BAB 18 Reuni keluarga

2851 Kata
“Kau baik-baik saja?” Saat ini keduanya baru saja sampai di penginapan Obyn. Arthur langsung meminta dua kamar untuknya dan Adele dengan menunjukkan kartu pada resepsionis dan mereka bekerja dengan cepat. Karena tubuh Adele yang lemas dikarenakan muntah hebat, Arthur terpaksa menggendong Adele selama mereka menuju penginapan dengan menggunakan teleportasi. “Hei,” Arthur memanggil. “Hm…” Adele hanya dapat menjawab dengan gumaman saja. Arthur menatap simpati pada Adele yang kini terbaring tengkurap di atas tempat tidur. Wajah gadis itu pucat pasi seolah kehilangan darah. Adele bahkan tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengangkat kakinya atau bahkan sekedar melepas sepatunya. Tidak tahan dengan keadaan Adele, Arthur segera membenahi posisi tidur gadis itu. Dia mengangkat tubuh Adele agar nyaman berbaring. “Bagaimana kau selemah itu? aku tidak tahu kalau kau bisa mabuk saat menaiki bus.” Arthur melepas kedua sepatu yang masih terpasang di kaki Adele sebelum membungkus kaki gadis itu dengan selimut. Adele merengek, “Kakak, aku rasa siaran televisi itu menipu. Aku akan memberikan mereka surat keluhan.” Alis Arthur terangkat satu, “ Siaran?” Adele mengangguk, “ Aku melihat siaran dimana para petualang menggunakan bus dengan koper di tangan mereka. Berbaur dengan warga biasa saat mereka menuju dungeon. Mereka terlihat sangat gembira. Aku tidak akan menyangka mereka hanya bohong belaka! Aku bahkan ingin mati dengan mengeluarkan semua isi perutku!” Arthur menghela nafasnya, “ Gadis bodoh,” di sentilnya hidung adiknya itu. Arthur melupakan bahwa sejak kecil mereka memang sama sekali tidak pernah keluar tanpa adanya pengawalan. Belum lagi ini adalah kali pertamanya mereka dapat bebas pergi ke luar kota dari mansion duke. Segala informasi biasanya mereka dapatkan dari siaran ataupun internet. Sejak peradaban baru kembali dikembangkan dan sektor pangan dan keamanan mulai stabil, industri hiburan mulai muncul walaupun jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan saat ini industri pertelevisian menayangkan berita para pemiliki kekuatan ataupun propaganda program terbaru kerajaan. “Itu hanyalah program yang dirancang agar tidak ada kesenjangan antara orang-orang seperti kita yang memiliki kekuatan dengan mereka yang merupakan warga sipil. Pada kenyataannya mereka tidak membutuhkan koper karena dalam guild pasti ada satu atau dua pemandu yang akan diberikan cincin spasial untuk membawakan barang mereka.” Arthur dengan sabar menjelaskan. “Jadi mereka berbohong kan?” “Itu tidak sepenuhnya bohong. Apa yang mereka lakukan itu kan untuk mempererat para penggarap dengan warga sipil. Dan masalah mabukmu, sepertinya karena kau belum terbiasa berbaur dengan orang lain dengan berbagai macam barang bawaan. Kebanyakan bus dinaiki oleh warga sipil. Tentu saja mereka tidak bisa melakukan pembersihan tubuh setiap saat seperti penyihir. Tapi lebih dari itu bukankah kau jadi memiliki pengalaman?” “Ini sangat aneh.” “Apa?” Tanya Arthur. “ Kenapa aku merasa sejak masuk akademi kakak sangat berpengetahuan? Kakak, kau tidak sedang dirasuki peri kan?” Arthur menyentil dahi Adele membuat gadis itu mengaduh. “Istirahatlah dulu, aku akan meminta pelayan membawakan bubur untukmu. Dua jam lagi kita baru akan pulang ke rumah.” saat hendak beranjak dari tempat tidur, Arthur merasa tangannya ditahan. “Kakak mau kemana?” “Kak Julian menunggu di restauran penginapan. Saat kau merasa lebih baik,kau bisa menyusul kesana.” “Oh…kalau begitu aku tidak ingin makan bubur. Aku merasa masih ingin muntah dengan membayangkan bubur saja. Aku mau tidur.” tangan Adele yang menahan kembali lagi masuk kedalam selimut. Mengusap kepada Adele, Arthur menjawab, “Kalau begitu aku akan membangunkanmu jika mobil jemputan rumah datang. Tidurlah yang nyenyak.” Arthur membenarkan letak selimut Adele. Bibir lelaki bergerak menggumamkan mantra, lalu cahaya hijau muncul membentuk sebuah tanaman rambat yang makin lama makin memanjang mengelilingi tempat tidur Adele. Cahaya seperti kunang-kunang tampak melayang disekitar tempat tidur dengan cahaya hijau berbentuk daun yang menempel pada tubuh Adele. Arthur dapat melihat ketertarikan kuat dari sorot mata Adele saat melihat sihir ini. Benar, ini adalah sihir yang masih belum umum digunakan pada era ini. Jelas Adele sebagai pengguna spirit dimasa depan akan tertarik dengan hal-hal seperti ini. “Woah…ini…” “Ini adalah sihir dream lucid. Tanaman yang akan membuatmu merasa baik dan nyaman saat tidur dan aromanya dapat meredakan mualmu. Aku akan mengajarkannya padamu nanti. Jadi sekarang tidurlah yang baik” “Kakak yang terbaik!” Adele tidak dapat menahan kegembiraannya. Tidak peduli seberapa berubah Arthur, asal dia masih Arthur yang selalu mengutamakan keselamatan orang-orang terdekatnya Adele tidak peduli. Apalagi melihat kehebatan Arthur saat ini, Adele merasa sangat senang dan lega. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi saat kembali karena Arthur tidak akan diremehkan oleh para pelayan. *** Satu jam telah berlalu sejak Arthur membiarkan Adele untuk istirahat. Saat ini dirinya berada di restoran penginapan. Dia memesan beberapa panekuk dan secangkir teh krisan. Di depannya tampak pemuda lain yang duduk juga memiliki pesanan yang sama dengannya. Dia adalah Julian. Setelah kembali ke mansion memberikan file video pada ayahnya, Julian memilih kembali ke penginapan untuk menjemput Arthur secara pribadi. Awalnya dia akan langsung mengajak Arthur pulang, namun saat Arthur mengatakan bahwa Adele membutuhkan waktu untuk istirahat, Julian menunda hal itu. “Aku heran kanapa kau harus menjemput kami jika kau baru saja dari rumah?” Arthur tidak dapat menahan keheranannya melihat Julian yang datang menjemputnya. Jelas sekali Julian memberinya pesan saat dia menaiki bus bahwa dia saat ini sudah berada di rumah dan Julian akan mengirimkan supir untuk menjemput keduanya. Namun saat ini Julian justru datang menjemputnya dan merecokinya dengan berbagai pertanyaan. “Tentu saja aku harus menyambut murid rank-SS memastikan dia dapat kembali ke rumah dengan selamat.” Julian tersenyum lalu bertanya, “Aku sudah melihat videomu dalam tes bakat. Itu luar biasa Arthur. Kau memiliki cara bertarung yang aneh. Kau seolah seperti ksatria namun kau juga menggunakan sihir dibandingkan dengan aura pedang. Apakah itu juga diajarkan oleh gurumu itu?” “Kak, apa kau tidak bosan menanyakan hal yang sama? Aku bahkan sampai hapal pertanyaan apa lagi yang akan kau ajukan setelah aku menjawab pertanyaanmu ini.” “ehem.” Julian pura-pura terbatuk. Dia merasa malu saat mendengar perkataan Arthur. Dia akui dia memang sangat antusias dengan perubahan Arthur yang disebabkan oleh ‘guru misterius’ ini. Hingga tidak sadar dia terus mengulang-ulang pertanyaannya. “Baiklah aku tidak akan bertanya lagi. Tapi Arthur, kau sudah memiliki kekuatan. Bahkan kau memiliki bakat yang lebih unggul diantara kami. Apa kau ingin aku memindahkanmu ke akademi Royal? Sumber daya disana akan lebih banyak yang baik untuk pelatihanmu. Kerajaan juga akan menjamin keselamatanmu.” Arthur menyesap teh miliknya, “Aku tidak akan pindah.” Sambil meletakkan kembali cangkir diatas meja Arthur berkata, “Akademi Royal memang memiliki fasilitas terbaik di seluruh negeri. Namun di akademi itu kita hanya akan menjadi burung di dalam sangkar yang tidak tahu bagaimana luasnya dunia. Belum lagi semua yang berada disana pasti akan dalam pengawasan Raja. Bisa dikatakan kau memang akan menjadi baik, namun kau akan terkekang.” Arthur tidak berniat untuk menutupi alasan dia sebenarnya tidak ingin di akademi Royal. Bagaimanapun dia adalah