Chapter 14

1050 Kata
Dua hari kemudian... Hari Minggu ini adalah hari yang penting untuk Zendra karena ia akan bertunangan dengan wanitanya. Sejak pagi, orang tua mereka sudah sibuk untuk mengatur tamu undangan yang akan datang, sementara pertunangannya akan diadakan di ballroom yang sama saat diadakan pesta ulang tahun pernikahan Alesya dan Kent. Tavie tidak tahu banyak soal persiapan yang diadakan keluarganya. Ia tidak tahu, dan tidak tertarik untuk tahu. Tavie sendiri hanya terdiam di kamarnya dan tidak melakukan apapun. Ia melihat gaun yang akan ia pakai malam ini di acara Zendra. Sebenarnya, ia tidak mau datang ke acara itu. Terlalu menyakitkan untuknya saat ia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Zendra. Tavie tidak mau. Tapi, jika dia tidak datang, mungkin kedua orang tuanya akan sangat curiga. "Magentha?" Pintu kamarnya terbuka dan sosok Ayahnya menyembul dari balik pintu. Tavie tersenyum. "Masuk, Ayah." Kenneth duduk di samping Tavie, di sisi ranjang anaknya. "Ada apa dengan kamu, Tavie? Ayah perhatikan dua hari ini, kamu selalu murung. Ada yang salah? Apa ada yang mengganggumu di sekolah?" tanya Ayahnya berentet. Tavie tertawa. Ayahnya kadang terlihat tidak peduli dan selalu mementingkan pekerjaannya. Tapi, dibalik itu semua, Kenneth selalu memerhatikan. Kenneth selalu memahaminya. "Tidak—" "Kamu tahu kamu tidak bisa berbohong pada Ayah." Kenneth menatap tajam anaknya. Tatapan yang selalu membuat Tavie yakin Ayahnya selalu tau kapan ia berbohong. Tavie tergelak. "Aku hanya....entahlah." Tavie menghindari tatapan ayahnya. Ia memandang lurus jendela kamar yang ada di hadapannya. "Zendra akan segera memiliki pasangan dan aku...aku hanya takut." Tavie memberanikan diri menatap Kenneth. "Aku takut dia tidak bahagia, Ayah." Jawaban yang bijak. Memang jauh di lubuk hatinya, Tavie sangat takut Zendra tidak bahagia dengan Anaya. Namun untuk saat ini, ia memikirkan kejadian dua hari lalu yang mampu membuatnya linglung seperti ini. Alih-alih mengkhawatirkan Zendra yang tidak akan lagi menjaganya 24/7, Tavie lebih mengkhawatirkan diri Zendra sendiri. Kenneth tersenyum. "Ayah paham. Tapi, sepertinya ketakutanmu berlebihan, Sayang. Dia akan bahagia." Bagaimana denganku? Apa aku juga akan bahagia setelah semua ini? "Jangan berpikir terlalu keras, okay? Ayah takut kamu sakit, Tavie." Tavie tersenyum. Ia memeluk ayahnya dari pinggir dengan kepala yang ia tumpukan di bahu Kenneth. "Gaun yang cantik. Siapa yang memberikannya?" Tavie mengikuti pandangan Ayahnya. Ayahnya melihat gaun yang ia gantung di depan lemarinya. "Tante Alexa." Kenneth tersenyum. Tavie adalah keponakan tersayang semua saudaranya, tidak heran mereka semua selalu memanjakan Tavie, termasuk Alexa. "Hm, Tante kamu itu memiliki selera yang bagus. Sama seperti Mama." "Tante Alexa pernah berkencan dengan Ayah, ya?" tanya Tavie geli dan melirik ayahnya sebentar. Kenneth terkejut dengan pertanyaan anaknya. "Siapa yang memberitahumu?" "Mama," jawab Tavie polos. Kenneth tergelak. Mama memang pernah memberitahunya soal Ayahnya yang berkencan dengan Tante Alexa. Saat itu Alexa baru saja putus dari Sean Wijaya, suaminya, dan Kenneth yang tertarik padanya langsung kencan dengan Alexa. Katanya Mama, Ayahnya dan Sean pernah sampai bermusuhan untuk waktu yang cukup lama karena Tante Alexa. "Hanya sebentar. Setelah itu, Ayah bertemu dengan Mama kamu dan terus jatuh cinta padanya." Kenneth menyombongkan diri. Sementara, Tavie mengeryit. "Ayah bertemu Ibu Olivia dulu." "Hm? Mama kamu juga yang bercerita?" Tavie mengangguk. Olivia adalah ibu angkat Zendra, istri pertama Ayahnya sebelum menikah dengan Mamanya. Dan Ibu Olivia adalah adik dari Violet, kini beliau