Arthur sama sekali tidak menyangka bahwa Asosiasi akan menemuinya dihari ini juga. Wanita di depannya memiliki sosok ramping, mengenakan kaos dan celana hitam panjang ketat, dan sepasang sepatu hak tinggi. Rambutnya berwarna ungu menutupi bahu. Kulitnya tampak kuning langsat sehat dan terawat. Tidak seperti kebanyakan gadis pada saat ini yang memiliki kulit putih, warna kuning langsat memang terbilang langka pada zaman ini. Dia memiliki mata yang cerah dengan bola mata ungu senada dengan rambutnya, alis melengkung, bulu mata lentik yang seolah memperbesar ukuran bola matanya, dan bibir dengan pewarna merah tampak berani. Jika Arthur tidak salah ingat, tahun ini seharusnya beliau berusia tiga puluh tahun atau lebih. Namun kemungkinan dia telah menerapkan beberapa obat dan perawatan pada tubuhnya sehingga dia bahkan masih terlihat seperti dua puluhan dengan aura dewasa.
“Saya tidak menyangka ketua Asosiasi Tekno datang menemui saya secara langsung.” kata Arthur begitu menyadari situasinya. Dia tidak langsung mempersilahkan mereka masuk karena peraturan akademi yang melarang gadis memasuki kamar siswa laki-laki.
Ada guratan keterkejutan yang dimiliki Maiya ketika Arthur ternyata mengenalnya.
“Tampaknya aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Meskipun aku penasaran darimana kau tahu bahwa aku adalah ketua Asosiasi.”
“Saya hanya menebaknya secara acak. Senior Zyn adalah orang yang paling terkenal di departemen Chronos. Selain karena bakatnya, dia juga terkenal dengan sifatnya yang tidak mudah membaur dan mengikuti orang. Kecuali satu orang, yaitu ketua Asosiasi sendiri.”
Maiya tersenyum. Bahkan saat dirinya tersenyum, ada aura menggoda yang menyelubungi sekeliling tubuhnya, “ anak muda, kau memiliki analisis yang sangat baik. Aku adalah Maiya ketua dari asosiasi Tekno. Aku akan mengatakan langsung pada intinya karena sepertinya kau juga sedang buru-buru.”
Tidak perlu menanyakan bagaimana Maiya dapat mengetahui bahwa Arthur saat ini sedang terburu-buru untuk pulang. Kedatangannya sampai di depan pintu kamarnya jelas sudah mendapatkan ijin dari Dekan. Dekan pasti sudah memberitahunya tentang kepulangan Arthur.
“Arthur, asosiasi berhutang banyak padamu dengan penemuan kesalahan sistem pada alat pengujian bakat yang kami buat. Kau tahu seberapa serius masalah ini jika sampai terdengar di telinga luar. Kau juga telah menyelesaikan bug video. Jadi katakan padaku apa yang kau inginkan? Selama itu ada di dalam jangkauan kami, maka aku akan memberikannya.”
“Nona, saya tidak dapat menerima hadiah apapun. Itu juga merupakan tanggungjawab karena kecuranganku.” Arthur menolak dengan halus.
“Zyn,” Maiya memanggil. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya kebelakang. Dibalik Maiya, Zyn yang mengerti maksud dari gurunya itu segera memberikan sebuah kartu berwarna biru dengan tulisan berlapis emas pada kartu.
“Ambillah ini.” Maiya mengulurkan kartu itu pada Arthur. Sebelum Arthur menolaknya, wanita itu segera mendorong kartu di tangan Arthur dan berkata,
“Aku bukanlah orang yang suka berhutang budi. Kartu ini hanyalah alat yang memudahkanmu memasuki asosiasi kami dan ikut dalam beberapa proyek tertentu. Kau akan segera masuk ke departemen Chronos, aku yakin ini akan memudahkanmu dan temanmu untuk mencari barang yang kau butuhkan selama berada di akademi.” Maiya mengetuk-ngetuk ujung dagunya dengan jari telunjuknya sebelum melanjutkan,
“Dan dengan kartu ini setidaknya kau dapat memiliki akses untuk memasuki data cctv yang terpasang di wilayah penginapan Owsvon.”
Mata Arthur terbelalak kaget, dia melupakan akan adanya cctv di wilayah pasar tradisional. Jika memang itu ada, itu berarti dia ‘sudah ketahuan’ oleh beberapa orang tertentu namun mereka masih belum mengatakan apapun pada petugas keamanan.
“Itu…”
“Nagaimana? Kau pasti tidak akan menolak hal itu kan? Aku hanya akan memberitahumu bahwa semua rekaman cctv akan secara berkala di serahkan pada biro keamanan publik satu tahun sekali. Namun jika ada kasus yang khusus, maka itu biasa diminta pada akhir pekan.”
“Saya sangat berterimakasih pada nona!” Arthur memberikan hormat pada Maiya. Beritanya tentang dirinya yang dapat menyamarkan diri dengan sihir ‘baru di era ini’ belum tersebar di biro keamanan publik kemungkinan karena campur tangan Maiya. Namun untuk menghapus rekaman cctv, jelas bukan hal mudah dilakukan oleh anggota asosiasi Tekno karena itu melanggar kode etik mereka. Dengan kartu yang diberikan ini, Arthur mengerti bahwa secara tidak langsung Maiya sudah ada dipihaknya dan memberikan kebebasan untuk menghapus datanya secara pribadi.
“Aku tidak tahu kenapa kau harus menyembunyikan semua bakatmu. Yang aku tahu anak seusiamu pasti menyukai berada dalam pusat perhatian. Tapi yah… itu tentu masalahmu. Karena aku sudah memberikan hal yang ingin aku berikan, aku juga tidak ingin menundamu lebih lama.”
Saat mengatakan hal itu, Maiya segera memberi isyarat pada Zyn untuk kembali. Ini adalah kali pertama dia tertarik dengan lawan jenis dan dia tidak akan menyangka bahwa lelaki pertama yang berhasil menarik perhatiannya adalah seorang pemuda yang masih ingusan.
“Guru apa anda yakin memberikan kartu itu?” Zyn tahu bahwa Arthur sangatlah berbakat. Membawanya di pihak mereka akan menguntungkan asosiasi. Namun Zyn belum pada taraf dimana Arthur pantas untuk mendapatkan kartu eksklusif asosiasi yang dapat membuat pemiliknya bebas keluar masuk Asosiasi bahkan di bagian proyek inti. Zyn sendiri belum memiliki kartu itu karena Maiya mengatakan bahwa bakatnya masih kurang untuk dapat memiliki kartu itu. Namun dia sama sekali tidak memiliki rasa iri pada Arthur. Itu murni rasa penasaran Zyn tentang alasan Maiya memberikan kartu itu pada pemuda yang bahkan belum resmi menerima pembelajaran di akademi.
“Zyn, kau akan tahu di kemudian hari bagaimana berlian itu akan bersinar.” Maiya menjawab dan terus berjalan. Bagaimanapun dia tidak sabar menunggu keajaiban apa yang akan dilakukan Arthur selanjutnya.
***
Di sisi lain, Adele tampak menunggu kedatangan Arthur di depan gedung asrama putri tahun pertama. Dalam asrama setiap gedung memiliki tingkatan tersendiri sesuai dengan kelas masing-masing. Untuk tahun pertama mereka akan menempati gedung lantai paling bawah. Sedangkan kelas lebih tinggi akan menempati gedung lebih tinggi, itu dimaksudkan karena kelas lebih tinggi membutuhkan tempat yang lebih tenang untuk berlatih. Setiap kamar memang tidak dilengkapi dengan aula berlatih, namun jika kau sudah di kelas lebih tinggi, akan ada pelajaran dimana murid dapat membuat barrier atau sihir pertahanan dengan menggunakan udara dimana itu dapat mengisolasikan diri dari sekitarnya untuk berlatih.
Tamu laki-laki tidak diijinkan untuk memasuki gedung asrama putri, namun mereka dapat menemuinya di depan gedung asrama. Hal itulah yang dilakukan Adele saat ini. Julian telah mengirim pesan padanya bahwa hari ini akan diadakan pertemuan keluarga yang mengharuskan mereka kembali ke rumah dan Adele juga menerima surat ijin dari dekan melalui Eugine yang menitipkannya pada penjaga asrama. Saat ini banyak siswa yang berlalu lalang keluar masuk asrama. Kebanyakan mereka adalah siswa tahun pertama yang tengah membeli beberapa perlengkapan atau sekedar meminjam buku di perpustakaan untuk menyambut pembelajaran pertama tiga hari lagi.
“Kakakmu belum datang?” Prisilia muncul dari belakang Adele. Dia langsung duduk diatas koper kecil miliki Adele. Prisilia tahu hari ini Adele akan kembali ke rumah, dan dia berniat menemani sahabatnya ini menunggu Arthur menjemput. Namun tadi dia harus lebih dahulu menemui pengurus asrama dikarenakan kartu kunci kamar yang rusak.
“Dia tidak akan dalam masalah kan?” wajah Adele tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Kau bercanda ya? Dengan tingkat IQ dan bakat kakakmu, kau pikir dia bisa mendapatkan masalah? Aku akan lebih percaya bahwa dia akan membuat orang lain dalam masalah.”
Prisilia lalu memikirkan Patrick—kakak sekaligus kembarannya lalu menghela nafas panjang, “Aih… jika dibandingkan dengan Patrick, aku sungguh iri dengan saudara-saudaramu.”
“Sungguh dunia tidak adil. Jika bukan karena aku tidak sengaja menguping pembicaraan ayahku dengan kakakku mengenai sosok Julian yang ternyata adalah kakakmu, aku sungguh akan memprotes bagaimana Dewa menciptakan kau dan Arthur dengan bakat seperti itu. Tapi sepertinya keluarga kalian memang memiliki gen unggul.”
“Hah?” Adele berkedip polos.
“Coba kau lihat, kau memiliki kakak tertua di akademi Royal yang aku bahkan baru tahu bahwa dia juga jenius disana. Lalu kau memiliki kakak Arthur eh tunggu,” tiba-tiba Prisilia teringat akan hal besar yang baru saja dia katakan. Dia menatap Adele dengan seksama,
“Kau…dari keluarga kerajaan?” tebak Prisilia. Akademi Royal jelas hanya menerima siswa dan siswi dari kalangan kerajaan atau memang siswa dari kalangan biasa namun memiliki bakat luar biasa. Dari penampilan Julian dan keagungannya, tidak mungkin dia berasal dari keluarga sembarangan. Jelas satu-satunya hal yang benar adalah dia berasal dari anggota keluarga kerajaan.
Adele merasa gugup mendengar tebakan gadis yang sudah dia anggap sahabatnya sejak pertemuan mereka di pendaftaran. Adele sungguh merasa takjub dengan kejelian sahabatnya ini.
“Ha-ha, jangan bercanda.” Adele berusaha mengelak. Bagaimanapun masalah latar belakang keluarganya dia dan Arthur sepakat untuk menyembunyikannya untuk menghindari banyak masalah.
“Jangan meremehkan insting dan kejeniusanku dalam hal seperti ini. Kau tidak pernah menyebutkan nama keluargamu, begitupun dengan kak Arthur. Kau juga memiliki aura yang lebih dominan dari kami meskipun kami sama-sama bangsawan. Dan satu lagi, kau memiliki simbol cincin yang kau jadikan kalung. Simbol seperti itu jelas bukan ukiran sembarangan. Hanya keluarga kerajaan yang…”
“Baiklah cukup. Kau benar, sahabatku sungguh cerdas. Baiklah aku memang bagian dari keluarga kerajaan.Kau puas?” ucap Adele memotong perkataan Prisilia.
“Wow…! aku sungguh berteman dengan seorang putri…luar biasa!”
Prisillia tidak dapat menahan berteriak dan membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kecilkan suaramu! Jangan sampai hal ini bocor.”
Prisilia menganggukkan kepala seperti anak ayam, “Aku bersumpah tidak akan membocorkannya. Tapi Adele, kenapa kau dan Arthur bersekolah disini? Ah tidak, dari keluarga mana kalian berasal?”
Setiap siswa yang berasal dari anggota kerajaan selalu menyembunyikan nama belakangnya dari dunia luar. Hanya orang-orang di anggota kerajaan saja atau akademi yang akan tahu dari keluarga mana mereka berasal. Hal itu dikarenakan nyawa mereka bisa saja terancam saat diluar oleh musuh keluarga mereka. Jadi wajar jika Prisilia tidak mengetahui latar belakang Julian selain dirinya adalah anggota keluarga kerajaan karena bersekolah di akademi Royal.
“Itu…” Adele tidak dapat mengatakan bahwa alasan dia berada disini karena dia ingin menemani Arthur agar tidak merasa terbuang dikarenakan tahun lalu Arthur masihlah terkenal sebagai limbah di dalam keluarga Dewantara.
“Baiklah-baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Jadi kenapa kau membawa koper ini? Kau bukan anak tidak mampu yang harus membawa koper kemana-mana kan? Aku dengar setiap anak dari anggota kerajaan selalu memiliki cincin spasial mereka lahir.”
“Oh, ini karena aku menyukai berjalan dengan menyeret koper. Bukankah terlihat elegan dan cantik?”
“Hah?” Prisilia merasa bahwa dia tidak dapat memahami jalan pikiran Adele. Melihat wajah polos dan senyuman bodohnya seperti itu, jelas itu jawaban yang sesungguhnya. Apa keluarga kerajaan memang seaneh ini? Batin Prisilia heran.
“Lupakan itu, berdasarkan umurmu, kau memang masih pantas berpikir seperti itu.” Prisilia genap berusia empat belas tahun pada tahun ini. Sedangkan dari Adele dia tahu bahwa gadis manis ini baru menginjak usia sebelas tahun! Sungguh luar biasa dia memiliki bakat rank-S di umur belia. Dan jika dilihat dari fisik Adele, dia memang memiliki tinggi yang sama dengan anak umur empat belas tahun. Mungkin hanya kurang satu atau dua sentimeter.Semakin memikirkannya, Prisilia semakin penasaran dengan latar bekang keluarganya. Namun dia juga tidak mau memaksa Adele untuk menjawab.
“Aku sudah besar!” Adele memprotes. Pipinya menggembung jelas tampak tidak senang.
“Siapa yang sudah besar?” sebuah suara datang dari samping mengejutkan kedua gadis itu. Dia adalah pemuda dengan rambut hitam dan mata biru bening yang dapat menghisap seseorang saat menatap mata itu. Tubuh lelaki itu tinggi dengan kulit putih bersih. Tidak seperti murid lain yang memakai seragam, pemuda itu memakai kaos rajutan kerang tinggi di tutup dengan trench coat hitam panjang. Saat pemuda itu tersenyum, Prisilia hampir saja mengeluarkan air liurnya tergoda.
“Kakak!” itu adalah teriakan spontan Adele saat menjumpai Arthur telah ada di sampingnya.
Arthur merasakan sentakan di lengannya saat sosok kecil Adele bergelayut di lengannya. Sejak dia merubah sikapnya, hubungannya dengan Adele seolah kembali saat mereka masih kecil tanpa rasa canggung. Arthur tidak dapat memungkiri bahwa dia merindukan saat-saat seperti ini. Dimana Adele akan bergantung padanya. Setidaknya dia merasa dia masih menjadi lelaki yang berguna.
“Ah selamat sore kak Arthur.” Prisilia segera bangkit dari koper milik Adele dan memberi hormat.
Arthur terbahak, “ Prisilia, umur kita sepantaran. Panggil saja namaku.” Arthur tidak dapat menahan tawanya saat melihat Prisilia begitu hormat padanya. Padahal Prisilia dalam ingatannya adalah gadis bar-bar yang selalu meremehkannya dimasa lalu.
“Hehe…sesungguhnya aku lupa kalau kita seumuran karena aku terbiasa mendengar Adele memanggilmu kakak.” itu memang benar. Namun alasan sesungguhnya Prisilia sangat menghormati Arthur adalah karena dia merasa Arthur memiliki jenis kehadiran yang kuat. Sejak kejadian di pasar, dia selalu merasa Arthur sangat melebihi kemampuan anak pada seusianya. Bahkan dia merasa kehadirannya tidak kalah dengan ayahnya sendiri!
Arthur menepuk puncak kepala Adele lembut dan berkata, “ Yah, memang orang tidak akan menyangka bahwa anak ini masih anak kecil jika tidak melihat sifat manjanya.”
“Aku bukan anak kecil! Aku bahkan bisa mengalahkan teman-temanku saat pendaftaran.” pipi Adele kembali menggembung tidak senang, dia selalu tidak suka dianggap anak-anak oleh teman-temannya. Karena itu dia selalu menyembunyikan umurnya diantara teman-temannya. Kecuali Prisilia dan Arthur.
Arthur tertawa tidak tahan untuk tidak mencubit pipi kanan Adele yang menggembung, “ Baiklah kau bukan anak-anak tapi nona muda keluarga kita,nah sekarang ayo kita segera pulang. Kakak telah menunggu kita di penginapan.”
“Baik!”
Arthur dapat melihat gadis disampingnya melepaskan tangannya dan menarik koper kecil miliknya. Mata cerahnya memandang Arthur dan bertanya antusias,
“Ayo kita pulang! Kita akan naik apa? Bus? Walker? Tapi aku tidak mau teleportasi atau mobil pribadi. Itu tidak seru!”
Arthur mengamati Adele lalu beralih pada koper kecil yang dia pegang yang sepertinya tidak memiliki isi barang-barang penting.
“Adele, kau tidak kehilangan cincinmu kan?”
“Ah? Tidak. Kenapa?” Adele balik bertanya.
“Lalu untuk apa koper itu?”
“Oh, ini karena aku menyukai berjalan dengan menyeret koper. Bukankah terlihat elegan dan cantik kan kak?”
Itu jawaban yang sama yang dia berikan pada Prisilia. Prisilia menutupi wajahnya. Merasa malu memiliki teman seperti ini.
Arthur memiringkan kepalanya. Merasa bahwa dia mungkin terlalu tua untuk mempelajari kesukaan dan pikiran anak belasan tahun.
“Baiklah. Lakukan sesukamu, kita akan memakai bus saja.” sebenarnya Arthur ingin menggunakan teleportasi yang tak jauh dari akademi. Selain lebih cepat dan aman, juga itu lebih dekat dengan akademi. Namun melihat bagaimana Adele yang lebih antusias untuk menaiki transportasi biasa, Arthur segera mengubah pilihannya.
“Baik! Ayo kita naik bus! Kakak tahu kan bagaimana cara menaikinya?” Adele menggandeng lengan kiri Arthur dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menyeret koper Adel berceloteh sepanjang jalan. Arthur dapat merasakan kegembiraan Adele yang menyebabkannya tertular untuk tersenyum. Dia tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih pada Prisilia karena telah menemani Adele menunggunya dan berpamitan sebelum pasrah mengikuti Adele berjalan menuju halte bus.
Melihat keduanya telah berjalan pergi, Prisilia menggelengkan kepalanya. Jika saja dia tidak tahu bahwa keduanya adalah saudara, Prisilia pasti akan berpikir Arthur adalah pacar dari Adele. Kenyataan bahwa mereka kakak dan adik, Prisilia sungguh iri melihat bagaimana Arthur sangat memanjakan sahabatnya itu.
“Prisil! Apakah itu Arthur?”
“ Iya. Kenapa?”
“Itu Arthur yang masuk berita itu kan?”
“Hm…jika itu tentang bakat Rank SS, maka kau benar. Ada apa?”
“Jadi dia adalah pacar dari Adele?”
“Haha…” Prisilia merasa bahwa dia memiliki teman yang berpikiran sama dengannya. Prisilia tidak mau menjawab, jika mereka tahu Adele adalah adik Arthur, Adele pasti akan kesulitan diganggu mereka untuk mendekati Arthur. Jadi dia memilih langsung kabur dari teman-temannya dan masuk ke asrama.
“Adele, Arthur aku itu kalian sendiri yang membuat gosip! Bukan aku!” Prisilia berguman sambil terus berlari. Dia baru sadar bahwa ternyata banyak gadis bahkan senior ada di lantai bawah. Kemungkinan mereka semua tertarik saat melihat sang superstar ini menjemput adiknya.
Arthur dan Adele tidak sadar, bahwa gosip tentang pasangan jenius mulai merebak di kalangan asrama putri sejak hari ini.