Dammam baru saja turun dari taksi dan masuk ke dalam sebuah restoran homy di pinggir Kota Pianika. Ia menenteng tas laptopnya, masuk ke dalam ruangan VIP yang telah direservasi sebelumnya. Tangan kanannya menarik pintu geser, ia mendapati Agacia duduk di sana seorang diri sambil menuangkan teh hijau yang masih mengepul dari teko keramik estetik ke cangkir kecil di depannya. Wanita itu memberikan senyuman terbaiknya, lalu dengan sopan menyuruhnya untuk duduk di depannya. Setelah itu, Agacia mendorong cangkir itu dengan pelan ke arah Dammam, meminta pria itu untuk mencicipi racikannya. Restoran ini dikenal dengan produk teh yang premium, karena diimpor langsung dari negara penghasil teh terbaik di dunia. “Apa yang kau inginkan? Aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi denganmu. Aku data

