Tavie menggeleng. "Aku masih punya kewarasan untuk tidak jatuh pada kegilaan kamu. Zendra, apa kamu pernah berpikir sekali saja, apa yang akan dikatakan orang tua kita jika kita--" Tavie tidak mau melanjutkan perkataannya. Tidak. Ia tidak boleh mengatakan itu atau ia akan sangat berharap nantinya. Tidak.
"Bersama?" tebak Zendra. Ia menghela napas. "Maksudmu, bagaimana jika orang tua kita tau kalau kita bersama?" Zendra terus menatapnya tajam seolah memaksanya untuk melanjutkan perkataannya tadi.
Tavie diam. Sudah kepalang tanggung dan dia juga sudah terlanjur malu untuk melanjutkannya.
"Aku bahkan bukan anak mereka, Tavie. Aku anak angkat mereka. Tidak ada masalah dengan itu." Zendra memegang kedua bahu Tavie. "Tidak masalah, Tavie." Tavie ingin menangis saat Zendra mengatakan itu—tidak, Zendra tidak melukainya, tapi Tavie sedih dengan kenyataan itu. Justru itulah yang menyulitkan. Orang-orang tidak ada yang tau bahwa Zendra adalah anak angkat dari Kenneth dan Violet. Apa yang akan dikatakan semua orang jika mengetahui ia dan Zendra....bersama?
"Kamu sudah punya tunangan!" Tavie menyugar rambutnya. "You are f*****g engaged! Zendra, apa yang kamu pikirkan sebenarnya?" Tavie benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikikan oleh Zendra sebenarnya.
"Kamu. Aku tau ini bodoh, tapi aku memang menyukaimu--mencintaimu--sejak kita kecil. Dulu aku terlalu naif, tapi sekarang aku sadar apa yang aku mau."
Tavie tertawa terbahak, lebih tepatnya mengejek Zendra. "Lalu, bagaimana dengan Anaya?"
"Jika kamu kecewa hanya karena aku sudah bertunangan, aku bisa memutuskan Anaya dan bersama ka—“
"Jangan mengkhayal berlebihan, Zendra." Tavie berbalik bermaksud meninggalkan Zendra. Tapi, ucapan Zendra kembali menahannya. "Aku tidak mau menjadi seperti Mama." Iya, Tavie tidak mau kisah cintanya berakhir seperti Ayah dan Mamanya. Ayah sebenarnya dijodohkan dengan Ibu Olivia, adik Violet, lalu mengadopsi Zendra. Namun, Ayah berselingkuh dengan Mamanya--yang memang cinta pertama Ayah. Tapi tetap saja, mereka berselingkuh di belakang Ibu Olivia. Tavie tidak mau seperti itu.
"Kenapa? Bisa beri aku satu alasan?" Hal paling diinginkan oleh Zendra hanyalah menjadi pendamping Tavie. Zendra tidak peduli jika dia mengkkhayal terlalu jauh, tapi memang itula yang dia inginkan.
Tavie menatap pria itu. "Karena aku tidak bisa kembali menatapmu seperti Kakak yang aku banggakan. Setelah kejadian itu, kamu ... berbeda. Aku tidak bisa melihat Kakak yang selalu menyayangi dan posesif padaku. Tidak ada Zendra yang selalu mengantarku sekolah. Tidak ada Zendra yang selalu menemaniku dan menolongku. Bahkan, tidak ada Zendra yang pernah melindungiku dari Aidan." Tavie menangis di depan Zendra. Ia mengaku dan ia tidak menahannya. "Kamu berbeda, Zendra. Aku tidak bisa melihatmu sebagai Kakakku lagi."
Zendra tidak bisa melihat Tavie menangis seperti ini. Ia membawa Tavie ke pelukannya. "Kenapa kamu harus menolak, Tavie? Kenapa tidak bisa kamu menerimanya saja dan kita akan berbicara pada Ayah dan Mama bersama." Iya, kenapa semuanya begitu sulit untuk Tavie yang seharusnya tidak perlu memusingkan itu?
"Aku takut mereka kecewa." Tavie melepaskan pelukannya. "Apapun usaha kamu untuk kita itu semua sia-sia."
Tavie berbalik dan meninggalkan Zendra sendiri. Mengabaikan rasa sesak yang ada di dadanya. Mengabaikan hatinya yang untuk pertama kali akhirnya dipatahkan oleh seseorang yang pernah berjanji tidak akan menyakitinya.
***
Sinar matahari mengintip malu-malu membangunkan Tavie. Wanita itu menggeliat dalam tidurnya. Ia melirik jam yang ada di sampingnya. Satu jam lagi kelas dimulai, berarti ia harus segera siap-siap. Ia keluar dari kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang dengan ujung kepala dan kaki panjangnya saja yang terlihat. Sial. Ia lupa Zendra di sini.
Mencoba untuk tidak memedulikan kehadiran pria itu, Tavie tetap melangkahkan dirinya ke kamar mandi. Ia akan bersikap bodo amat. Salahnya sendiri juga mengapa memaksa untuk menginap di sini.
Sabar, Magentha, hanya tiga hari. Tiga hari tidak akan merubah apa-apa, kan?
Zendra terbangun dan langsung melihat Tavie yang menyiapkan roti untuk sarapan. Ia mendekati adiknya itu dan duduk di hadapannya.
Tavie diam. Namun, Zendra beruntung Tavie masih berbaik hati memberikannya sarapan. "Thanks," ucap Zendra dengan senyuman tipis. Tavie tetap diam.
"Apa kegiatanmu hari ini?"
Tavie menghela napas. "Kamu tau aku berkuliah, Zendra." Jika pria ini berusaha untuk mencari topik dengannya, maka akan sia-sia. Tavie tidak akan menanggapinya
Zendra mengangkat bahunya. "Hanya bertanya." Zendra berusaha untuk tidak peduli. Kejadian kemarin membuatnya ingin menjaga jarak dari wanita itu, paling tidak sampai Tavie bisa menenangkan dirinya sendiri.
"Tidak perlu." Tavie menyimpan beberapa roti lapis ke tempat makannya. Ia masuk ke kamarnya untuk bersiap, setelah beberapa menit, ia keluar lagi dengan tas dan tugas-tugas dari profesor kampusnya.
"Aku antar." Zendra sudah bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu." Pria itu gila jika berharap Tavie akan mengiyakannya.
Tavie mendelik dan keluar dari flatnya. Ia menghela napas. Hanya tiga hari. Tiga hari pria dengan tujuan tidak jelas itu berada di rumahnya. Setelah itu, ia akan kembali pada tujuan hidupnya tanpa ada lagi yang mengganggunya. Juga, merapikan hatinya yang sudah hancur.
***
Tavie melewatkan kereta yang akan membawanya ke kampus. Sial. Ini pasti karena tubuhnya yang terlalu lemah sehingga tidak bisa berlari untuk mengejar waktu. Alhasil, ia menggunakan bus, walaupun memakan waktu yang cukup lama. Tidak apa, daripada ia tidak masuk hari ini.
Terpaksa, Tavie berlari menuju gerbang kampusnya dan memasuki gedung kuliahnya. Sial, sial, sial. Ia tekat lima belas menit. Ia tidak yakin akan diperbolehkan masuk oleh profesornya. Namun, keberuntungan berpihak padanya. Ia bersama dengan satu temannya diperbolehkan masuk oleh profesornya yang sedang mengajar.
Setelah jam kuliah pertama usai, Tavie memiliki jeda waktu cukup panjang sebelum mata kuliah kedua. Ia memutuskan untuk menunggu di perpustakaan seraya mengerjakan tugasnya. Tavie berambisi untuk lulus dalam satu semester terakhir ini, alias tidak genap empat tahun. Ia ingin segera bekerja di New York, lalu membuat perusahaannya sendiri, kemudian ia akan berpikir untuk melanjutkan perusahaan keluarganya. Tapi yang pasti, Tavie ingin membangun perusahaannya sendiri dulu.
"Hai, Taviella" sapa seseorang yang duduk di sampingnya.
Tavie menoleh dan tersenyum lebar. Ia kenal pria yang duduk di sampingnya ini. Namanya Matteo Yudhis, ia adalah pelajar asli Indonesia, sama seperti dirinya. "Hai, Matt."
"Hari ini sepulang kuliah, kamu free?"
Tavie berpikir sejenak. Ia sudah mengerjakan semua paper tugasnya. Jadi, kemungkinan dia bisa rehat sejenak. "Iya, kenapa?"
"Bagaimana jika kamu ikut kami ke bar? Well, hanya jika kamu mau." Kami yang Matteo maksud adalah perhimpunan pelajar dari Indonesia yang memang sering menghabiskan waktu bersama.
Tavie memikirkan ajakan itu. Daripada ia pulang dan kembali bertemu dengan pria yang membuatnya naik darah, lebih baik ia bersenang-senang dengan temannya. Lebih baik ia mabuk dibandingkan bertemu dengan pria itu.
"Oke."
***