"Maksudku, kalian sangat dekat, aku kira kamu tau ada apa dengan Kak Zendra." Regan berucap seraya membantu Tavie mengelap sisi bibirnya setelah menyemburkan minuman tadi. Ia tidak menyangka pertanyaannya yang hanya seperti itu saja, mampu membuat Tavie tersedak.
Tavie nyengir. "Maaf. Tapi, aku tidak tahu. Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Regan." Iya. Tidak boleh ada yang tau soal masalahnya dengan Zendra. Kiamat bisa terjadi jika ada salah satu dari anggota keluarganya yang mengetahui hal itu.
"Kata Ibu, aku memiliki feeling yang kuat. Jadi, tidak mungkin aku salah—“ Regan berucap dengan santainya, tapi dia tidak melihat bagaimana paniknya raut wajah Tavie.
"Tavie." Percakapan merek terhenti ketika Zendra datang dengan tangannya yang langsung melingkar di pinggang Tavie. Tavie bergerak tidak nyaman. Dulu, mungkin ia akan biasanya saja jika Zendra melakukan hal ini, tapi sekarang ia sangat amat tidak nyaman. Ia tidak bisa menatap Zendra seperti dulu lagi, Zendra sudah berubah di matanya.
"Hai, Regan." Regan tersenyum dan berbicara singkat dengan Zendra sebelum pria itu menarik Tavie ke depan hotel. Tavie tidak tau kemana Zendra akan membawanya. Sepertinya ke tempat yang sepi dan tidak banyak orang yang akan tahu mereka. Tavie hanya diam sementara Zendra terus menarik pelan tangannya.
"Dengarkan aku baik-baik." Zendra memegang kedua bahu Tavie. Tatapannya tajam dan membuat Tavie salah tingkah. "Aku bisa membatalkan semuanya dan berbicara di depan semua orang tentang kita. Tavie, aku tau kamu juga merasakannya selama ini. Kita hanya terlalu naif untuk—”
"Kamu sudah gila, Zendra." Tavie melepaskan tangan Zendra dari pundaknya. "Jangan seperti ini." Ia akan berusaha sekuat hati untuk mencegah agar anggota keluarganya tidak ada yang mengetahui ini, sementara Zendra dengan gampangnya mengatakan akan membocorkan apa yang mereka lakukan tempo hari? Gila! Lama-lama Zendra bisa gila!
"Seperti apa?" Zendra frustrasi karena Tavie tidak juga jujur padanya. Zendra yakin Tavie hanya pura-pura tidak tau.
"Aku tau, Tavie. Aku tau kamu mengenali perasaan apa itu—” Nada suara Zendra sangat frustasi. Tentu saja. Di saat ia sudah bertunangan dengan wanita yang tidak ia cintai, dan wanita yang ia cintai mengelak perasaannya sendiri, pasti membuatnya frustasi.
Tavie mencium Zendra ketika pria itu berbicara. Ia tidak tau apa yang merasukinya, tapi ia hanya ingin mencium Zendra. Ia bahkan tidak peduli jika ada seseorang yang melihatnya. Tavie mengalungkan lengannya di leher Zendra. Zendra membalasnya, tentu saja. Sama menggebunya dengan ciuman Tavie. Tangannya berada di pinggang Tavie dan membuat Tavie menepis jarak yang ada di antara mereka.
Namun, sebelum semua itu membuat mereka kehabisan akal, Tavie melepaskan ciumannya. "Ta—” Sebelum terlambat, dia harus menghentikan ini semua.
"Itu hanya untuk memastikan kalau...kamu bukan siapa-siapa." Tavie tidak berani menatap Zendra. "Kamu hanya kakak aku. Selamanya akan begitu." Napasnya memburu. Sebelum terjadi pertengkaran di antara mereka, Tavie berbalik meninggalkan Zendra. Ia akan bertingkah seolah ia memang tidak merasakan apapun.
"Kamu masih kecil, tidak tau apa yang nyata dan tidak." Langkah Tavie terhenti. Ia tersinggung. Egonya tersentil oleh ucapan Zendra.
Tavie berbalik. "Iya, aku memang masih bocah menurutmu." Tavie tersenyum mengejek. "Tapi aku tidak bodoh seperti kamu!" Tavie menunjuk d**a kakaknya.
"Kamu bodoh karena jatuh cinta pada adik kamu sendiri! Kamu bodoh karena memaksa sesuatu yang tidak akan terjadi."
"Tavie--" Zendra akan menahan pergelangan tangan Tavie, tapi tidak bisa ketika Tavie melepaskannya dengan kasar.
