Chapter 16

1043 Kata
Tiga tahun kemudian... Wanita dengan tubuh semampai, rambut bergelombang berwarna brunette sepunggungnya itu nenyebrangi jalanan yang licin karena hujan itu. Tangan kanannya memegang kopi yang baru ia beli sementara tangan kirinya memegang teleponnya. "Aku akan menelepon Mama lagi nanti." Outter maroon yang ia pakai terkena rintik hujan yang masih mengguyur Chambridge siang ini. "Iya, Mama tidak perlu khawatir." Wanita itu terkejut ketika sebuah mobil melaju kencang di depannya. "Tavie, ada apa? Kamu baik-baik saja, kan?" Wanita bernama Magentha Taviella itu menghela napas, ia lupa teleponnya masih tersambung dengan sang Mama. "Iya, Ma. Sudah dulu ya." Tavie tidak menunggu ibunya mengatakan apa-apa, dia langsung saja meutup panggilan mereka. Tavie menghembuskan napasnya lega saat sudah berada di gerbang kampus impiannya. Mimpinya yang selama ini selalu ia pendam kini menjadi kenyataan. Harvard University. Tavie tersenyum. Ketika rintik hujan semakin deras, ia dengan cepat berlari menuju gereja yang tidak jauh dari sana. Gereja yang sudah ada sejak lama itu tidak terlalu ramai. Tavie berjalan ke salah satu bangku yang ada di sana. Mendudukan tubuhnya, Tavie mencoba merapatkan outternya karena keadaan di gereja cukup hangat. Mata Tavie menyisir suasana gereja. Beberapa orang melipat tangannya dan memejamkan mata mereka seraya berdoa. Tavie diam. Ia bukan anak yang religius. Tapi, untuk kali ini, ia ingin berdoa dengan sungguh-sungguh. Meminta agar Tuhan menjaga keluarganya, membahagiakan mereka, dan Tavie tidak lupa mendoakan pria yang selalu mengusik hatinya. Ia hanya berharap pria itu tetap bahagia. Sudah tiga tahun. Tiga tahun lamanya ia menghindari Zendra. Tiga tahun ini ia mencoba menjauhkan diri dari pria itu. Bahkan, mereka belum pernah berkomunikasi lagi sejak tiga tahun yang lalu. Zendra memang sering pulang ke rumahnya, namun Tavie selalu 'kabur' setiap Zendra datang. Ia akan ke rumah Opa dan Oma-nya dan menginap di sana hingga Zendra kembali ke Australia. Tiga tahun ini ia berhasil tidak bertatap muka dengannya. Jika ada acara keluarga besar, Tavie akan pura-pura sakit atau ijin mendadak sehingga bisa melarikan diri dari Zendra. Tavie tidak akan bisa bertemu lagi dengan pria itu dan menganggap semuanya baik-baik saja. Kenyataannya tidak. Mereka tidak baik-baik saja. Ponselnya bergetar dan membuat Tavie tersentak. Perlahan, ia keluar dari gereja dan berjalan menuju Smith Center, tempat belajar di kampus itu. "Halo, Ma?" Padahal beberapa menit yang lalu Mama sudah meneleponnya. Violet menjadi lebih protektif begitu anak satu-satunya memutuskan kuliah di luar negeri. "Pulang kuliah nanti, kamu tidak akan kemana-mana, kan?" Tavie mengeryit. "Kenapa?" "Zendra akan datang." Langkah Tavie terhenti. Jantungnya pun mendadak berpacu lebih cepat dari biasanya. "Apa?" "Zendra sudah pulang kemari sejak seminggu yang lalu. Ia kembali mengelola perusahaan di sini. Karena sedang bebas, ia memutuskan untuk menemui kamu." Astaga. Jangan. "Tidak perlu, Ma. Aku baik--" "Ini kemauan Zendra. Mama tidak bisa menolak. Lagipula, ini Kakakmu yang akan menengok kamu. Tidak usah sungkan begitu." Tavie menghela napas. Bukannya sungkan, ia hanya... "Tavie?" "Hm. Oke." "Zendra sepertinya akan datang sebentar lagi. Ia sudah pergi dari kemarin sore." What? *** Tavie memijit pelipisnya lelah seraya melangkahkan kaki ke flat tempat tinggalnya. Sebelah tangannya memeluk essay dan paper tugas kuliah yang harus diselesaikan dalam tiga hari. Kuliah memang masa yang indah, tapi tetap saja tugasnya mencekik. "Tavie." Tavie tersentak ketika seorang pria berdiri di samping pintu