sudah meninggal karena kecelakaan yang dialaminya. Kenneth tersenyum dan mengacak rambut anaknya gemas. "Cepat bersiap. Acaranya malam ini, sebentar lagi, Tavie." Tavie mengangguk dan membiarkan Ayahnya pergi dari sana. Ia menatap gaun indah berwarna putih itu. *** Zendra hanya diam menatap ponselnya sambil sesekali melihat dekorasi ballroom hotel di mana acaranya akan diselenggarakan. Ia menghela napas malas. Jika ia tidak memikirkan nasib perusahaannya, mungkin ia sudah mangkir dari sini, membatalkan pertunangan mereka, dan membawa Tavie kabur-- Hilangkan kemungkinan ketiga itu. Tidak mungkin ia membawa kabur Tavie dan memaksa bocah itu untuk mencintainya kembali. Mungkin Tavie hanya menganggap itu semua adalah cinta monyet yang akan pudar seiring waktu. Tapi, tidak bagi Zendra. Ia sudah dewasa, umurnya sudah dua puluh enam tahun. Ia tahu perbedaan yang sangat jauh antara rasa cintanya pada Tavie dan pada Anaya. "Zendra." Zendra menoleh ketika seseorang menepuk bahunya. Anaya terlihat tersenyum lebar dengan rambut yang sudah ia tata sedemikian rupa. Cantik. "Kamu suka penampilanku?" Padahal tanpa ditanya seperti itu pun, Zendra akan menyukai Anaya. Menyukai, tolong garis bawahi. "Cantik." Hanya itu komentar Zendra. Namun, sedetik kemudian ia sudah mencium Anaya menggebu-gebu. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang melihat mereka. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa malam ini, wanita yang ada di dekapannya, wanita yang sedang ia cium, adalah wanita yang sama yang akan bertunangan dengannya. *** "Kisah cinta kami sangat sederhana." Anaya berdiri di panggung dengan dress berwarna emas yang sangat elegan. Semua mata tamu undangan menuju padanya dan Zendra yang ada di sampingnya. Zendra tampak gagah dengan jas tuxedo yang membalut tubuh indahnya. Tavie memerhatikan itu juga. "...terima kasih, Zendra. Kamu membuat semuanya sempurna..." Semua orang menyoraki tatapan memuja Anaya pada Zendra. Zendra tersenyum kecil. Ia menggenggam tangan Anaya, mendekat ke arahnya, tanpa berucap apapun lagi, Zendra mencium Anaya. Riuh tepuk tangan meramaikan suasanya. Tavie memutar bola matanya malas. Ia kesal dan tidak mau melihat semua itu, karena... Zendra juga menciumnya seperti itu. Dua hari yang lalu Zendra kehilangan akalnya yang membuat Tavie terbuai hingga melewati batasannya. Tavie mengambil orange juice di sampingnya dan menengguknya cepat. Ia menghembuskan napas kesal dan tidak mau menatap dua orang kasmaran di atas panggung itu. "Taviella?" Tavie menoleh ketika seseorang memanggilnya. "Regan, hai!" Tavie tersenyum senang. Di antara sepupunya yang lain, Regan Wijaya adalah yang paling dekat umurnya dengannya. Regan adalah anak dari Sean dan Alexa, dan kini sudah masuk kuliah tahun kedua Regan mengambil whiskey dan menengguknya. Tavie melongo melihatnya. Inilah derita bocah kecil di lingkaran keluarga di mana semua sepupunya sudah dewasa. Tavie tidak bisa minum minuman seperti itu, berbeda dengan sepupunya. Regan melirik Tavie dan tersenyum. "Astaga, maafkan aku. Aku lupa kamu ini masih kecil." Tavie memberenggut. "Jangan lupa, hanya beda dua puluh bulan dari kamu. Jangan sombong, ya.” Regan tergelak dan meminum whiskey nya lagi. "Kak Zendra terlihat tidak bahagia." Ia memerhatikan Zendra dan Anaya yang kini sedang menyapa tamu mereka. "Hm?" Tavie pura-pura tidak mendengar. "Lihat, Anaya tersenyum lebar seperti ia memenangkan hadiah lotre. Sementara Kak Zendra, diam. Hanya senyum tipis dan aku tau itu tidak sungguh-sungguh." Tavie hanya diam. Ia kembali meminum orange juice-nya. "Kenapa? Sesuatu terjadi pada kalian?" Minuman Tavie menyembur. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN