Zendra keluar dari kamar Tavie dengan napas yang memburu. Sial. Harusnya tidak seperti ini. Ia tidak boleh begini. Tapi, sebagai laki-laki normal, apalagi Zendra bukan kakak kandung Tavie dan sudah pasti Zendra tidak memiliki kelainan sister complex. Hal yang wajar baginya bukan untuk merasakan hal itu? Hal yang normal jika Zendra merasa tertarik pada Tavie, yang secara harfiah adalah seorang wanita, benar ‘kan? Zendra yakin tidak ada yang salah dengannya, tapi kenapa keadaan seolah membuatya menjadi sangat salah dan tabu?
Zendra mengambil napas dalam-dalam mencoba menenangkan pikirannya dan menghilangkan semua pikiran buruk pada adiknya. Ia mencoba mengingat Anaya, Anaya, dan Anaya. Mereka akan bertunangan sebentar lagi, terlepas dari Zendra mencintainya atau hanya mengidamkan tubuhnya, kecantikan, dan kemolekannya--walaupun ada yang lebih menggugah dan lebih cantik dari Anaya--adiknya sendiri. Tapi, Zendra tidak boleh menjadi pengecut. Ia harus menghilangkan semua pikiran ini—
Fuck.
Tidak berhasil.
Zendra mengumpat pelan. Ia berbalik dan memandang pintu kamar Tavie dengan nelangsa. Sepuluh tahun lebih ia bisa mengendalikannya, selama ini ia bisa. Ia tidak boleh menjadi seorang yang berengsek pada adiknya sendiri. Tapi, ini salah satu kesempatan emas.
Ini saatnya.
Sekarang atau tidak selamanya.
Zendra mungkin akan menyesal.
Fuck off.
Zendra membuka pintunya tanpa mengetuk dulu. Ia melangkah dengan gusar dan menemukan adiknya berada di sisi tempat tidurnya. "Ada apa, Kak—” Untungnya, Tavie sudah berpakaian dengan benar.
Zendra membungkam Tavie dengan ciumannya. Ia menunggu Tavie menamparnya karena bersikap gegabah. Ia yakin akan menyesal setelah ini dan hubungan kakak-adiknya dengan Tavie akan berakhir. Atau mungkin, Ayahnya dan Ibunya akan mencoretnya dari daftar warisan jika tau perluan dirinya ini pada adiknya sendiri.
***
Tavie diam awalnya, tidak membalas. Ia terlalu shock dengan kelakuan kakaknya. Ia mencoba menepis rasa yang sudah dari dulu ia rasakan, namun ia hanya menganggap itu adalah rasa sayangnya pada Zendra. Sebagai kakak. Iya, hanya sebagai kakak laki-laki yang selalu melindunginya, menyayanginya, dan membuatnya aman. Hanya itu.
Tetapi, setelah apa yang dilakukan Zendra ini, yang mana sebenarnya salah, namun mengapa Tavie merasa ini semua benar? Ia masih belum membalas ciuman Zendra. Ia takut. Apalagi Zendra sudah merebut ciuman pertamanya. Tapi, demi Tuhan, Tavie juga tidak mau mengakhiri ini semua. Zendra terlalu membuainya. Usapannya pada pipinya membuat Tavie bisa kehilangan akal sekarang juga.
"Tavie..." gumam Zendra di sela-sela ciumannya yang lembut.
"...tell me..." Tavie mencoba untuk membalas ciuman Kakaknya. Walaupun ia tahu ini salah, tapi biarkan ia meyakinkan hatinya sekarang.
"...you feel it too, right?"
Zendra melepaskannya. Napas pria itu memburu. Begitu juga Tavie. Wajahnya memerah antara panas dan malu. Apa yang sudah ia lakukan?
"Hm?" Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Pikirannya buntu dan ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"You might feel the same. Kamu tau apa yang aku maksud."
Iya. Tavie tau. Selama ini ia mengira semua perhatian Zendra padanya hanya sebatas tanggung jawab pada adiknya sendiri. Ia juga menganggap perasaan mendebarkan yang selalu ia rasakan pada Zendra hanyalah perasaan yang tidak perlu ia pikirkan lebih jauh. Tapi, ternyata selama ini ia salah. Salah besar. Zendra tidak pernah menatapnya sebagai seorang adik. Pria itu ternyata menatapnya sebagai wanita biasa. Wanita yang bisa ia cintai dan miliki.
Derum mobil menandakan kedua orangtua mereka pulang. Tapi, Zendra masih memeluk Tavie dengan tangannya yang bertengger di pinggang adiknya. "Katakan padaku, Tavie. Kamu merasakannya juga, kan?"
"Kak—”
"Jawab, Tavie."
Tavie menahan napasnya. Ia merasakan perlahan lengan Zendra melepaskan dirinya. "Hm, aku tau. Mungkin aku saja yang terlalu berharap. Kamu hanya menganggapku sebagai kakakmu. Aku paham." Zendra berbalik meninggalkannya. Nada suaranya terdengar sangat kecewa ketika reaksi Tavie bukan seperti yang dia inginkan.
Tidak. Tidak seperti ini. Tavie tidak mau seperti ini karena... ia juga tau apa yang dirasakan Zendra.
"Zendra." Pertama kalinya Tavie memanggil Kakaknya tanpa embel-embel 'Kak'. Zendra berhenti di ambang pintu.
Tavie berjalan mendekatinya dan tanpa disangka oleh Zendra, bahkan oleh Tavie sendiri, ia mencium layaknya tadi Zendra menciumnya. Zendra membalasnya, tentu saja.
Derap kaki yang menaiki tangga membuat mereka tersentak. Kembali mereka jauhkan tubuh mereka dan Tavie menatap Kakaknya heran, sementara pandangan Zendra tidak terbaca.
"Tavie..." Zendra tidak ingin ini berakhir. Ia ingin ada kejelasan antara ini semua.
"Keluar."
"Apa?" Zendra mengeryit heran. Padahal tadi Tavie—
"Keluar sekarang."
"Tavie, kita--"
"Ini salah. Maaf, tapi aku tidak bisa. Kita keluarga, jadi aku tidak bisa." Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Tavie, ia berhasil mematahkan hatinya sendiri. Malam itu ia berhasil berbohong pada dirinya dan pada perasaannya. Malam itu, semuanya berubah. Hanya dalam waktu satu hari, semuanya berubah.
Zendra tersenyum miris. Ia tau, Tavie dan dirinya memang tidak akan pernah bisa bersatu. Tidak bisa.
***
"Kemarin kalian pulang jam berapa?" tanya Violet di meja makan saat mereka sarapan. Zendra melirik Tavie yang sedari tadi diam menundukkan kepalanya. Zendra berdeham.
"Jam sepuluh, Mama."
Violet mengangguk. "Kamu tidak kelelahan, kan, Tavie?" Baru saat ditanya, Tavie mendongak.
"Hm, tidak." Ia menggeleng dan kembali menunduk. Sandwich yang dibuatkan Violet rasanya tidak menggugah selera padahal itu makanan kesukaannya selain brownies cokelat buatan Mama.
Violet menyadari ada kecanggungan antara dua anaknya. Sepertinya mereka bertengkar. "Bagaimana persiapan pesta pertunanganmu, Zendra?"
Zendra mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Anaya yang akan mengurusnya."
Kenneth yang sedari tadi asyik dengan tabloid dan kopinya kini mengeryit heran. "Hanya Anaya? Ayah kira ini pesta kalian, harusnya kamu juga ikut mempersiapkannya, Nak."
"Anaya yang mengatakan akan mengurusnya, Ayah. Aku rasa dia cukup mampu mengurusnya sendiri."
Violet menghela napas. "Zendra, kamu serius kan? Dengan pertunangan ini dan Anaya? Kamu serius, kan?" Masalahnya, anaknya ini tidak terlihat senang ketika dua hari lagi ia akan bertunangan. Sikap Zendra biasa saja dan terlihat sekali Anaya yang hanya menginginkan ini semua.
"Ini hanya pertunangan."
"Karena itu, maka kamu harus serius."
Zendra menghela napas dan mengangguk kecil. "Tapi, kita tidak akan tau kedepannya, bukan? Semua hal bisa berubah dalam satu hari." Zendra menatap Tavie yang sedari tadi hanya diam. "Benar kan, Tavie?"
***
"Kita harus bicara."
Tavie menghela napas. Ia menghentikan langkahnya menuju mobil Zendra. "Apa lagi?"
Zendra tidak menjawab. Ia menarik Tavie ke dalam garasi rumah mereka. "Tavie, semalam itu, apakah kamu benar-benar serius? Kamu merasakan hal yang--"
"Aku sudah bilang, Kak. Itu semua kesalahan. Please, jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya terbawa suasana. Kamu akan selalu jadi kakakku. Semuanya tidak akan berubah."
Zendra tidak akan berjuang lagi.
***