Julian—kakaknya. Seorang yang bahkan dulu ikut melawan Hyde—pamannya yang telah buta oleh kekuasaan. Dia sengaja mengatakan hal ini untuk membuat Julian waspada terhadap keluarga kerajaan. “Apa maksudmu?” “Kak aku akan memberitahumu hal yang mungkin akan sulit kau percaya. Namun ini adalah hal yang dikatakan oleh guruku padaku.” Mendengar kata ‘guru’ dari mulut Arthur, Julian langsung menajamkan telinganya. Dia bahkan memasang penghalang di sekitar mereka untuk mencegah orang lain mendengar pembicaraan mereka. “Sekarang kita aman. Jadi apa yang dikatakan ‘gurumu’ itu?” “Dia mengatakan banyak hal. Namun aku ingat poin pentingnya. Pertama, masalah Gate, dungeon, dan semua orang dengan kekuatan itu hanyalah permainan dari para mahluk yang mengatakan mereka dewa. Kekuatan bukanlah hal yang mutlak di turunkan. Meski bakat jelas memegang peran, namun jika kau mau dan berusaha kau dapat mendapatkan kekuatan sekelas rank-F dengan mudah. Kedua, setidaknya ada orang yang mengetahui hal ini selain guruku. Hanya saja orang itu tidak semua memiliki tujuan yang baik.” “Arthur, aku tidak paham apa yang kau katakan.” Arthur menghela nafasnya. Dia tidak dapat mengatakan dengan jelas bahwa semua gate dan monster di dunia ini, mereka ini hanyalah salah satu permainan dari Dewa dengan ujung permainan melawan Balbark. Arthur juga ingin mengatakan bahwa pamannya—raja saat ini adalah orang yang paling busuk yang seharusnya mereka hindari. Namun dia tidak akan bisa mengatakan hal itu dengan lantang. Pertama Julian tidak akan mempercayainya mengingat bagaimana baiknya Hyde memperlakukan dirinya. Kedua, Arthur tidak tahu efek kupu-kupu apa yang akan disebabkan olehnya jika dia mengatakan hal itu di awal. Kelahirannya kembali sudah merupakan keajaiban, Arthur tidak pernah merasa itu bukan tanpa bayaran. Pasti akan ada bayaran atas semua keajaiban ini. Arthur hanya takut jika dia membongkar rahasia masa depan, itu akan buruk untuknya dan semua orang terdekatnya. “Kak, intinya adalah guru mengatakan bahwa kita harus tetap waspada bahkan dengan keluarga kerajaan sekalipun. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Apalagi dengan darah murni keturunan kerajaan, tidak ada yang namanya ketulusan dengan adanya tahta.” “Dan satu lagi, jangan pernah menunjukkan semua kekuatanmu di akademi. Paling tidak kau harus memiliki kartu AS andalan untuk berjaga-jaga saat genting yang tidak seorangpun tahu.” “Arthur, apa kau mencurigai raja?” Julian menatap serius Arthur. “Kak, coba kau posisikan diri menjadi Raja. Dan aku adikmu memiliki kekuatan jauh diatasmu. Meskipun aku mengatakan padamu bahwa aku tidak tertarik menjadi Raja, kau sangat menyukai posisimu saat ini. Kira-kira apa yang akan kau pikirkan tentangku?” Julian terdiam. Arthur tahu bahwa Julian adalah orang yang cerdas. Dengan penjelasannya saat ini Julian akan menyadari dengan sendirinya apa yang dia maksud. Arthur sengaja membuat sebuah perumpamaan persis seperti paman dan ayahnya saat ini. Arthur melambaikan tangannya, dan penghalang yang dipasang Julian pecah begitu saja. Julian agak kaget saat melihat hal itu. pasalnya penghalang yang dia pasang adalah level 2 dimana seharusnya Arthur belum dapat memecahkan penghalang itu. namun yang dia lihat Arthur dengan mudah memecahkannya bahkan tanpa kekuatan. Arthur mengamati jam, sudah waktunya untuk membangunkan Adele. Bagaimanapun mereka harus sampai di rumah sebelum makan malam atau ayahnya akan marah. “Kata-kataku tadi kakak pasti tahu maksudku. aku akan membangunkan Adele dulu.” “Aku ikut,” Julian menjawab. Jadi keduanya memutuskan untuk naik ke lantai dua penginapan bersama-sama. Begitu mereka membuka pintu, seperti yang dipikirkan oleh Arthur, saat ini dia dapat melihat wajah terkejut Julian melihat dream lucid yang mengelilingi Adele. Arthur tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia membaca mantra dan mengulurkan tangan saat mendekati tempat tidur, dan tanaman hijau bercahaya yang mengelilingi Adele bergerak secara perlahan menuju Arthur dan terserap di masuk ke telapak tangannya. “Arthur ini…” “Kak, jangan katakan akademi Royal tidak memberimu pelajaran tentang membuat mantra dream lucid?” “Apakah di Olympus mengajarkan hal ini?” Julian balik bertanya. “Kak, ini adalah sihir mainan yang bahkan dapat kau baca di perpustakaan umum. Jika kau hanya fokus berlatih tanpa membaca buku, kau akan kehilangan hal-hal penting.” “Entah aku yang harus pindah akademi, atau kau yang akan kuseret masuk ke akademiku. Arthur, aku sungguh ingin membelah isi kepalamu untuk melihat semua pengetahuanmu. Arthur tidakkah kau mau memperkenalkanku pada gurumu?” “Berhentilah bercanda. Dan guruku belum mau memiliki murid lain karena beliau mengatakan bahwa memiliki aku saja cukup sulit.” Arthur mendekati Adele dan memanggil nama gadis itu pelan untuk membangunkannya. Wajah Adele jauh lebih baik dan terlihat segar. Dengan dibangunkannya Adele, ketiganya mulai bersiap untuk kembali ke rumah dengan menaiki mobil yang akan langsung berteleport ke rumah. *** Mansion duke dalam ingatan Arthur tidak banyak berubah. Mungkin karena hari ini akan diadakan jamuan makan, mansion ini jauh lebih gemerlap dibandingkan hari biasa. Mendiang ibunya selalu menyukai warna putih dan biru. Jadi Duke sengaja memberikan banyak warna putih dan biru di dalam mansion meskipun beliau menyukai warna hitam. seingat Arthur, hanya ruang kerja Duke yang memiliki batu obsidian hitam selain ruangan itu, maka akan di d******i warna putih dan biru. Seumur hidupnya duke hanya memiliki dua istri yaitu ibunya dan Julian. Sayangnya dengan sebab yang sama, kedua ibu mereka meninggal saat mereka terbilang anak-anak. Arthur masih mencurigai kematian ibunya sendiri. Namun bahkan dengan kelahirannya kembalipun, dia tidak dapat menemukan petunjuk tentang ibunya. Selain karena kematiannya terjadi saat dia masih kecil, Duke pun selalu mencegah berita apapun tentang kedua mendiang istrinya itu bocor. Selain itu , kakek dan neneknya pun telah tidak ada bahkan sebelum dia dilahirkan. Membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan sebuah informasi. Mungkin Arthur akan menyelidiki hal itu dilain waktu. Saat ini dirinya tengah memakai jas untuk makan malam hari ini. Dia bahkan belum sempat mengistirahatkan diri dikarenakan persiapan ini. Pertemuan keluarga—itu berarti raja akan berkunjung ke kediaman ini , mungkin juga dengan kerabat yang lain. Bisa jadi juga mala mini tidak akan membahas tentang dirinya, melainkan tentang pasangan Julian mengingat dirinya telah menginjak umur tujuh belas. “Mungkin juga keluarga kerajaan akan mengintrogasi mengenai kekuatanku. Yah, aku rasa aku harus banyak mengarang cerita nanti.” Arthur mengamati dirinya di depan cermin. Itu adalah sosok pemuda dengan setelah jas berwarna putih dan setangkai bunga mawar di saku atas jas miliknya. “Kakak!” suara renyah dari balik pintu menarik perhatian Arthur dari cermin di depannya. Itu adalah Adele. Gadis itu kini sudah memakai gaun berwarna putih bercampur peach polos dengan jepit rambut berbentuk bunga yang terpasang di ikat rambutnya. “Ayah memintaku untuk memanggilmu. Raja dan yang lainnya akan datang tidak lama lagi.” “Baiklah ayo kita turun.” “Iya!” Arthur turun menuju ruang makan dengan Adele yang mengaitkan tangannya di lengannya. Sebenarnya itu bukanlah hal yang baru. Sejak kecil Adele memang memiliki kebiasaan mengekorinya. Mungkin karena mereka yang paling sering bersama dibandingkan Julian yang harus berlatih lebih giat sebagai calon penerus duke. Namun semua berubah tatkala Arthur sama sekali tidak dapat membangkitkan kekuatannya. Arthur tidak ingat dengan jelas apa