flatnya. Pria yang ia hindari selama ini. Dengan koper berukuran cukup besar di sampingnya, pria itu tersenyum tipis. "Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu. Zendra mendekat ke arahnya. Sementara, Tavie sudah bersiap menghindar. "Untuk apa kamu kemari?" Tavie tidak mau berbasa-basi pada Kakaknya yang sudah tidak ia temui selama tiga tahun ini. Ia tidak membenci Zendra. Ia hanya, menyesali perbuatan pria itu yang seenaknya saja tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi Zendra menghela napas. "Aku hanya ingin memeriksa keadaan ka--" "Aku baik-baik saja." Zendra memerhatikan Tavie yang membuka pintu flatnya dan tanpa basa basi, Tavie masuk menghiraukan kehadiran Zendra. Zendra tidak tinggal diam. Ia mengambil kopernya dan mengikuti Tavie. Adiknya itu, bocah yang ia cintai melebihi dirinya sendiri, kini tampak lebih dewasa. Rambut panjangnya yang terurai indah dengan gelombang di ujungnya menjadi daya tarik tersendiri. Zendra tidak bisa menahan keinginan untuk memeluk Tavie. "Kenapa kamu mengikuti aku?" Zendra mengangkat bahu. "Aku akan di sini tiga hari. Jadi, tentu aku akan menginap di sini." Zendra duduk di sofa yang ada di sana. Tavie menghela napas. "Kamu kaya dan bisa memesan hotel bintang lima di sini. Kenapa harus memilih flat murahan seperti ini?" "Aku hanya ingin dekat dengan ka--dengan adikku." Tavie berdecih. Ia menyimpan tugas dan tasnya, kemudian berjalan ke arah dapur. Ia butuh teh chamomile sekarang. "Adik? Kamu masih punya keberanian untuk memanggil aku adikmu?" "Kamu sendiri yang bilang; selamanya kita akan menjadi kakak-adik." "Setelah semua yang kamu lakukan?" Zendra mendengkus kasar. "Kenapa kita masih bermusuhan?" Ia mendekati Tavie. Berdiri di belakangnya dengan tangan dilipat di depan d**a. Zendra menatap punggung wanita itu dan sekuat hati menahan untuk tidak gegabah dan memeluk Tavie sekarang juga. Zendra tidak ingin memperburuk keadaan. "Kenapa kamu menghindari aku, Adik?" Kata terakhirnya seperti ia tekankan dan menunjukkan bahwa ia jengah dengan label yang ada di antara mereka. Bahkan Zendra dan Tavie bukanlah kakak dan adik kandung. Sebenarnya, tidak ada larangan untuk mereka. Hanya saja, Tavie terlalu gampang memikirkan apa yang dikatakan orang sehingga membuat mereka sulit sendiri dan keadaan akan semakin rumit. Tavie diam. Ia tetap tidak mau berbalik untuk menatap Zendra. Tidak mau otaknya kembali diobrak-abrik oleh Zendra dan tidak mau Zendra membuatnya kelabakan. Masalahnya, hanya dengan tatapan tajam Zendra, pria itu sudah bisa membuatnya gugup setengah mati. "Kenapa kita jadi seperti ini?" Pertanyaan yang konyol keluar dari mulut Zendra. Sudah jelas apa yang membuat mereka seperti ini, seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi. Keadaan mereka tiga tahun terakhir bisa menjadi alasan kenapa mereka seperti ini. Tavie tertawa miris. "Apa kamu marah padaku karena hal itu? Padahal sebenarnya kamu bisa menerimanya saja." Sialan. Itu adalah kalimat paling murahan yang pertama kalinya Tavie dengar dari Zendra. Tavie membanting sendok yang ia pegang. "Cukup." Ia tidak mau Zendra meneruskannya. Ia tidak mau mendengar penjelasan dan perkataan dari pria itu lagi. "Kamu bilang, aku bisa menerimanya saja?" Tavie tertawa mengejek. "Menerima kalau Kakakku mencintai aku selayaknya wanita? Mengkhianati Anaya dan keluarganya? Kamu gila!" Tavie mendorong d**a Zendra. Ini alasan kenapa ia menolak kehadiran Zendra, karena pasti tidak akan pernah terselesaikan dan yang terjadi pasti seperti ini. "Aku gila? Bagaimana dengan kamu? Kamu juga menyadari itu, kan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN