri. Lagipula, tugasku di sana adalah memimpin perusahaan itu sampai stabil, lalu kembali ke sini. Jadi, itu hanya sementara. Aku juga akan pulang sekali dalam seminggu." Zendra tersenyum pada adiknya.
"Serius? Wah, daebak!!"
Zendra tertawa. Ia tidak mungkin meninggalkan Tavie begitu saja tanpa pengawasan darinya. Ia akan terus menemui Tavie kapanpun ia mau.
...karena ia mencin-- ralat.
...ia menyayangi Tavie...adiknya.
***
Tavie tidak bisa fokus pada layar lebar di hadapannya karena Zendra terus mengganggunya.
"Tavie."
Kesekian kalinya Tavie berdecak dan mendelik ke arah Zendra. "Diam. Filmnya sedang dimulai."
"Tapi aku bosan." Zendra mengambil popcorn di tengah-tengah mereka, tepat ketika tangan Tavie juga sedang mengambilnya.
"Eh?"
Tavie tersenyum jahil dan ia menggigit punggung tangan Zendra. "Tavie!" Zendra selalu heran dengan sikap jahil Tavie yang tidak ada habisnya. Tavie tertawa hampir terbahak. Hingga mereka ditegur oleh penonton di samping mereka untuk tidak ribut.
"Aku sayang Kakak." dan Tavie hanya tersenyum tidak berdosa pada kakaknya. Tavie hanya tidak tau saja, jantung Zendra berdetak seribu kali lebih kencang ketika ia mengatakan hal itu.
***
"Permen kapas!!"
"Unicorn! Lucu sekali, aku ingin unicorn!"
Zendra memutar bola matanya malas. "Ta—”
"Kincir angin! Ayo naik itu, Kak." Tavie sudah menarik tangan Zendra yang sudah pasrah ia bawa ke mana saja.
"Uhh!! Aku ingin boneka itu, ambilkan untukku, Kak!"
Lagi-lagi, Zendra ingin berteriak putus asa karena Tavie dan sikap anak kecilnya tidak pernah hilang. Ia jadi menyesali keputusannya untuk membawa Tavie ke Carnaval. Harusnya ia--
"Kak!"
Zendra tersentak. "Aku ingin itu." Tavie menunjuk boneka beruang besar berwarna putih.
Zendra tau ia harus mengikuti permainan konyol di depannya sebelum mengambil boneka yang diinginkan Tavie. "Aku bisa membelikannya nanti."
Tavie mencebik. "Tapi aku ingin itu..." dan Zendra tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.
"Yeay!!!" Tavie meloncat-loncat kegirangan begitu boneka yang ia mau sudah ada di pelukannya. "Aku sayang Kakak."
Zendra menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku ajaib adiknya ini.
***
"Ayo pulang." Sudah jam sepuluh malam dan mereka juga pulang dari Carnaval itu. Bahkan, kini Tavie sedang menikmati permen kapasnya dan duduk di kursi yang ada di sana. Kaki kecilnya ia gerakkan dengan pelan. Tavie terlihat lucu dan imut di mata Zendra.
"Tavie, aku bisa dibunuh Ayah kalau membawamu pulang lebih dari jam sepuluh." Zendra mengusap pelan rambut adiknya. Selalu. Wangi peach menguar dari sana.
Tavie akhirnya menurut pada Zendra dan masuk ke mobil Zendra.
"Kamu lelah?" tanya Zendra seraya melajukan mobilnya.
Tavie yang sedang asyik memakan permen kapasnya menoleh. "Hm?"
"Kamu lelah? Seharian ini kamu tidak istirahat, apa kamu tidak apa-apa?"
Tavie tersenyum mengetahui kakaknya yang posesif dan terlalu berlebihan, kini juga mengkhawatirkannya. "Tidak. I'm fine."
Ketika mereka sampai di rumah, suasananya gelap. Ternyata orang tua mereka berada di rumah Kentzo, saudara Kenneth, karena ada kepentingan dulu. "Cepat masuk ke kamarmu, lalu istirahat, okay?" Zendra mengelus pelan punggung adiknya.
Tavie tersenyum dan mengangguk. Sebelum masuk ke kamarnya, ia tida lupa untuk melayangkan kecupan ringan di pipi Zendra. "Terimakasih untuk hari ini. I love you, Kak."
Zendra tertegun pada awalnya. Namun, dengan cepat ia mengendalikan dirinya dan meyakinkan bahwa Tavie juga menyayanginya. Hanya sebatas saudara. Tidak lebih.
***
Zendra kelupaan di mana ia meletakkan ponselnya, akhirnya ia berjalan ke kamar adiknya dan menanyakan apakah ponselnya ada di Tavie atau tidak.
"Tavie, kamu li--"
"AAAKKK!!!" Zendra langsung menutup matanya ketika melihat Tavie baru keluar dari kamar mandi di kamarnya dengan balutan handuk putih di tubuhnya, namun tidak bisa menghalangi paha dan bahu yang putih dan mulus miliknya.
Zendra membalikkan tubuhnya dan berdeham canggung. "Kamu lihat ponselku?"
Tavie menggaruk pelipisnya. Walaupun Zendra adalah kakaknya, tetap saja, Zendra adalah laki-laki dewasa dan Tavie tau—
"Tavie, aku bertanya padamu."
Tavie menggigit bibir bawahnya. "I-itu, di tasku." Tavie bernapas lega ketika Zendra langsung mengambil apa yang ia cari dan pergi dari sana.
Beberapa menit kemudian, Tavie masih temenung. Hingga suara ketukan di pintunga kembali menyentaknya.
"Kakak, ada ap--"
***