penyebabnya. Namun Arthur dapat memastikan bahwa dulu seharusnya dia bukanlah limbah. Yang jelas sejak saat itu dia mulai mengisolasi diri dari keluarganya termasuk dengan Adele. Namun sekarang, Arthur ingin memperbaiki semuanya. Termasuk hubungannya dengan keluarganya. Mungkin karena perubahan temperamen Arthur, atau mungkin karena berita tentang bakatnya , Arthur dapat merasakan para pelayan menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari ingatannya. Bahkan sejak dia memasuki rumah, perlakuan mereka sangat hormat seolah-olah mereka tengah memperlakukan ayahnya. Arthur terus berjalan hingga dia sampai di ruang makan. Begitu sampai di ruang makan, dia mendapati ayahnya—Glerand sudah terlebih dulu duduk di ruangan makan paling ujung dengan segelas anggur yang tersisa sedikit. Dan Julian juga sudah ada disana duduk tepat di sisi kanan setelah ayahnya. Arthur segera melepaskan gandengan Adele dan membungkuk dan di ikuti oleh Adele. “ Arthur menyapa ayahanda.” “Adele menyapa ayahanda.” “Kalian duduklah.” Glerand angkat bicara. Nada suaranya masih seberat dulu dan terdengar kaku. Namun Arthur ingin mengatakan betapa dia sangat merindukan suara ini. Suara yang dulu sangat dia takuti dan benci, itu karena kebodohannya yang tidak dapat menangkap maksud baik ayahnya. “Baik ayah.” Arthur berjalan dan menarik kursi disebelah Julian sedangkan Adele menarik kursi di sampingnya. “Hm, kau banyak berubah. Bagaimana dengan akademi? Apa kau menyukainya?” Glerand kembali membuka suara. “Saya menyukainya ayah.” Glerand mengangguk, “ Arthur, apa kau ingin masuk ke akademi Royal? Jika kau ingin pindah kesana, ayah akan membantumu.” “Ayah, aku ingin tetap berada di akademi Olympus. Banyak teman dan hal yang baru disana dan saya menyukai serta nyaman berada disana. Disana, saya dapat menemukan teman tanpa memandang siapa saya dan identitas saya. Mohon ayah mengerti.” Arthur menolak halus. Sebenarnya jawaban Arthur sudah diperkirakan oleh Glerand karena Julian telah melaporkan segalanya padanya. Pengawal rahasia yang mengikutinyapun telah memberinya banyak laporan tentang perubahan baik Arthur selama dia memasuki akademi. Sebagai seorang ayah, penyesalan terbesar Glerand adalah dia harus ‘membuang’ Arthur di akademi Olympus karena kurangnya bakat. Saat ini ternyata Arthur memiliki bakat, namun sepertinya anak keduanya ini lebih menyukai lingkungan Olympus. Maka Glerand tidak akan memaksanya. “Baiklah kalau itu keputusanmu. Bagaimana denganmu Adele?” “ Adele tentu saja akan mengikuti kak Arthur.” Glerand tertawa, “Yah putri kecilku ini sepertinya sangat menyukai kakak keduanya.” dari semua anak, mungkin hanya Adele yang diperlakukan berbeda oleh Duke. Sejak kecil Glerand memang lebih lunak pada gadis ini dan terkesan memanjakan. Mungkin itu karena hanya dia satu-satunya gadis yang berada di mansion dan paling muda. Jadi saat berbicarapun, Adele adalah satu-satunya yang dapat menggunakan nada manja dengan lelaki pemimpin puluhan ribu pasukan itu. “Tentu saja! Ayah, tanpa belajar asalkan aku diajari oleh kak Arthur, aku rasa aku bisa mengalahkan kak Julian suatu hari nanti.” Arthur mengetuk kening Adele yang membuat gadis itu mengaduh meskipun tidak ada rasa sakit sama sekali, “ Ayah aku benar. Kak Arthur bahkan bisa menggunakan sihir dream Lucid! Aku dapat berlatih didalam tidurku.” “Oh? Benarkah?” Glerand menatap Julian lalu menatap Arthur. Itu belum dilaporkan Julian. “Apa yang dikatakan Adele benar ayah.” jawab Julian. Glerand baru saja akan mengatakan hal lain, namun pelayan datang memotong perbincangan ketiganya. “Duke, yang mulia telah datang.” “Baiklah, kalian bertiga ayo sambut raja. Dan Arthur, ingat untuk tetap rendah diri. Kau mengerti?” Glerand mengingatkan sebelum mengajak ketiganya menyambut ke depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN