“Ada apa, Sayang!” Tiba-tiba saja terdengar suara bariton menyela apa yang dikatakan antara Karin dan wanita yang tidak dikenalnya. Mata Karin menatap Ryan tidak percaya, karena dengan entengnya ia memanggil sayang kepada wanita itu. Begitu cepatnya Ryan mengalihkan cintanya. Sekarang Karin menyadari, kalau cinta Ryan tidaklah tulus kepadanya. Ia menelan ludah dengan sukar dan dengan cepat menundukkan kepala. Tidak tahan melihat senyum mengejek dan tatapan merendahkan yang menyorot di mata pria itu. “Wanita ini melarangku untuk bertemu denganmu! Tidakkah kamu akan memecatnya, karena sudah berani melakukan hal itu.” Wanita itu kemudian, meraih lengan Ryan dan merangkulnya dengan erat. Ryan yang tidak sebenarnya tidak menyukai dengan apa yang dilakukan teman kencannya ini. Harus menahan