"Aku selalu menganggapmu sebagai Kakak aku. Aku kira semua kebaikan yang kamu lakukan itu murni karena kamu menyayangiku sebagai adik. Bukan seperti ini, Zendra." Rasanya selalu aneh setiap ia akan memanggil Zendra dengan sebutan 'Kakak' setelah apa yang mereka lakukan. Seperti yang sudah Tavie bilang, Zendra berubah di matanya.
"Aku memang menyayangimu. Selalu. Kamu tidak perlu berbohong--"
"Aku jujur. Aku jujur bahwa aku tidak pernah menganggap kamu lebih dari itu." Tavie merasakan matanya memanas. Ia menghindari tatapan Zendra.
Zendra tersenyum kecil. "Tatap aku. Kamu tidak menatap aku saat mengatakannya. Sekarang, katakan dan tatap aku, Tavie."
Tavie menghembuskan napasnya lelah. Tentu saja ia tidak mau menatap kakaknya karena ia tidak bisa.
"Tavie."
Tavie mengedarkan pandangannya. Tetap menghindari tatapan Zendra.
"Tavie, aku menunggu jawabanmu."
Sudah.
Tavie akan mengakhiri ini.
Tavie mendongak. Kepalanya ia dongakkan tinggi-tinggi. "Aku tidak mencintaimu. Zendra, kamu tetap menjadi kakakku. End of discussion."
Malam itu, semuanya berubah.
***
"Tavie, ayo bersiap." Violet menggoyangkan bahu anaknya pelan. Tavie menggeliat dalam tidurnya dan mengucek matanya. Ia melihat ibunya sudah duduk di pinggir ranjangnya dan tersenyum padanya.
"Ayo," ucap Mamanya sekali lagi.
Tavie menghela napas. Ia lupa hari ini Zendra akan pergi ke Australia dan Tavie tidak mau mengantarnya ke bandara. Terlalu canggung setelah pertengkaran mereka. Tapi, jika ia tidak pergi, orang tuanya akan curiga. Tavie bimbang setengah mati.
Astaga, semuanya semakin ribet. Dan ini karena ulah Zendra. Jika saja Zendra tidak memaksanya atau bahkan menciumnya, pasti hari ini ia masih bisa menatap Zendra seperti kakaknya yang dulu, atau mungkin ia pasti akan menangis hari ini karena akan ditinggalkan oleh kakak tersayangnya.
Akhirnya, Tavie mengangguk. "Aku mandi dulu."
Perjalanan ke bandara hanya diisi obrolan Violet dan Kenneth. Sementara di kursi belakang, Zendra dan Tavie sama-sama memalingkan wajah satu sama lain, tidak ingin saling menatap.
"Hati-hati, Zendra. Telepon Ayah kalau sudah sampai." Kenneth menepuk pundak putranya.
Violet tersenyum lembut. Ia memeluk anaknya erat. "Mama akan rindu kamu, Jagoan. Jangan lupa jaga kesehatan, makan teratur, dan jangan lupa kabari Mama setiap hari, okay?" Zendra tertawa mendengar pepatah Mamanya.
"Aku sayang Mama." Zendra membalas pelukannya.
"Mama sayang kamu juga, Jagoan."
Zendra melepaskan pelukannya. Tavie yang berdiri di samping Violet membeku. Tidak. Zendra lebih baik pergi dari sana tanpa—
Zendra memeluknya. "Maafkan aku," bisiknya. Tavie termenung. Tangannya tidak ada niatan untuk membalas pelukan Zendra. "Aku akan kembali secepatnya."
Jangan. Tidak perlu.
Lebih baik Zendra berada di Sydney selamanya dan tidak perlu bertemu kembali dengannya karena Tavie tidak mau. Ia lebih baik tidak bertemu lagi hingga ia melupakan kejadian yang membuat kepalanya hampir pecah beberapa hari terakhir ini.
Ketika melepaskan pelukannya, Tavie masih diam. Namun, ia yakin matanya kini berkaca-kaca. "Dah, Bocah."
***
"Kamu terlihat lesu, Tavie. Kenapa?" tanya Violet seraya melingkarkan tangannya di bahu anaknya. Setelah mengantar Zendra, Kenneth harus pergi ke kantornya karena ada keperluan penting. Sementara, Violet mengajak Tavie ke restorannya.
Tavie yang baru saja mengantarkan kue pesanan pelanggan Mamanya menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
"Hm? Mama tau kamu bohong, Sayang. Kenapa? Apa ini karena Zendra?"
Tavie tertawa kecil. "Tidak, Ma. I'm fine. Really."
Violet menatap mata Tavie dalam. "Kamu yakin?"
Tavie hanya mengangguk karena ia sendiri tidak yakin apakah ia baik-baik saja atau tidak.
***